Jamie Aditya: “Saya Laki-laki Terminder di Dunia!”

Ini wawancara dengan Jamie Aditya untuk rubrik 20Q yang dimuat di edisi perdana. Versi yang belum dieditnya.

Kenapa dulu memutuskan untuk tidak lagi jadi VJ MTV?

Kontraknya sih sebenarnya masih
tiga tahun lagi. Ditawarin tiga tahun lagi. Cuma, ibu saya kena kanker
payudara. Saya bilang, saya mau berhenti deh. Mama udah pindah ke Australia.
Jadi, malamnya dikasih tahu mama, besok paginya, saya berhenti. Ingin di sisi
mama. I just want to be close to mama. Ya sudah, begitu saja. Kalau tidak ada
masalah seperti itu, tidak mungkin saya berhenti. Soalnya, duitnya oke juga.
[tertawa]. Mungkin kalau sudah punya anak, mungkin tidak akan seperti itu juga.

Apakah memang Anda menetapkan batas waktu pada diri sendiri? Bahwa
sekian tahun Anda akan jadi VJ. Lalu, sekian tahun akan jadi pembawa acara yang
lain. Dan tahun lain Anda akan melakukan hal lain.

Ah tidak juga. Dannie Mc Gill kan waktu saya masuk
MTV, dia juga umurnya sudah 38 tahun.

Masuk dunia hiburan karena kebetulan atau ini sesuatu yang sudah Anda
cita-citakan sejak kecil?

Sebetulnya, saya tidak pernah
berpikir ingin jadi apa. Dari kecil, ingin jadi musikus. Saya juga lumayan
bagus menggambar, melukis. Pernah juara waktu ada lomba lukis cilik se-DKI.
Terus, keluarga saya juga banyak seniman. Kakek saya, Achdiat Kartamihardja,
bisa dibilang jamannya Aki kan teman-temannya tuh orang Renaissance, nyanyi
bisa, Aki saja maen gitar, piano, suling, kecapi, semua bisa. Nulis juga,
pencak silat. Budayawan. Dia juga menulis buku Atheis. Sepertinya bakat musik
dan menghibur dari keluarga ibu. Mang Ai juga masih…Harry Roesli maksudnya. Dia
menikah dengan anaknya Aki Babang. Dia tuh adiknya Aki Cece. [bicara dengan
logat Sunda]. Halal bi halal tuh masih bertemu musikus-musikus. Izur Muchtar
juga masih saudara. Dia tuh cucunya Aki. Keluarga saya seperti badut. Kalau
bertemu, semuanya nge-bodor. Terutama
ibu saya, dulu paling badut. Tapi di rumah, serius sekali. Pas bertemu teman
atau keluarga, dia ha ha ha ha. [tertawa].

Apa ambisi Anda?

Jadi bapak dan suami yang baik.
[tertawa]. Ingin main musik. One day, ingin punya band sendiri.

Katanya Anda pernah ikut tur kelompok musik juga ya?

Waktu tahun ’92, di Ratu Plaza ada
café The Stage, setiap Selasa dan Kamis, ada malam blues. Saya mengisi acara.
Anak-anak Potlot suka datang, Kiboud Maulana, Abadi Soesman, Luluk Purwanto,
suka jamming. Saya juga pernah ikut Krakatau tur, baru di Bandung
dan Jakarta,
tahun ’92. Trie Utami menyanyikan sepuluh lagu, saya dua lagu. Ingin terlihat
lebih modern, dengan memasukkan reggae dan rap. Pas bagian reggae, saya masuk.
[tertawa]. Sempat tur Jawa main gitar mengiringi Iwa K.

Kemarin sempat merekam duet dengan Glen Freddly ya?

Loh, tahu dari siapa? Saya lagi
hang out di studio. Tahu-tahu ada Glenn Fredly, padahal teman saya yang di
studio itu bilang, kalau ada Glenn keluar aja ya, soalnya dia mau kerja. Eh
tiba-tiba dia bilang, Jamie, kapan-kapan kita kerja bareng ya? Sekarang saja! Ya
sudah, malam itu kami merekam lagu “Good Times Bad Times”. Dulu juga sempat
bareng Humania juga. Terserah apa maumu [nyanyi sambil tertawa]. Musik puber
banget!

Masih suka nonton MTV?

Waktu di MTV juga tidak pernah
nonton. [tertawa]. Waktu saya masuk MTV, saya sedang suka musik etnik. Tidak
suka musik pop Amerika. Saya selalu bilang pada bos, musik etnik di Asia itu banyak sekali dan mereka juga punya local ethnic
pop. And the boss said, go to hell with your ethnic music! Nobody wants to
know! Awalnya, oke saya harus belajar musik pop. Setiap bulan ada yang baru.
Lama kelamaan, kok terdengar sama semua? Akhirnya, kalau saya harus wawancara
boyband misalnya, saya tahu mereka hari itu juga. Oke, ini Westlife. Dikasih
lihat biodatanya, CD-nya saya dengar. Waktu wawancara saya bilang, ‘Oh I’m a
big fan!’ [tertawa].

Kalau MTV Indonesia?

Saya lebih tertarik dengan MTV
Indonesia. Mereka support local act. Big label maupun indie, bisa masuk juga.

Beri pendapat untuk tiga eks VJ MTV ini; Ari Kuncoro, Sarah Sechan dan
Shanty!

Pokoknya semua asik! [tertawa].
Karena saya sudah lama di situ, tahu. Kelihatannya mudah, untuk orang lain
mungkin mudah. Tapi saya selalu stress di depan kamera. Akhirnya, saya harus akting.
Pura-pura jadi orang lain, baru bisa. Kalau jadi diri sendiri, saya selalu
malu. Over acting. Saya tidak bisa mengkritik pembawa acara. Soalnya saya tahu
itu susah.  

Banyak yang bilang, sebagai VJ MTV Anda tidak tergantikan. Bagaimana
pendapat Anda?

Oya? Siapa yang bilang? Kenapa
tidak kirim surat
buat bos, suruh saya kembali lagi, naikan honornya! [tertawa]. Tapi sepertinya
tidak deh. Saya tidak mungkin ke sana
lagi. Kalau di luar mungkin, umur 30-an masih ada yang nonton. Kalau di sini kan, usia puber. Saya
juga sudah kepala 3, jadi tidak pantas lagi membawakan acara puber.

Kalau diibaratkan musik, maka Jamie Aditya adalah musik apa?

Saya sih lebih suka musik soul
tahun ’70-an. Al Green, Curtis Mayfield, Sly and The Family Stone. Tapi saya
mendalami musik reggae sepuluh tahun. Hanya mendengarkan reggae.

Kalau rekaman, musik Anda akan soul juga?

Kita lihat saja nanti. Soalnya
saya sudah bicara ini sepuluh tahun. Tapi tidak jadi juga. Mungkin karena
terlalu banyak dibicarakan.

Ada yang bilang, Anda susah dicari. Apakah ini imej yang ingin Anda
ciptakan, atau memang Anda tidak ingin diganggu?

Masalahnya, saya belum punya
manajer dan belum punya agen. Terus, saya tidak suka bicara soal duit. Bagaimana
ya? Misalnya bicara pekerjaan, terus begitu dia bicara duit, saya panik. Harus
bicara apa? Waduh, tidak usah deh. Lama-lama jadi tidak ada pekerjaan.
[tertawa]. Sejak dapat istri, paling tidak ada yang bisa angkat telepon. ‘Oh
iya, Jamie mau minta segini. Ini istrinya.’ Dulu sih panik, saya tidak tahu caranya
bernegosiasi. Kan
sudah saya bilang, saya laki-laki terminder di dunia.

Anda warga negara mana sebenarnya?

I’m a… what do you call it? World
citizen. Begitu saja deh. [tertawa].

Secara hukum?

Saya tidak peduli pada hukum.
[tertawa]. Apalagi di Indonesia. Katanya Negara berdasarkan hokum, ternyata
tidak juga. Next question! [tertawa].

Bagaimana Anda memandang kondisi Indonesia sekarang?

Sebenarnya kan…Ah saya tidak mau bicara apa-apa soal
itu deh. [tertawa].

Kalau di hati Anda, bagaimana posisi Indonesia?

Saya kan anak mama, anak bungsu. Lebih dekat ke
ibu. Tahun ’74 kami pindah ke Jakarta, waktu itu
umur saya empat tahun, sekolah di Jakarta
International School
.
Tiap hari bicara dalam bahasa Inggris. Sebelas tahun tinggal di Jakarta. Selama di sini,
mungkin karena setiap hari bicara bahasa Inggris terus, jadi agak kaku bahasa
Indonesia-nya. Selama saya di sini, waktu kecil banyak hal tidak enak terjadi
dalam hidup saya. Sempat dipukuli anak-anak sekolah lain, sepulang sekolah.
Dilempar batu oleh kuli bangunan. Bule! Sana
lu! Waktu umur lima
tahun, sedang jalan-jalan di Pasar Mayestik, preman pasar meludahi muka saya. Jadi
trauma! Oh jadi saya bukan orang sini? Terus, umur lima
belas tahun kembali ke Australia,
hey Asian you! F*#&in Asia! Di sini saya Asia? Dipukuli Nazi Skin Head. Setiap kali masuk bar,
selalu ada yang memukuli saya. Saya tinggal di Canberra memang masih kampungan, jarang mix,
masih sedikit imigrannya. Bisa dibilang, saya laki-laki terminder se-Indonesia.
[tertawa]. Bertemu orang Indonesia,
minder.

Sekarang lebih banyak tinggal di mana?

Tahun ’85 kembali ke Australia.
Sempat kembali ke Jakarta tahun ’92, lalu
kembali lagi ke Sydney
tahun ’93 sampai ’96. Terus pindah ke Singapura. Tujuh tahun di sana, terus pindah lagi ke Australia. Dan sekarang, udah
sembilan bulan di sini. Kami beli tanah di Barron
Bay, dan sepertinya di sana korupsi juga. Soalnya,
waktu mau bangun rumah, seharusnya enam minggu ijinnya bisa beres. Kami sudah
satu tahun enam bulan. Setiap kali menelepon, ‘Oh iya sedang diproses. Kami
butuh report ini.’ Padahal mereka udah punya laporannya. Rincian tanah saya
sudah ada pada mereka. Setiap kali bikin report harus ada ahlinya. Bayar
ahlinya berapa ratus dollar. Sementara, mereka yang banyak uang,
tetangga-tetangga kami, datang ke sana,
memasukan aplication next week sudah dikasih. Sepertinya, saya diperas. Apa
karena saya Asia? Soalnya hanya saya yang
dipersulit. Kami sewa rumah kan di sana, dan mahal sekali. Ya
sudah, kami pindah saja ke sini, sambil nunggu aplikasi. Tapi, saya lupakan
saja tanah di sana.
Mau beli rumah di Garut saja, Pameungpeuk. [tertawa].

Katanya Anda berdarah Sunda. Kalau bisa berbahasa Sunda, peribahasa
Sunda apa yang bisa Anda ingat sekarang?

Kawit ti Garut Sumedang abdi mah.[tertawa]. Saya tidak bisa bahasa Sunda. Soalnya
besar di Jakarta.
Tapi yang selalu saya ingat sih, waktu masih kecil kan suka takut sama hantu, jadi saya selalu
diajari ini oleh Aki Encep, dug turu raga
gemuling badan turu ati eling roh madep maning Allah
. Allahu Akbar Allahu
Akbar Allahu Akbar! Tidak usah takut.
[tertawa]. Oya, sama ini peribahasa Moro Julang
Ngaleupaskeun Peusing.
[Berburu burung melepaskan trenggiling, artinya
bertaruh untuk sesuatu yang belum pasti, melepaskan yang besar kemungkinan bisa
didapat]. Waktu kecil, saya sering diasuh kakek nenek. Tahun ’60, kakek saya
pindah ke Australia,
karena ada masalah dengan Soekarno. Always keep protest against Soekarno,
bersama Mochtar Lubis. Mereka masuk penjara, Aki pergi ke Australia. Sejak tahun ’60 tidak
pernah kembali ke sini, kecuali untuk liburan. Dan kakek selalu memutar
lagu-lagu Cianjuran, kacapi suling. Biarpun tidak bisa berbahasa Sunda, saya
bisa memainkan suling. Kemarin ada halal bi halal di Bandung, ada nenek-nenek
datang. Dia bilang, ‘Jamie hebat, bahasa Sunda nggak bisa, cuma nyuling bisa.
Orang Sunda-nya mah belum tentu bisa.’ [sambil menirukan gaya bicara nenek itu]. Disuruh nyanyi juga.
[dia lantas melantunkan sinden Sunda].

Berarti sisi humoris datang dari sisi keluarga ibu?

Ya. Tapi, dari my father’s side
lumayan lucu juga. Mereka suka bernyanyi, tapi karena keturunan Irlandia
Skotlandia, peminum semua. [tertawa]. Lem keluarga itu alkohol.

Bagaimana ceritanya bisa jadi host Travel and Living? Apakah mereka
mengontak Anda begitu tau Anda keluar dari MTV? Atau Anda melamar?

Kebetulan waktu saya keluar dari
MTV, langsung ditawari oleh production house [PH] yang ingin membuat acara
untuk Discovery. It worked out nicely. Dan Discovery lebih fleksibel soal
waktu. Syuting dua minggu, off dua bulan. Jadi masih banyak waktu buat mama.
Waktu itu hanya mengerjakan delapan episode. PH-nya baru pertama kali syuting
di luar Singapura. Tidak biasa bekerja di luar negeri. Anyway, yang seharusnya
delapan episode diberi oleh Discovery, jadi dua tahun. Discovery menganggap PH
itu kurang professional. Jadi, ketika akan membuat acara itu lagi, Discovery
tidak ingin memakai PH itu lagi. Ternyata, PH itu memegang hak untuk acara itu.
Ya sudah. Berhenti deh itu show-nya. Tapi, saya masih diakui oleh Discovery,
bahwa saya ikon di sana.
Kalau ada ide untuk show baru, silakan hubungi mereka.

Anda salah satu pengisi acara di program TV Travel and Living,
fulfillment apa yang Anda dapatkan dari traveling?

Saya memang selalu suka dengan
budaya negara lain. Everytime I meet somebody, saya tahu dia dari mana asalnya.
Kalau saya lihat ada orang, sepertinya bukan dari Indonesia nih, saya tanya, dari
mana? Oh I’m from Africa. Ghana. What’s
your tribe? Ashanti.
Oh Ashanti
itu Christian atau Muslim? Nanya-nanya aja. Dan akhirnya, semua orang dari
seluruh dunia, kalau saya tahu saja, satu kalimat, ‘Halo apa kabar?’ orang
sudah senang. Mereka datang dari seluruh dunia, terus sendirian. Jauh dari
negeri asalnya. And then somebody says hi! How do you know I’m from Kenya? Soalnya
kalau orang Kenya tinggi
kurus, Ghana
besar tapi rahangnya begitu. Dengan kerja di Discovery, asik sekali. Bisa
jalan-jalan ke mana-mana, bertemu kebudayaan baru.

Ada gossip, Anda pernah mengerjai stasiun radio di Bandung, dengan
menelepon mereka dan mengaku sebagai Kirk Hammett dari Metallica. Benar?

Betul. Soalnya waktu itu,
Metallica kan
pernah main di Jakarta. Sempat didatangi orang-orang radio. Wawancara di hotel.
Waktu itu, saya sedang belajar suling Sunda di Bandung. Menginap di rumah
sepupu saya, Firman. Itu ide dia. Bagaimana kalau kamu menelepon mereka,
pura-pura  sedang berlibur di Bali, mau
keep in touch dengan radio-radio di Indonesia. Terus, saya nelepon, hi
this is Kirk Hammet. ‘Siapa? Oh Kirk Hammett! What are you doing in Indonesia?’
Oh I’m here in Bali. We’ve just been recording
our new album, and we’re really tired. I’m just like to keep in touch with the
media. Promote our new album. Mungkin ada sepuluh tahun mereka tidak tahu soal
itu. Sempat juga, fans Metallica minta diputar lagi wawancara dengan Kirk
Hammett. [tertawa].

Seandainya ditawari jadi pembawa acara di program berita ekonomi, yang
harus memakai jas—dengan bayaran yang sama, apakah Anda bersedia?

Saya mau coba cari duit dari
acting atau musik. Kalau belum bisa, saya mau juga sih. Pilihan terakhir lah.
Kalau sudah broke, baru mau. [tertawa]. Naked news mungkin? Sepertinya asik.

Pernah membayangkan bagaimana rasanya kerja kantoran, 9 to 5?

Saya pernah kerja di kantor pos,
memakai seragam. Kalau bekerja kantoran sih, sepertinya tidak mungkin. Siapa
juga yang mau mempekerjakan saya? Tidak ada bakat. Bakatnya hanya membuat orang
tertawa. Di sekolah juga begitu. Secara akademis kurang bagus. Nakal juga. Dari
dulu hanya bisa ngebodor. Berapa kali disuruh keluar kelas. Guru saya bilang,
‘Nanti kalau sudah besar mau jadi apa? Mau jadi badut?’ Akhirnya benar juga.
Jadi badut. [tertawa].

Apa kompromi terbesar Anda setelah menikah?

Waktu baru menikah sih, masih sama
seperti pacaran. Sejak baby keluar, saya sudah tidak gerak badan lagi, olahraga
lagi, maen musik lagi. Baru sekarang, sejak kembali ke Indonesia, dan dia sudah tiga
tahun, bisa ditinggal di rumah.

Waktu dihubungi untuk wawancara, Anda bilang istri Anda ingin melihat
Anda memakai pakaian rapi, memang Anda tipe orang yang lebih nyaman memakai
t-shirt?

Saya beli baju, waktu masuk MTV
saja, ada duit. Sejak itu, tidak pernah beli baju lagi. Istri saya bilang,
‘Beli lagi baju baru dong. Sudah sepuluh tahun pakai baju itu terus, sudah
berlubang tuh!

Anda dulu dikenal sebagai Jamie si Anak Ajaib, disejajarkan dengan
kehidupan dan pencapaian seorang Jamie Aditya sekarang, apakah sebutan itu
sudah pantas?

Wah tidak tahu ya. Itu terserah
yang melihat saya. Menurut Anda bagaimana? Ajaib tidak? [tertawa grogi].

Anda bermain gitar ya. wah, ego gitaris kan besar tuh.

Ya. biasanya gitaris tuh penisnya
kecil, makanya egonya besar. Makanya kalau main gitar…[menirukan suara petikan
gitar]. Tapi bukan berarti penis saya kecil. [tertawa]. Ukuran sepatu aja 13.
Ayah bule. Biar seluruh Indonesia
tahu, kaki saya besar! [terbahak]

Kalau Anda diangkat jadi menteri Pariwisata dan Kesenian, apa yang
akan Anda terapkan dan wujudkan bagi Indonesia?

Lebih banyak promosi di luar. Soalnya,
saya baca di Muangthai, setelah tsunami malah bertamah turisnya. Ternyata mereka
menghabiskan biaya promosi yang besar sekali, US$ 60 juta. Mereka naik terus,
tapi Indonesia
malah turun terus. Terus orang bilang, di sini kan banyak bom? Eh di Thailand juga banyak
bom. Tapi tetap saja banyak turis datang.

Seandainya Anda bisa bertemu dengan SBY, apa yang akan Anda katakan
padanya?

Apa ya? Sepertinya banyak sekali
tuh yang bisa dikatakan. Indonesia
sih dari dulu masalahnya selalu sama. Apa ya? Ah tidak usah bicara politik ah.
Paling saya bilang, eh Pak SBY, katakan tuh sama Jusuf Kalla, Playboy tuh no
problem! [tertawa].

Dicari: Kritikus Musik Lokal!

Ini bukan kritik. Ini hanya unek-unek.

Suatu hari, seorang kawan mengeluh. Album kompilasi yang dia produksi, tidak mendapat review yang asik dari salah satu majalah musik ibukota. Tidak. Bukan karena dibilang buruk. Tapi, si penulis review hanya mendeskripsikan kelompok musik serta alirannya. Tanpa mengatakan dengan jelas kualitas album itu.

Saya hanya cengengesan mendengar keluhan dia. Sebagai jurnalis, saya tau kalau menulis review itu salah satu pekerjaan yang tidak mudah. Tapi, saya juga tau rasanya jadi pembaca. Orang berharap penulis review bisa memberi gambaran apakah album itu bagus atau tidak.

Lantas saya teringat kata salah satu narasumber skripsi saya soal majalah musik di Indonesia. Salah satu penyebab tidak banyak majalah musik yang bertahan lama, karena kurangnya kritikus musik. Coba saja, sekarang kalau kamu ditanya siapa jurnalis atau kritikus musik asal Indonesia yang cukup disegani, apakah kamu bisa menjawabnya? Saya rasa agak susah.

Era ’70-an nama Remy Sylado pernah menempati posisi itu ketika aktif. Denny MR juga pernah berjaya di masa keemasan majalah Hai di era ’90-an. Tapi sekarang? Oke, ada beberapa nama seperti Denny Sakrie yang cukup disegani di kalangan tersendiri. Hanya, harus diakui Indonesia tidak punya kritikus musik sekelas Lester Bangs misalnya. Jurnalis-jurnalis muda dari Rolling Stone Indonesia sepertinya punya kesempatan untuk jadi kritikus/jurnalis musik yang disegani. Tapi, waktu yang akan menjawabnya.

Andreas Harsono, Ketua Yayasan Pantau [yayasan yang menaruh perhatian besar terhadap jurnalisme] berkata pada saya suatu hari, “Salah satu penyebab jurnalisme musik di Indonesia tidak berkembang, karena tidak ada independensi. Wartawan musik merangkap humas si musisi. Jadi penyelenggara konferensi pers. Hobinya kan reporter juga humas, talent seeker dan teman artis.”

Ucapan dia mengingatkan saya pada perkataan Lester Bangs di film Almost Famous. “You made friends with them. See, friendship is the booze they feed you. They want you to get drunk on feeling like you belong…I know you think those guys are your friends. You wanna be a true friend to them? Be honest, and unmerciful,” kata Bangs kepada jurnalis muda bernama William Miller.

Sekarang, jangan bermimpi dulu kita disuguhkan oleh kolom musik yang berkelas, review album atau review konser yang memikat saja masih jarang. Coba, kapan terakhir kamu membaca review penulis lokal hingga membuat kamu tergerak membeli album yang direview dia? Atau, kapan terakhir kamu baca kolom musik di majalah lokal? Majalah musik terbitan luar biasanya punya ruang untuk kolom musik. Dari ruang-ruang itulah, kritikus musik yang disegani, muncul. Bukan cuma review, pelaporan mendalam soal musik dengan standar jurnalisme yang tinggi malah datang dari media yang bukan berbasis musik.

Lantas, soal berteman dengan narasumber. Itu bukan sesuatu yang buruk. Hanya, maksud dari perkataan Lester dan Andreas, adalah jangan lantas jurnalis menjadi tidak independen. Tapi, ini juga masih kurang dipahami beberapa musisi lokal. Saya punya pengalaman soal ini. Vokalis band yang musiknya terpengaruh kuat era ’80-an pernah bertanya pada teman saya, setelah album terakhir band itu saya tulis jelek. “Si Soleh kok bilang album gue jelek ya? Kan dia kenal gue,” katanya. Lagi-lagi, saya hanya bisa cengengesan mendengar cerita teman saya. Secara musikalitas mereka memang makin menurun. Lebih bagus jadi MC. Kurang diskusi. Kalau kamu sudah tau band mana yang saya maksud, mungkin kamu juga setuju dengan saya. Kecuali tentu saja kamu bagian dari banyak perempuan yang belakangan jadi penggemar band itu.

Bahkan kelompok musik dengan basis massa yang sangat besar pun, pernah kesal karena di salah satu edisi majalah tempat saya bekerja dulu, dikritik video klip mereka yang buruk. Sempat terjadi ‘keributan’ di kantor manajemen mereka setelah tulisan itu dimuat. Pernah, di tahun 2001, vokalis pemuja Kahlil Gibran meminta salah satu tabloid menulis ulang profil dia. Setelah sebelumnya penulis musik di sana mengritik betapa album solo dan album band dia tidak jauh berbeda.

Saya percaya, tidak ada benar dan salah dalam musik. Maksudnya, walaupun katanya cuma ada dua musik—baik dan buruk—lagi-lagi, itu masih relatif. Ini bukan ilmu pasti. Tapi, kritik musik harusnya bisa menjadi sesuatu yang bisa dipikirkan musisi lokal. Supaya bisa lebih baik lagi dalam berkarya. Mungkin musisi lokal masih harus belajar menghadapi kritik. Mungkin juga jurnalis-jurnalis musik lokal harus banyak belajar membuat tulisan soal musik yang lebih baik lagi.

Termasuk saya tentunya.

*saya menyumbangkan tulisan di atas untuk edisi perdana majalah Encore. Majalah indie terbitan anak-anak Bandung.

Dicari: Kritikus Musik Lokal!


Ini bukan kritik. Ini hanya unek-unek.

Suatu hari,
seorang kawan mengeluh. Album kompilasi yang dia produksi, tidak mendapat
review yang asik dari salah satu majalah musik ibukota. Tidak. Bukan karena
dibilang buruk. Tapi, si penulis review hanya mendeskripsikan kelompok musik
serta alirannya. Tanpa mengatakan dengan jelas kualitas album itu.

Saya
hanya cengengesan mendengar keluhan dia. Sebagai jurnalis, saya tau kalau
menulis review itu salah satu pekerjaan yang tidak mudah. Tapi, saya juga tau
rasanya jadi pembaca. Orang berharap penulis review bisa memberi gambaran
apakah album itu bagus atau tidak.

Lantas
saya teringat kata salah satu narasumber skripsi saya soal majalah musik di Indonesia.
Salah satu penyebab tidak banyak majalah musik yang bertahan lama, karena
kurangnya kritikus musik. Coba saja, sekarang kalau kamu ditanya siapa jurnalis
atau kritikus musik asal Indonesia
yang cukup disegani, apakah kamu bisa menjawabnya? Saya rasa agak susah.

Era
’70-an nama Remy Sylado pernah menempati posisi itu ketika aktif. Denny MR juga
pernah berjaya di masa keemasan majalah Hai di era ’90-an. Tapi sekarang? Oke,
ada beberapa nama seperti Denny Sakrie yang cukup disegani di kalangan
tersendiri. Hanya, harus diakui Indonesia
tidak punya kritikus musik sekelas Lester Bangs misalnya. Jurnalis-jurnalis
muda dari Rolling Stone Indonesia sepertinya punya kesempatan untuk jadi
kritikus/jurnalis musik yang disegani. Tapi, waktu yang akan menjawabnya.

Andreas
Harsono, Ketua Yayasan Pantau [yayasan yang menaruh perhatian besar terhadap
jurnalisme] berkata pada saya suatu hari, “Salah satu penyebab jurnalisme musik
di Indonesia
tidak berkembang, karena tidak ada independensi. Wartawan musik merangkap humas
si musisi. Jadi penyelenggara konferensi pers. Hobinya kan reporter juga humas, talent seeker dan teman artis.”

Ucapan
dia mengingatkan saya pada perkataan Lester Bangs di film Almost Famous. “You made friends with them. See, friendship
is the booze they feed you. They want you to get drunk on feeling like you
belong…I know you think those guys are your friends. You wanna be a true friend
to them? Be honest, and unmerciful
,” kata Bangs kepada jurnalis muda
bernama William Miller.

Sekarang,
jangan bermimpi dulu kita disuguhkan oleh kolom musik yang berkelas, review
album atau review konser yang memikat saja masih jarang. Coba, kapan terakhir
kamu membaca review penulis lokal hingga membuat kamu tergerak membeli album
yang direview dia? Atau, kapan terakhir kamu baca kolom musik di majalah lokal?
Majalah musik terbitan luar biasanya punya ruang untuk kolom musik. Dari
ruang-ruang itulah, kritikus musik yang disegani, muncul. Bukan cuma review, pelaporan
mendalam soal musik dengan standar jurnalisme yang tinggi malah datang dari
media yang bukan berbasis musik.

Lantas,
soal berteman dengan narasumber. Itu bukan sesuatu yang buruk. Hanya, maksud
dari perkataan Lester dan Andreas, adalah jangan lantas jurnalis menjadi tidak independen.
Tapi, ini juga masih kurang dipahami beberapa musisi lokal. Saya punya
pengalaman soal ini. Vokalis band yang musiknya terpengaruh kuat era ’80-an
pernah bertanya pada teman saya, setelah album terakhir band itu saya tulis
jelek. “Si Soleh kok bilang album gue jelek ya? Kan dia kenal gue,” katanya. Lagi-lagi, saya
hanya bisa cengengesan mendengar cerita teman saya. Secara musikalitas mereka
memang makin menurun. Lebih bagus jadi MC. Kurang diskusi. Kalau kamu sudah tau
band mana yang saya maksud, mungkin kamu juga setuju dengan saya. Kecuali tentu
saja kamu bagian dari banyak perempuan yang belakangan jadi penggemar band itu.

Bahkan kelompok
musik dengan basis massa yang sangat besar pun, pernah kesal karena di salah
satu edisi majalah tempat saya bekerja dulu, dikritik video klip mereka yang buruk.
Sempat terjadi ‘keributan’ di kantor manajemen mereka setelah tulisan itu
dimuat. Pernah, di tahun 2001, vokalis pemuja Kahlil Gibran meminta salah satu
tabloid menulis ulang profil dia. Setelah sebelumnya penulis musik di sana
mengritik betapa album solo dan album band dia tidak jauh berbeda.

Saya percaya,
tidak ada benar dan salah dalam musik. Maksudnya, walaupun katanya cuma ada dua
musik—baik dan buruk—lagi-lagi, itu masih relatif. Ini bukan ilmu pasti. Tapi,
kritik musik harusnya bisa menjadi sesuatu yang bisa dipikirkan musisi lokal.
Supaya bisa lebih baik lagi dalam berkarya. Mungkin musisi lokal masih harus
belajar menghadapi kritik. Mungkin juga jurnalis-jurnalis musik lokal harus
banyak belajar membuat tulisan soal musik yang lebih baik lagi.

Termasuk saya
tentunya.

*saya menyumbangkan tulisan di atas untuk edisi perdana majalah Encore. Majalah indie terbitan anak-anak Bandung.

Pemberian Anugerah [Selalu] Tidak Meriah

Malam tadi, ada Anugerah Video Musik 2006 di Indosiar.

Seperti banyak acara serupa di Indonesia, acara itu tidak meriah. Malah, sepertinya yang paling tidak meriah dari sekian banyak malam pemberian anugerah lokal. Acara malam tadi, membuat Penghargaan MTV Indonesia jadi luar biasa meriah. Padahal, event MTVI itu cukup membosankan.

Kalau mau dibandingkan dengan produk Indosiar yang lain, pemberian anugerah tadi malam masih kalah meriah dibandingkan Gebyar BCA atau Pesta.

Setelah Ari Untung dan Andhara Early memberi kata pembuka, The Upstairs jadi yang pertama tampil di Anugerah Video Musik 2006. Mengecewakan. Karena mereka tidak tampil langsung. Hanya playback. Acara pemberian anugerah kok, dibuka dengan seperti itu.

Ternyata, bukan mereka satu-satunya yang seperti itu. Penampil lain seperti Steven & The Coconutreez, Shanty hingga Naff semuanya tidak bermain live. Saya tidak ingat siapa lagi penampil yang lainnya. Mungkin hanya Batman yang malam itu mengeluarkan suaranya lewat minus one yang diputar.

Jangan berharap ada tepuk tangan meriah. Acara serupa yang biasa digelar stasiun TV lokal, dengan banyak penonton pun, sering tidak meriah. Apalagi ini. Banyak kursi kosong. Belum lagi, kualitas pembaca anugerah yang juga tidak bisa menutupi kekurangan acara itu. Mereka pemain sinetron, model video klip atau penyanyi yang dipasang-pasangkan. Ya kamu tau lah, tipikal acara seperti itu.

Dua orang mencoba melucu sebelum masuk ke pembacaan nominasi. Tapi, bahkan mereka pun saya rasa tau, kalau mereka tidak bisa mengeluarkan dialog yang segar. Rasanya kita masih butuh banyak penulis naskah yang baik untuk acara seperti ini. Yang bisa membuat dialog-dialog yang asik.

Nominasinya? Ini yang saya ingat; video klip Dewa 19 yang Dhani berambut mohawk, Agnes yang jarinya dan jari pacarnya berdarah, Shanty yang bilang tak ada lagi lelaki seperti dia, Peterpan yang Arielnya jadi penjahat, serta Ungu yang hujan-hujanan. Rizal Mantovani membawa pulang banyak piala malam itu. Saya lupa tepatnya.

Shanty dapat penghargaan khusus juri. Entah apa yang dimaksud penghargaan khusus itu. Entah apa kriterianya. Yang jelas, Ketua Jurinya; Bens Leo! Ah, melihat dia saya jadi takut. Maksudnya, takut jadi seperti Bens Leo kalau sudah berkarir lama jadi jurnalis. Bicara musik di mana-mana. Seolah-olah dia yang paling tau soal musik. Padahal…ya kamu jawab sendiri lah.

The Adams untuk lagu “Waiting” dapat penghargaan untuk kategori video musik indie. Cukup menggembirakan sebenarnya. Walaupun videonya tidak sesering video Dewa 19 dkk diputar di televisi. “Piala ini sepertinya bagus buat dipajang di rumah. Henry Foundation ini sutradara muda handal. Jadi hati-hatilah kalian,” kata Ale, gitaris The Adams, sambil cengengesan malam itu ketika menerima piala.

Saya tidak tau apa yang dirasakan mereka yang mendapat anugerah. Wajah Shanty, Rizal Mantovani, Ale dan Batman sih, sepertinya girang. Tapi saya masih kurang puas. Walaupun niatnya baik, menghargai video musik lokal, tapi dengan menggelar acara yang seperti kurang persiapan itu, sama saja jadinya kurang menghargai.

Dalam pidatonya, Bens Leo berkata soal sudah jarang acara seperti itu digelar. Blablabla. Dia berterimakasih pada Indosiar telah menggelar acara itu. Kata Leo, video klip sudah jarang diputar di televisi. Kalaupun diputar, seringkali tidak penuh–pengecualian untuk MTV tentunya.

Nah itu sebenarnya yang paling penting! Jangan dulu mengadakan acara penganugerahan video klip musik lah. Kalau stasiun TV nya pun masih belum sering memutar video. Kalau perlu, berikanlah potongan harga untuk perusahaan rekaman yang ingin video musiknya diputar.

Jangan biarkan MTV Indonesia satu-satunya stasiun TV pemutar video klip. Kalau stasiun TV lain kembali menayangkan banyak video klip, mungkin MTVI bakal membuat acara kreatif lainnya. Supaya acaranya tidak membosankan seperti sekarang. Dengan satu-satunya kekuatan mereka, memutar video klip musik. Walaupun sepanjang hari, yang diputar itu lagi itu lagi.

Ah jadi melantur.

Pemberian Anugerah [Selalu] Tidak Meriah

Malam tadi, ada Anugerah Video Musik 2006 di Indosiar.



Seperti
banyak acara serupa di Indonesia, acara itu tidak meriah. Malah,
sepertinya yang paling tidak meriah dari sekian banyak malam pemberian
anugerah lokal. Acara malam tadi, membuat Penghargaan MTV Indonesia
jadi luar biasa meriah. Padahal, event MTVI itu cukup membosankan.




Kalau
mau dibandingkan dengan produk Indosiar yang lain, pemberian anugerah
tadi malam masih kalah meriah dibandingkan Gebyar BCA atau Pesta.




Setelah
Ari Untung dan Andhara Early memberi kata pembuka, The Upstairs jadi
yang pertama tampil di Anugerah Video Musik 2006. Mengecewakan. Karena
mereka tidak tampil langsung. Hanya playback. Acara pemberian anugerah
kok, dibuka dengan seperti itu.




Ternyata, bukan mereka
satu-satunya yang seperti itu. Penampil lain seperti Steven & The
Coconutreez, Shanty hingga Naff semuanya tidak bermain live. Saya tidak
ingat siapa lagi penampil yang lainnya. Mungkin hanya Batman yang malam
itu mengeluarkan suaranya lewat minus one yang diputar.




Jangan
berharap ada tepuk tangan meriah. Acara serupa yang biasa digelar
stasiun TV lokal, dengan banyak penonton pun, sering tidak meriah.
Apalagi ini. Banyak kursi kosong. Belum lagi, kualitas pembaca anugerah
yang juga tidak bisa menutupi kekurangan acara itu. Mereka pemain
sinetron, model video klip atau penyanyi yang dipasang-pasangkan. Ya
kamu tau lah, tipikal acara seperti itu.




Dua orang mencoba
melucu sebelum masuk ke pembacaan nominasi. Tapi, bahkan mereka pun
saya rasa tau, kalau mereka tidak bisa mengeluarkan dialog yang segar.
Rasanya kita masih butuh banyak penulis naskah yang baik untuk acara
seperti ini. Yang bisa membuat dialog-dialog yang asik.




Nominasinya?
Ini yang saya ingat; video klip Dewa 19 yang Dhani berambut mohawk,
Agnes yang jarinya dan jari pacarnya berdarah, Shanty yang bilang tak
ada lagi lelaki seperti dia, Peterpan yang Arielnya jadi penjahat,
serta Ungu yang hujan-hujanan. Rizal Mantovani membawa pulang banyak
piala malam itu. Saya lupa tepatnya.




Shanty dapat penghargaan
khusus juri. Entah apa yang dimaksud penghargaan khusus itu. Entah apa
kriterianya. Yang jelas, Ketua Jurinya; Bens Leo! Ah, melihat dia saya
jadi takut. Maksudnya, takut jadi seperti Bens Leo kalau sudah berkarir
lama jadi jurnalis. Bicara musik di mana-mana. Seolah-olah dia yang
paling tau soal musik. Padahal…ya kamu jawab sendiri lah.




The
Adams untuk lagu “Waiting” dapat penghargaan untuk kategori video musik
indie. Cukup menggembirakan sebenarnya. Walaupun videonya tidak
sesering video Dewa 19 dkk diputar di televisi. “Piala ini sepertinya
bagus buat dipajang di rumah. Henry Foundation ini sutradara muda
handal. Jadi hati-hatilah kalian,” kata Ale, gitaris The Adams, sambil
cengengesan malam itu ketika menerima piala.




Saya tidak tau apa
yang dirasakan mereka yang mendapat anugerah. Wajah Shanty, Rizal
Mantovani, Ale dan Batman sih, sepertinya girang. Tapi saya masih
kurang puas. Walaupun niatnya baik, menghargai video musik lokal, tapi
dengan menggelar acara yang seperti kurang persiapan itu, sama saja
jadinya kurang menghargai.




Dalam pidatonya, Bens Leo berkata
soal sudah jarang acara seperti itu digelar. Blablabla. Dia
berterimakasih pada Indosiar telah menggelar acara itu. Kata Leo, video
klip sudah jarang diputar di televisi. Kalaupun diputar, seringkali
tidak penuh–pengecualian untuk MTV tentunya.




Nah itu sebenarnya
yang paling penting! Jangan dulu mengadakan acara penganugerahan video
klip musik lah. Kalau stasiun TV nya pun masih belum sering memutar
video. Kalau perlu, berikanlah potongan harga untuk perusahaan rekaman
yang ingin video musiknya diputar.




Jangan biarkan MTV Indonesia
satu-satunya stasiun TV pemutar video klip. Kalau stasiun TV lain
kembali menayangkan banyak video klip, mungkin MTVI bakal membuat acara
kreatif lainnya. Supaya acaranya tidak membosankan seperti sekarang.
Dengan satu-satunya kekuatan mereka, memutar video klip musik. Walaupun
sepanjang hari, yang diputar itu lagi itu lagi.




Ah jadi melantur.

Setahun Sudah

17 Agustus.

Hari bersejarah buat saya dan pacar. Yah kamu tau lah maksud saya. Tidak perlu diterangkan lebih detil lagi. Hehe. Setahun lalu, hidup saya berubah. Pencarian itu akhirnya berhenti juga. Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya terjawab juga. Tidak ada lagi masa lalu yang menghantui. Tidak ada lagi dendam. Dan yang jelas, tidak ada lagi rasa sepi. Alhamdulillah.

Kata seorang teman, blog saya isinya kisah cinta melulu. Saya tidak tau benar tidaknya. Dia juga tidak bisa menyajikan saya data yang pasti. Berapa perbandingan tulisan soal pacar dan tulisan lain. Mungkin kamu bisa menjawabnya.

Setahun ini sangat menyenangkan. Ini bukti lagi kalau Gusti Alloh Maha Adil. Hehehe. Mudah-mudahan terus begitu. Itu yang saya inginkan. Bete-bete kecil sih, saya anggap seperti lubang di jalan yang sedang kami tempuh. Ah saya tidak ingin menulis lebih banyak lagi. Takut jadi tulisan cinta-cintaan lagi. Saya cuma ingin membaginya dengan kamu.

Doakan kami supaya terus lancar ya.

Setahun Sudah

17 Agustus.

Hari bersejarah buat saya dan pacar. Yah kamu tau
lah maksud saya. Tidak perlu diterangkan lebih detil lagi. Hehe.
Setahun lalu, hidup saya berubah. Pencarian itu akhirnya berhenti juga.
Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya terjawab juga. Tidak ada lagi masa
lalu yang menghantui. Tidak ada lagi dendam. Dan yang jelas, tidak ada
lagi rasa sepi. Alhamdulillah.

Kata seorang teman, blog saya
isinya kisah cinta melulu. Saya tidak tau benar tidaknya. Dia juga
tidak bisa menyajikan saya data yang pasti. Berapa perbandingan tulisan
soal pacar dan tulisan lain. Mungkin kamu bisa menjawabnya.

Setahun
ini sangat menyenangkan. Ini bukti lagi kalau Gusti Alloh Maha Adil.
Hehehe. Mudah-mudahan terus begitu. Itu yang saya inginkan. Bete-bete
kecil sih, saya anggap seperti lubang di jalan yang sedang kami tempuh.
Ah saya tidak ingin menulis lebih banyak lagi. Takut jadi tulisan
cinta-cintaan lagi. Saya cuma ingin membaginya dengan kamu.

Doakan kami supaya terus lancar ya.

Sepuluh Film Musikal Favorit

Ini terlintas tadi subuh. Ketika mendengarkan album At Folsom Prison-nya Johnny Cash. Saya mencoba mengingat-ingat, film musikal apa yang paling berkesan buat saya. Dan inilah daftarnya.

  1. Grease [1978]. Sutradara: Randal Kleiser. Pemain: John Travolta [Danny Zuko], Olivia Newton-John [Sandy Olsoon]. Ini film yang membuat saya mencintai rock n’ roll music. Waktu SD–saya lupa tepatnya–RCTI sering memutar video klip dari soundtracknya. Dan saya langsung jatuh cinta. Karena film ini saya jadi memakai black leather jackets. Sebelum saya menyukai The Ramones, saya memang sudah memakai jaket kulit. Film ini punya segala yang dibutuhkan untuk menghibur saya. Musik, tarian yang tidak membuat lelaki terlihat feminin, dan cerita dengan tema kehidupan remaja. Lengkap dengan dandanan para greasers yang membuat Soleh kecil terpana. Haha.
  2. The Doors [1991]. Sutradara: Oliver Stone. Pemain: Val Kilmer [Jim Morrison], Meg Ryan [Pamela Courson]. Dua hal yang membuat film ini begitu menarik buat saya; The Doors dan Meg Ryan. Val Kilmer memainkan perannya sebagai Jim dengan sangat memikat. Rasanya tidak ada aktor lain yang lebih tepat kebagian peran itu. Dan Meg Ryan. Saya selalu suka Meg Ryan. Plus, saya selalu suka perempuan berambut lurus panjang. Nah, di film itu Meg Ryan memenuhi semua impian saya tentang perempuan cantik dalam rock n’ roll. Sejak adegan pembuka, film itu sudah begitu menarik buat saya. Gurun. Jim kecil dalam mobil. Indian yang mati. Lagu Riders On The Storm.
  3. Walk the Line [2005]. Sutradara: James Mangold. Pemain: Joaquin Phoenix [Johnny Cash], Reese Witherspoon [June Carter]. Ini yang membuat saya mencari album At Folsom Prison. Sebelum saya menonton film ini, saya tidak ingin mencari tahu lebih banyak soal Johnny Cash. Makanya, saya tempatkan film ini di nomer tiga. Melihat penampilan Phoenix di film ini, saya dapat kesan yang sama dengan melihat penampilan Val Kilmer di The Doors. Phoenix adalah aktor yang tepat. Plus, dia menyanyikan ulang lagu-lagu Cash di film itu. Dan suaranya, sama menariknya dengan penampilan dia di sana. Adegan pembukanya juga sama menarik dengan pembuka film The Doors. Folsom Prison. Intro Walk the Line. Johnny Cash sedang merenung sambil melihat alat pemotong kayu. Sipir menyapa Cash. “M-Mr Cash? M-Mr Cash?” Dan kalimat favorit saya di film itu, adalah setiap kali Cash ditanya soal pakaian hitamnya. “What with the black? He’s look like he’s going to funeral” Yang selalu dijawab Cash, dengan singkat, “Well maybe I am.”
  4. Almost Famous [2000]. Sutradara: Cameron Crowe. Pemain: Patrick Fugit [William Miller], Kate Hudson [Penny Lane]. Rock n’ roll dan jurnalistik ada di film ini. Fiksi, tapi diilhami kehidupan nyata. Salah satu mimpi saya adalah jadi rock journalist. Dulu, juga sempat punya keinginan jadi jurnalis Rolling Stone. Plus, saya selalu suka tahun ’70-an. Makanya saya sangat menyukai film ini.
  5. This is Spinal Tap [1984]. Sutradara: Rob Reiner. Pemain: Rob Reiner [Marty DiBergi], Harry Shearer [Derek Smalls], Christopher Guest [Nigel Tufnel], Michael McKean [David St Hubbins]. Rockumentary Heavy Metal band fiksi bernama Spinal Tap. Saya suka film ini karena mengolok-olok rock n’ roll. Parodi yang asik. Beberapa adegan yang berkesan; adegan ketika salah seorang dari mereka mengeluarkan pisang dari dalam celananya, supaya ukurannya terlihat lebih besar, adegan bermain gitar dengan menggesekkan biola yang juga parodi untuk Jimmy Page, panggung dengan latar Stonehenge, serta volume yang mencapai angka 11.
  6. Still Crazy [1998]. Sutradara; Brian Gibson. Pemain: Billy Connolly [Hughie], Timothy Spall [David ‘Beano’ Baggot], Bill Nighy [Ray Simms], Bruce Robinson [Brian Lovell]. Yang ditawarkan film ini sebenarnya mirip dengan yang ditawarkan Spinal Tap. Cuma, saya suka film ini karena ceritanya. Strange Fruit, yang pernah jaya, dan mencoba peruntungannya kembali. Saya dan teman-teman sering mengasosiasikan Strange Fruit dengan kelompok musik yang pernah kami bentuk semasa kuliah. Setahun kami cukup berjaya di panggung-panggung kampus. Banyak anak terkena propaganda kami, hingga mau datang menonton dan membeli kaos. Tapi ya begitu. Kami melakukannya di tahun terakhir di kampus. Berjaya sebentar. Setelah itu hilang. Dan kadang keinginan untuk merasakan masa keemasan itu masih ada. Seperti juga yang coba ditampilkan Still Crazy.
  7. Airheads [1994]. Sutradara: Michael Lehmann. Pemain: Brendan Fraser [Chazz Darvey], Steve Buschemi [Rex], Adam Sandler [Pip]. Mereka adalah personel The Lone Rangers yang putus asa hingga mengambil alih stasiun radio dan menyandera pegawainya supaya lagu mereka bisa diputar. Benar-benar menghibur. Judul dan cerita sangat sejalan. Dan tiga orang itu memang cocok memerankan karakter yang konyol. Ceritanya sih Hollywood sekali. Berakhir bahagia. Jagoan menang. Ada satu adegan yang menarik. Ketika mereka meminta polisi mendatangkan orang dari label untuk mendengarkan demo mereka. Baru sampai di pintu, Chazz memberi satu pertanyaan penting untuk orang itu. Soal ada di pihak mana orang itu dalam kasus pisahnya David Lee Roth dari Van Halen. Ketika dia memilih Van Halen, Chazz langsung tau orang itu polisi. Serta satu dialog lagi ketika Chazz dan Rex mengetes orang itu. “Who’d win in a wrestling macth, Lemmy or God?” Mula-mula orang itu menjawab Lemmy, tapi ragu, dan pelan-pelan menjawab God. Rex menjawab, “Wrong dickhead, trick question. Lemmy is God.”
  8. Ray [2004]. Sutradara: Taylor Hackford. Pemain: Jamie Foxx [Ray Charles]. Film ini tidak sampai membuat saya ingin mencari tau lebih lanjut soal Ray Charles, atau mencari album-album Ray memang. Tapi, saya sangat suka ceritanya. Dan Foxx bermain dengan baik sebagai Ray di sini. Film musikal yang baik. Itu saja.
  9. High Fidelity [2000]. Sutradara: Stephen Frears. Pemain: John Cusack [Rob Gordon], Iben Hjejle [Laura], Todd Louiso [Dick], Jack Black [Barry]. Ini cerita tentang pecinta musik yang juga pemilik toko CD. Ditinggalkan pacarnya, Laura. Rob membuat banyak daftar di sini. Kenapa dia putus. Apa yang Rob ingin lakukan dalam hidup. Serta membuat mix tapes. Di sini, ada adegan soal bagaimana trik membuat mix tapes yang baik, supaya kualitas audionya tidak banyak berkurang. Cerita cinta, dengan nuansa musikal yang kuat.
  10. Velvet Goldmine [1998]. Sutradara: Todd Haynes. Pemain: Ewan McGregor [Curt Wild], Jonathan Rhyes Meyers [Brian Slade], Christian Bale [Arthur Stuart]. Ini juga fiksi, tapi diilhami dari kehidupan nyata-khususnya pertemanan antara David Bowie dan Iggy Pop. Beberapa uraian saya di atas, mungkin sudah bisa menjawab kenapa saya suka film ini. Rock n’ roll, tahun ’70-an, serta soundtrack yang asik.
Yah begitulah. Untuk sementara begitu daftar saya. Sebenarnya, masih ada tiga film yang belum saya tonton dan masih penasaran sampai sekarang. Rock ‘n’ Roll High School [1979], The Great Rock ‘n’ Roll Swindle [1980] dan Damai Kami Sepanjang Hari [198?]. Iwan Fals bermain di film yang terakhir disebut. Sejak SMP saya selalu terlewat ketika film itu tayang di TV. Baru lihat 15 menitan pertama saja. Iwan Fals sepertinya memang terlalu tua untuk memerankan anak SMA. Tapi, saya tidak bisa berkomentar banyak soal film itu.

Atau, ada yang bisa membantu saya?

Sepuluh Film Musikal Favorit

Ini
terlintas tadi subuh. Ketika mendengarkan album At Folsom
Prison-nya Johnny Cash. Saya mencoba mengingat-ingat, film musikal apa
yang paling berkesan buat saya. Dan inilah daftarnya.

  1. Grease [1978]. Sutradara: Randal Kleiser. Pemain: John Travolta [Danny Zuko], Olivia Newton-John [Sandy Olsoon].
    Ini film yang membuat saya mencintai rock n’ roll music. Waktu SD–saya
    lupa tepatnya–RCTI sering memutar video klip dari soundtracknya. Dan
    saya langsung jatuh cinta. Karena film ini saya jadi memakai black
    leather jackets. Sebelum saya menyukai The Ramones, saya memang sudah
    memakai jaket kulit. Film ini punya segala yang dibutuhkan untuk
    menghibur saya. Musik, tarian yang tidak membuat lelaki terlihat
    feminin, dan cerita dengan tema kehidupan remaja. Lengkap dengan
    dandanan para greasers yang membuat Soleh kecil terpana. Haha.

  2. The Doors [1991]. Sutradara:
    Oliver Stone. Pemain: Val Kilmer [Jim Morrison], Meg Ryan [Pamela
    Courson]. Dua hal yang membuat film ini begitu menarik buat saya; The
    Doors dan Meg Ryan. Val Kilmer memainkan perannya sebagai Jim dengan
    sangat memikat. Rasanya tidak ada aktor lain yang lebih tepat kebagian
    peran itu. Dan Meg Ryan. Saya selalu suka Meg Ryan. Plus, saya selalu
    suka perempuan berambut lurus panjang. Nah, di film itu Meg Ryan
    memenuhi semua impian saya tentang perempuan cantik dalam rock n’ roll.
    Sejak adegan pembuka, film itu sudah begitu menarik buat saya. Gurun.
    Jim kecil dalam mobil. Indian yang mati. Lagu Riders On The Storm.

  3. Walk the Line [2005].
    Sutradara: James Mangold. Pemain: Joaquin Phoenix [Johnny Cash], Reese
    Witherspoon [June Carter]. Ini yang membuat saya mencari album At
    Folsom Prison. Sebelum saya menonton film ini, saya tidak ingin mencari
    tahu lebih banyak soal Johnny Cash. Makanya, saya tempatkan film ini di
    nomer tiga. Melihat penampilan Phoenix di film ini, saya dapat kesan
    yang sama dengan melihat penampilan Val Kilmer di The Doors. Phoenix
    adalah aktor yang tepat. Plus, dia menyanyikan ulang lagu-lagu Cash di
    film itu. Dan suaranya, sama menariknya dengan penampilan dia di sana.
    Adegan pembukanya juga sama menarik dengan pembuka film The Doors.
    Folsom Prison. Intro Walk the Line. Johnny Cash sedang merenung sambil
    melihat alat pemotong kayu. Sipir menyapa Cash. “M-Mr Cash? M-Mr Cash?”
    Dan kalimat favorit saya di film itu, adalah setiap kali Cash ditanya
    soal pakaian hitamnya. “What with the black? He’s look like he’s going
    to funeral” Yang selalu dijawab Cash, dengan singkat, “Well maybe I
    am.”

  4. Almost Famous [2000].
    Sutradara: Cameron Crowe. Pemain: Patrick Fugit [William Miller], Kate
    Hudson [Penny Lane]. Rock n’ roll dan jurnalistik ada di film ini.
    Fiksi, tapi diilhami kehidupan nyata. Salah satu mimpi saya adalah jadi
    rock journalist. Dulu, juga sempat punya keinginan jadi jurnalis
    Rolling Stone. Plus, saya selalu suka tahun ’70-an. Makanya saya sangat
    menyukai film ini.
  5. This is Spinal Tap [1984].
    Sutradara: Rob Reiner. Pemain: Rob Reiner [Marty DiBergi], Harry
    Shearer [Derek Smalls], Christopher Guest [Nigel Tufnel], Michael
    McKean [David St Hubbins]. Rockumentary Heavy Metal band fiksi bernama
    Spinal Tap. Saya suka film ini karena mengolok-olok rock n’ roll.
    Parodi yang asik. Beberapa adegan yang berkesan; adegan ketika salah
    seorang dari mereka mengeluarkan pisang dari dalam celananya, supaya
    ukurannya terlihat lebih besar, adegan bermain gitar dengan
    menggesekkan biola yang juga parodi untuk Jimmy Page, panggung dengan
    latar Stonehenge, serta volume yang mencapai angka 11.
  6. Still Crazy [1998].
    Sutradara; Brian Gibson. Pemain: Billy Connolly [Hughie], Timothy
    Spall [David ‘Beano’ Baggot], Bill Nighy [Ray Simms], Bruce Robinson
    [Brian Lovell]. Yang ditawarkan film ini sebenarnya mirip dengan yang
    ditawarkan Spinal Tap. Cuma, saya suka film ini karena ceritanya.
    Strange Fruit, yang pernah jaya, dan mencoba peruntungannya kembali.
    Saya dan teman-teman sering mengasosiasikan Strange Fruit dengan
    kelompok musik yang pernah kami bentuk semasa kuliah. Setahun kami
    cukup berjaya di panggung-panggung kampus. Banyak anak terkena
    propaganda kami, hingga mau datang menonton dan membeli kaos. Tapi ya
    begitu. Kami melakukannya di tahun terakhir di kampus. Berjaya
    sebentar. Setelah itu hilang. Dan kadang keinginan untuk merasakan masa
    keemasan itu masih ada. Seperti juga yang coba ditampilkan Still Crazy.
  7. Airheads [1994].
    Sutradara: Michael Lehmann. Pemain: Brendan Fraser [Chazz
    Darvey], Steve Buschemi [Rex], Adam Sandler [Pip]. Mereka
    adalah personel The Lone Rangers yang putus asa hingga mengambil alih
    stasiun radio dan menyandera pegawainya supaya lagu mereka bisa
    diputar. Benar-benar menghibur. Judul dan cerita sangat sejalan. Dan
    tiga orang itu memang cocok memerankan karakter yang konyol. Ceritanya
    sih Hollywood sekali. Berakhir bahagia. Jagoan menang. Ada satu adegan
    yang menarik. Ketika mereka meminta polisi mendatangkan orang dari
    label untuk mendengarkan demo mereka. Baru sampai di pintu, Chazz
    memberi satu pertanyaan penting untuk orang itu. Soal ada di pihak mana
    orang itu dalam kasus pisahnya David Lee Roth dari Van Halen. Ketika
    dia memilih Van Halen, Chazz langsung tau orang itu polisi. Serta satu
    dialog lagi ketika Chazz dan Rex mengetes orang itu. “Who’d win in a
    wrestling macth, Lemmy or God?” Mula-mula orang itu menjawab Lemmy,
    tapi ragu, dan pelan-pelan menjawab God. Rex menjawab, “Wrong dickhead,
    trick question. Lemmy is God.”
  8. Ray [2004]. Sutradara: Taylor
    Hackford. Pemain: Jamie Foxx [Ray Charles]. Film ini tidak sampai
    membuat saya ingin mencari tau lebih lanjut soal Ray Charles, atau
    mencari album-album Ray memang. Tapi, saya sangat suka ceritanya. Dan
    Foxx bermain dengan baik sebagai Ray di sini. Film musikal yang baik.
    Itu saja.
  9. High Fidelity [2000].
    Sutradara: Stephen Frears. Pemain: John Cusack [Rob Gordon], Iben
    Hjejle [Laura], Todd Louiso [Dick], Jack Black [Barry]. Ini cerita
    tentang pecinta musik yang juga pemilik toko CD. Ditinggalkan pacarnya,
    Laura. Rob membuat banyak daftar di sini. Kenapa dia putus. Apa yang
    Rob ingin lakukan dalam hidup. Serta membuat mix tapes. Di sini, ada
    adegan soal bagaimana trik membuat mix tapes yang baik, supaya kualitas
    audionya tidak banyak berkurang. Cerita cinta, dengan nuansa musikal
    yang kuat.
  10. Velvet Goldmine [1998].
    Sutradara: Todd Haynes. Pemain: Ewan McGregor [Curt Wild], Jonathan
    Rhyes Meyers [Brian Slade], Christian Bale [Arthur Stuart]. Ini juga
    fiksi, tapi diilhami dari kehidupan nyata-khususnya pertemanan antara
    David Bowie dan Iggy Pop. Beberapa uraian saya di atas, mungkin sudah
    bisa menjawab kenapa saya suka film ini. Rock n’ roll, tahun ’70-an,
    serta soundtrack yang asik.

Yah
begitulah. Untuk sementara begitu daftar saya. Sebenarnya, masih ada
tiga film yang belum saya tonton dan masih penasaran sampai sekarang.
Rock ‘n’ Roll High School [1979], The Great Rock ‘n’ Roll Swindle
[1980] dan Damai Kami Sepanjang Hari [198?]. Iwan Fals bermain di film
yang terakhir disebut. Sejak SMP saya selalu terlewat ketika film itu
tayang di TV. Baru lihat 15 menitan pertama saja. Iwan Fals sepertinya
memang terlalu tua untuk memerankan anak SMA. Tapi, saya tidak bisa
berkomentar banyak soal film itu.

Atau, ada yang bisa membantu saya?