Lutut Bergetar di Gedung Miring

Saya sempat agak ketakutan juga, ketika datang ke Sarinah, Sabtu [19/4] malam lalu ke acara A Different Saturday di Stardust.

Kabarnya, Gedung yang diresmikan Soekarno itu, miring lima derajat jika dilihat dari ATM. Wakwaw. Biarpun mungkin belum berbahaya, tetap saja, mendengar fakta bahwa gedung bertingkat yang sudah puluhan tahun itu sekarang miring, cukup membuat waswas. Apalagi, saya takut ketinggian.

Dan sisi paranoid saya yang berlebihan, semakin waswas ketika membayangkan bahwa ada puluhan orang malam itu, yang berjingkrakan di lantai 14. Siapa tahu, itu berpengaruh terhadap kemiringan gedung.

“Elu nggak mau kan, mati pas nonton Seringai?” kata vokalis Fall yang saya tak tahu namanya itu, ketika mereka merampungan penampilannya.

Sebelum Fall, Killed By Butterfly, Whisper Desire, The Authentics dan ah satu lagi saya lupa band apa, tampil. Lantai dansa tak terlalu penuh ketika mereka tampil. Berbeda ketika Seringai akhirnya naik ke panggung.

Saya, yang tak pernah berolahraga merasakan dampak negatifnya, malam itu. Sekira jam sepuluh malam, Seringai memulai penampilannya. Crowd menggila. Merangsek ke mulut panggung. Membuat siapapun atau apapun yang ada di depannya terdorong. Bahkan monitor pun harus ditahan supaya tak terdorong.

Karena menahan dorongan penonton, otot paha saya tegang. Kaget. Syok. Terkejut. Tertarik. Begitu saya pindah dari mulut panggung, ke atas panggung kemudian berjalan ke arah dekat drummer, lutut bergetar.

Terrr. Terrr. Terrrr.

Paha saya sakit. Lutut terus bergetar. Di dalam hati saya, terus bertanya. Apakah ini karena otot kaget, atau karena asam urat? Kalau saja malam itu, saya harus langsung berlari karena ada keadaan darurat, mungkin saya akan tertinggal karena lutut bergetar dan otot kaget.

Tapi, otot dan lutut para Serigala Militia tak bergetar. Sepanjang penampilan, mereka berjingkrak. Bernyanyi. Sepertinya sekarang lebih banyak suara yang bernyanyi mengikuti lagu-lagu Seringai. Mungkin mereka sudah hapal lagu-lagunya. Suasana konser yang akrab dan dekat dengan penonton memang selalu menyenangkan.

Apalagi, malam itu, saya melihat cukup banyak penonton perempuan. Rupanya, kini sudah cukup banyak perempuan yang merasa aman datang ke rock show.

Padahal, Seringai ingin membuat rock kembali mengancam.

Intimidasi Profesi

Ada dua profesi yang cukup mengintimidasi saya. Setidaknya, setiap datang ke tempat mereka bekerja, selalu membuat jantung berdebar. 

Dokter dan polisi. Buat saya, dua profesi ini paling menakutkan. Ironis, karena dua profesi pelayan public ini tugasnya memberi pertolongan. Tapi, buat saya, dua profesi ini yang—oke, bisa jadi ini hanya stereotype yang ada di kepala saya saja—yang paling arogan, dan paling ingin dihormati.

Mereka, biasanya, tak suka dipanggil dengan sebutan Mas, atau Mbak ketika bekerja. Apalagi kalau sedang memakai seragam mereka. Jubah putih, atau seragam coklat itu. Padahal, sering kali saya berhadapan dengan mereka yang umurnya terlihat sepantar atau di bawah saya. Pernah, saya harus berurusan dengan dokter, karena terlihat masih muda, setidaknya masih pertengahan 30-an, saya panggil dia dengan mbak, dia terlihat tak senang.

Coba saja, kamu datang ke bank, rasanya tak akan masalah memanggil petugasnya dengan sapaan mas atau mbak. Atau ke restoran. Atau ke pom bensin. Atau ke kantor pos. Atau ke bioskop. Pada dasarnya kan, mereka sama-sama memberikan pelayanan buat masyarakat.

Seragam. Itu punya efek intimidasi yang cukup kuat. Seakan-akan ingin membedakan mereka dengan masyarakat lainnya. Seakan-akan ingin menegaskan kalau status mereka lebih tinggi. Walaupun harus diakui, untuk mendapatkan seragam itu, perjuangan mereka sangat berat.

Tempat mereka bekerja. Datang ke rumah sakit atau ke kantor polisi untuk meminta bantuan mereka, sama-sama menegangkan buat saya. Rumah sakit, biasanya cukup intimidatif dengan baunya, peralatannya dan segala macam diagnosanya. Namanya saja sudah intimidatif. Rumah Sakit. Padahal, dalam bahasa Inggris, Hospital. Identik dengan hospitality. Terdengar lebih ramah. Kantor polisi apalagi. Desainnya kaku. Dan di situlah, salah satu tempat kamu bisa menemukan polisi dalam jumlah banyak. Wah, satu saja sudah bikin grogi, apalagi banyak. Belum lagi birokrasinya. Buat orang yang tak terbiasa berurusan dengan polisi, datang ke kantor mereka, cukup menegangkan.

Mau berobat deg-degan. Mau mengurus SIM atau STNK, juga deg-degan.

Apalagi kalau sudah berurusan dengan uang. Biasanya, semakin besar persoalan kita, uang yang dikeluarkan semakin besar pula. Semakin besar pertolongan yang harus mereka berikan, semakin besar pula biayanya.

***

Sabtu [12/4] kemarin, saya ke dokter gigi. Terakhir kali saya ke dokter gigi, sepertinya waktu masih SD. Entah kelas 1 atau kelas berapa, yang jelas belasan tahun lalu, waktu Michael Jackson masih hitam, waktu satu dollar Amerika masih seribu rupiah. Waktu itu, saya di-bor. Meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Membuat saya tak mau datang lagi ke sana. Apalagi kemudian saya sering mendengar cerita orang-orang tentang suntikan di mulut yang harus mereka dapatkan kalau ke dokter gigi. Damn. Di suntik di lengan saja cukup mendebarkan, apalagi di mulut.

Tapi, sakit gigi saya beberapa hari lalu ternyata sudah cukup menyiksa. Biasanya, saya membiarkan saja. Dikumur-kumur pake sikat gigi, atau listerin, beberapa hari langsung sembuh. Tapi, ini tak kunjung sembuh juga. Akhirnya, saya beranikan diri untuk datang ke sana.

Karena kebetulan sedang ada di daerah Dago, saya datangi Apotek Kimia Farma, yang dekat dengan Bandung Indah Plaza. Kebetulan, ada praktek dokter gigi di sana, jam tujuh sampai sembilan malam.

“Tenang aja, kamu nggak bakalan disuntik kok,” Tetta berusaha menenangkan saya. “Malu atuh sama setelan. Masa’ pake jaket kulit, takut disuntik.”

Gigi makin nyut-nyutan. Dan sakitnya, sudah berpengaruh ke kepala dan leher. Membuat uring-uringan. Ya sudahlah. Mungkin ini saatnya saya mengunjungi dokter gigi, begitu pikir saya.

Maka, akhirnya, masuklah saya ke ruangan prakteknya. Dokter gigi, adalah salah satu dokter paling intimidatif. Dokter umum masih sedikit menenangkan. Ruangan dokter gigi, dihiasi banyak peralatan berwarna perak. Macam-macam bentuknya. Seperti di bengkel saja. Kecil-kecil, tapi bisa mengobrak-abrik mulut.

Dokter gigi itu menyuruh saya duduk di kursi pasien. Jadi teringat salah satu episode Mr. Bean, yang membuat dokter pingsan. Untuk satu detik, saya bisa tenang.

“Sakitnya di sebelah mana?” tanya dokter itu, nada suaranya nyaris berteriak.

“Di bawah sini dok,” kata saya, sambil menunjuk ke arah kiri gusi.

“Sebelumnya, udah pernah sakit?”

“Lupa dok. Kayaknya, biasanya sih, suka sakit, tapi saya biarin aja sembuh, nah kemaren nggak ilang-ilang,” saya menjawab dengan grogi.

“Udah berapa lama?”

“Tiga hari lah.”

“Sebelumnya, pernah sakit gigi kayak begitu?”

….

Saya berpikir sebentar.

“Waduh, lupa dok.”

“Iya, sebelum yang ini, pernah sakit nggak giginya?” dia terdengar memaksa.

“Nah itu, saya beneran lupa dok,” saya semakin grogi.

Dan dia menyuruh saya membuka mulut. Lalu memasukkan dua alat kecil berwarna perak itu, ke mulut saya. Lampu sorot diarahkan ke mulut saya. Menyilaukan. Saya terlentang tak berdaya. Dengan mulut menganga dan alat-alat kecil itu mengorek-ngorek mulut saya.

“Waduh Pak, ini giginya kok goyang begini ya?” kata dokter itu, sambil mengorek-ngorek gigi saya. “Kayaknya ada yang retak nih, harus difoto nanti ya.”

Waks. Retak. Dada saya makin berdebar. Situasi makin menegangkan. Lampu sorot masih menyinari wajah saya. Lantas, saya pegang erat-erat dudukan tangan di kursi pasien itu. Sekonyong-konyong, Bu Dokter memasukkan dua alat lagi. Resepsionis yang tadi menerima saya dan selalu ikut di dalam ruangan, ikut memasukkan alat.

Total ada tiga alat di mulut saya. Yang satu, terdengar seperti menghancurkan sesuatu di rongga mulut saya. Suaranya seperti suara alat pemasang mur. Ngiiiiiing. Ngiiiiing. Ngiiiing. Ah, saya tak tahu bagaimana menuliskan bunyi itu di tulisan. Alat yang kedua, mengorek-ngorek, memberi jalan buat si penghancur. Alat ketiga, yang dipegang si asisten, bertugas menyedot.

“Pak Soleh, rileks Pak. Saya mau menolong Bapak. Kalau Bapak nggak rileks, saya nggak bisa nolong Bapak,” kata Dokter itu.

Dari tadi, tangan saya mencengkeram erat pegangan kursi itu. Bagaimana bisa rileks, kamu terlentang tak berdaya, disorot lampu, mulut menganga dan dua orang asing mengorek-ngorek mulutmu dengan tiga alat yang kadang menyakitkan?

“Silakan keluarin Pak, terus kumur-kumur,” kata Bu Dokter.

Saya meludah ke alat di sebelah saya. Di alat penampung ludah itu, saya melihat serupa kerikil-kerikil sangat kecil berwarna hitam dan putih keluar dari mulut. Ditemani darah yang mengalir.

“Tuh Pak, ini karangnya banyak banget,” kata Bu Dokter lagi.

Saya disuruh terlentang lagi. Menganga lagi. dikorek-korek lagi. Dan kali ini, setelah sedikit agak terbiasa dengan adegan itu, saya memberanikan diri melihat alat penyedot yang dipegang si asisten. Saya melihat darah saya mengalir ke sana. Serta kerikil-kerikil kecil.

“Lihat Pak. Ini karangnya nih. Banyak kan?” kata si asisten.

Seakan-akan menunjukkan kalau saya tak sia-sia datang ke sana. Banyak sekali karang yang berhasil mereka dapatkan. Saya meludah lagi. Berkumur lagi. Dan entah dua atau tiga kali adegan itu terjadi. Saking menegangkannya, saya tak bisa mengingat dengan baik adegan itu.

“Gimana? Perasaannya, udah nggak pusing lagi? Kalau sebelumnya, skalanya sepuluh, sakitnya udah berapa sekarang?” tanya Bu Dokter ketika akhirnya kami bisa duduk dengan sejajar.

Saya masih syok. Sensasi menusuk-nusuk gusi masih terasa. Eh, diberi pertanyaan begitu. Harus menghitung pula. Membuat skala. Mungkin di kalangan dokter yang pintar-pintar itu, pertanyaan matematis setelah seseorang mengalami syok, adalah pertanyaan biasa.

“Yah, kayaknya sih udah lima dok. Agak ringan lah sekarang,” kata saya, asal menyebut angka.

“Wah, sudah lima ya? Bagus kalau begitu.”

Beberapa detik setelah Bu Dokter berkata itu, tiba-tiba mulut saya sedikit sakit. Nyut-nyutannya masih ada.

“Tapi, ini sih masih ada sedikit nyut-nyutan. Nggak tahu karena pusing tadi abis keujanan atau karena gigi,” kata saya.

“Ah, itu mah karena keujanan. Bukan dari giginya.”

“Gigi saya nggak bolong kan Dok?” saya sedikit lega.

“Nggak. Tapi, kalau kamu pengen ngecek lagi, nanti dateng lagi aja. Difoto dulu ya giginya, ini surat pengantar buat lab-nya. Gigi kamu juga, baru bagian kiri bawah yang dibersihin karangnya. Belum bagian yang lainnya.”

Lalu dia memberikan surat pengantar lab. Menyuruh saya datang lagi, lain hari. Menjelaskan cara menggosok gigi yang benar. Memberikan resep. Dan menuliskan kuitansi.

“Biayanya seratus ribu ya Pak.”

Setelah moral, giliran intimidasi material.

THE SOLEH SOLIHUN INTERVIEW: THE CHANGCUTERS

Duta terbaru rock n’ roll dari Kota Kembang bicara soal Multiply, maskulinitas dan kenapa di sampul album, wajah mereka berminyak.

The Changcuters adalah seragam. The Changcuters adalah kuda. The Changcuters adalah rock n’ roll? The Changcuters digilai, sekaligus dibenci. The Changcuters adalah vokalis Tria, gitaris Qibil dan Alda [bergaya rambut sama], bassist Dipa [berwajah Batak, karena memang orang Batak], dan drummer Erick–mereka semua memakai nama belakang Changcut. The Changcuters juga pernah membuat kehebohan di pelukislangit.multiply.com.

Medio 2005, waktu saya diberi demo mereka, yang pertama terlintas adalah nama mereka jelek. Padahal, wajah mereka tak jelek-jelek amat. Bisa dijual lah. Apalagi sejak jaman masih demo, mereka sudah berseragam. Karakternya sudah mulai terbentuk. Sayang namanya jelek, begitu yang saya pikir. Ternyata, sekarang jadinya tak terlalu jelek juga terdengarnya.

Waktu mereka merilis album perdana “Mencoba Sukses” dengan produser Uki Peterpan, hasilnya buruk. Secara produksi, masih jauh dari bagus. Padahal, lagu-lagunya cukup catchy. Tema lagunya pun bervariasi. Liriknya memang masih belum terlalu bagus. Tapi, penampilan panggung mereka menghibur. Salah satu band yang sadar bahwa di panggung, mereka harus menyuguhkan pertunjukkan yang bisa memuaskan visual, tak hanya audio.

The Changcuters membuka launching album KOIL. Dalam sebuah obrolan, Otong mengatakan kalau beberapa orang memang memertanyakan keputusan mereka mengajak Changcuters. Tapi, kepada saya, Otong berkata kalau dia meminta Changcuters karena anaknya suka mereka. “Anak kecil mah, jujur kan?” kata Otong.

Tahun ini, The Changcuters merilis repackaged album, “Mencoba Sukses Kembali,” di bawah bendera Sony BMG. Ada lagu baru, macam “Racun” dan “I Love You, Bibe.” Gara-gara lagu yang kedua, Luna Maya menelepon Tria, dan mengucapkan terima kasih karena namanya disebut dalam lagu.

Di album itu, produksi mereka terdengar lebih baik dibanding yang sebelumnya. Dua lagu terbarunya, menunjukkan kalau Tria sebenarnya bisa jadi penulis lirik yang lebih baik setelah berjalannya waktu. Walaupun sebenarnya, lagu-lagu The Changcuters akan terdengar biasa saja di telinga mereka yang sudah mendengar banyak rock n’ roll albums, tetap saja, lagu-lagu mereka pada dasarnya catchy dan tipe lagu-lagu yang enak dibawakan di panggung.

Tahun ini, mereka membintangi layar lebar berjudul “The Tarix Jabrix,” film arahan murid sutradara Hanung Bramantyo, yang dirilis Star Vision. Film tentang sekelompok anak SMA, yang ditolak jadi anggota geng motor dan memutuskan memutuskan membuat geng motor juga.

Mereka juga menjadi bintang iklan Flexi. The Changcuters sepertinya bakal ada di mana-mana. Dan The Changcuters jadi band pertama yang menghiasi halaman Multiply ini. Rencananya, saya akan mulai mewawancarai beberapa orang atau band untuk halaman ini.

Minggu [23/3] malam lalu, The Changcuters bermain di Terusik Traxustik, di Score! Cilandak Town Square, Jakarta. Saya menyambangi mereka di apartemen Cilandak, tempat mereka beristirahat. Sebelumnya, saya bertemu Tria dan Erick di Senayan City. Erick mencari bretel. Punya dia rusak. Tapi, yang dicari tak ada. Maka, malam itu, hanya Erick yang tak memakai bretel.

The Changcuters adalah tipe pria-pria senang dandan. Beres mandi, semuanya memakai hair dryer. Sepertinya, mereka cukup metrosexual. Tria, ketika berjalan-jalan di Senayan City, membawa tas jinjing, yang sepertinya hanya akan dipakai pria metrosexual. Tipe tas jinjing dengan motif-motif dan warna gelap yang entah bagaimana saya mendeskripsikannya karena saya bukan pria metrosexual.

Tapi di panggung, mereka tak terlihat seperti pria metrosexual. Tria, adalah generasi paling baru dari para pemuja Mick Jagger—setelah Deddy Stanzah, Rico Corompies dan Eka Annash. Penggemar Mick Jagger manapun akan langsung tahu, dari mana asalnya lenggak-lenggok Tria di panggung.

Beruntungnya Tria, diberi tubuh langsing. Membuat liukan tubuhnya masih terlihat lincah dan menarik di panggung. Kalau kamu pernah melihat Rico Corompies sekarang, dia sudah tak bisa meliuk-liuk. Tubuhnya sudah tambun. Yang tersisa dari kemiripan dia dengan Mick, hanya bibirnya. Beruntung juga Changcut yang lain. Semuanya diberi tubuh langsing. Membuat pakaian ketat yang menempel di tubuh mereka, terlihat pantas. “We are the next best things!” kata mereka di account MySpace. Untuk soal itu, kita harus sama-sama tunggu.

45 menit sebelum berangkat menuju Score! saya mewawancarai mereka.

Karena ini buat Multiply, apa kesan pertama yang terlintas ketika mendengar kata Multiply?
Dipa [D]:
Wah seksi, smart. Karena itu bisa jadi satu informasi yang beda.
Alda [A]: Rame. Banyak tukar informasi lah.
Qibil Q]: Multiply menurut saya agak kurang penting yah. Penting nggak penting. Jadi kalau misalnya, kayak sesuatu kalau orang di jaman sekarang kan harus online. Dan nggak mesti setiap yang online harus punya Multiply.
Tria [T]: Sebuah media baru.
Erick [E]: Positifnya, informasi bisa didapet dengan bebas. Negatifnya, jadi nggak kebendung, bisa disalahgunakan.

Merasa jadi korban Multiply?
D:
Yah itu yang gue bilang bisa disalahgunakan itu ya. Pernah kan, ada kasus sama White Shoes yang albumnya bisa didownload secara gratis tanpa ijin.
T: Maksudnya, harusnya itu bisa jadi wadah untuk mengekspresikan, tapi itu disalahgunain banget kalau sampe merugikan orang lain. Padahal kan, itu wadah untuk eksistensi diri. Ya udah, tulis aja pendapat dia, jangan sampe merugikan orang lain. Apalagi kayak kasus White Shoes itu.

Kalau Changcuters gimana?
D:
Wah, gue buka internet aja setahun sekali [tertawa].

Oke, langsung aja nih. Waktu itu kan sempet ada kehebohan di pelukislangit.multiply.com, gara-gara review dia
Q:
Pada awalnya sih, waktu kami baca di Ripple, sempat bertanya-tanya, siapa ini Pelukis Langit? Akhirnya, kata si Manik, Pelukis Langit mah temen Multiply gue. Waktu awal sih, sempet down juga. Band baru pula.
T: Kayak misalnya gini lah, orang udah jelek, dibilang udah jelek gendut pula. Padahal dia tahu, nggak usah dibilang gitu juga.
Q: Tapi, setelah kami pikirkan secara dewasa, bijaksana, rasional dan mendengar input dari orang lain, akhirnya ya bad news itu good news. Akhirnya, sampai sekarang ini belum pernah ngebahas posting-an itu.
T: Akhirnya, sekarang kami menyadari, masalah itu bukan datang dari yang meledek, tapi lebih datang dari intern. Gue udah nggak terlalu peduli lagi, kalau ada yang bilang wah elu keren euy masuk Sony, ya terima kasih. Kalau ada yang bilang jelek juga, nggak dipikirin. Da yang lebih bikin pusing mah, persoalan intern.
A: Ya itu jadi kritik membangun lah. Itu baru komentar segelintir orang. Apalagi kalau lebih luas lagi.
Q: Pemanasan lah.

Selain itu, pernah ada yang bikin kalian down?
D:
Satu orang punya 100 persen di kepalanya, tapi digabung harus jadi 100 persen juga.
Q: Justru terpaan dari luar yang bikin kami lebih solid. Kalau yang bikin down, justru karena adat si ini begini, adat si ini begini.
T: Kalau gue pribadi, yang bikin gue nge-drop sih, adalah ketika gue lagi nggak fit, gue harus tampil secara nasional. Pertanggungjawabannya itu yang lebih besar. Padahal cuma satu lagu, tapi menentukan.
A: Sekarang sih, kalau ada kritikan ya kami tampung.
D: Suka tidak suka kan, sama halnya kayak kita nggak mau makan ini atau itu, selera lah. Itu kan upaya pembentukan opini publik aja.

Kalau yang bikin kalian semangat?
Q:
Banyak ya. Setelah kejadian Multiply itu, kami manggung nih di sebuah acara underground Bagus Netral. Bapak Arian menghampiri saya, kurang lebih bilang gini, “Persetan gosip lah! Maju terus!”
T: Dan itu, sangat memotivasi pisan.
Q: Secara itu Arian. Kami lebih tahu Arian, ketimbang Felix. Siapa Felix?
T: Kalau gue satu lagi kejadiannya. Waktu di konser Bjork, tiba-tiba ditowel orang. “Eh sori ya, gue cuman bisa lihat elu di TV.” Bens Leo nyalamin. Tahu Changcuters! Gimana teu lieur? Kenapa Bens Leo bisa tahu kami? Terus, Kang Micko Protonema, yang sudah terkenal di scene rock n’ roll dan blues, ternyata tahu kami. Itu yang membuat kami harus belajar banyak. Buat memertanggungjawabkan pada mereka yang mendukung kami.

Sama Felix pernah ketemu langsung?
A:
Waktu di acara Indie Fest. Nggak ketemu langsung sih.
T: Gue tahu dari MC, ada Felix. Gue pengen ngebecandain dia. Kalau di Hollywood kan suka ada yang ngeritik, your rules, gue bikin rules lagi. Ternyata dia seneng, dan nulis di Multiply. Gue pengen ketawa aja. Padahal itu kan, kayak misalnya Eminem bikin lagu tentang Britney Spears, eh Britney-nya ada.
Q: Mungkin kalau di Hollywood itu udah di-setting ya. Ada ketemuan dulu.
D: Kalau ketemu sama gue mah, bahaya lah! [tertawa].
T: Tapi da nggak ada dendam juga.
D: Bagus lah, kalau nggak ada omongan dia, nggak akan dilirik media lain. Itu kan promosi juga. Yang penting kata Tria tadi, ke depannya harus bagus.
T: Tapi bukan karena si Felix, kami jadi pengen lebih bagus ya. Kami ingin memertanggungjawabkan kepercayaan yang udah dikasih sama orang-orang yang udah ngedukung kami. Kayak tiba-tiba waktu itu Kang Micko, ngajak kami kumpul sama anak-anak blues di Bumi Sangkuriang. Anjir, gimana nggak pusing? Di sana kami mau ngapain? Jadi, wah nggak boleh selamanya kami nutupin, kami harus belajar. Tapi, waktu diajak itu, kami lagi nggak bisa.

Scene Bandung gimana penerimaannya?
D:
Ya sama aja. ada yang nerima, ada yang nganggap angin lalu.
T: Kami cuma nganggap Changcut Rangers aja. Kalau suatu saat kami udah nggak musim, selama Changcut Rangers masih berdiri, kami masih eksis.
E: Kalau band-band nya mah, aman-aman aja.

Kalian kan akrab sekali dengan Peterpan, pelajaran apa yang kalian dapat?
D:
Ya itu tadi, mental.
Q: Waktu kami ada kasus review yang di Ripple itu, si Uki bilang, “Udah lah Bil, waktu itu kami dijelek-jelekin sama Ahmad Dhani. Dijelek-jelekin sama banyak orang.”
E: Kalau gue mah, soal kasus di Multiply itu, ya gue anggap hiburan aja. Kayak ngelihat kucing kesandung lah. [tertawa]. Jarang kan lihat kucing kesandung? Makanya lucu kan? Hanya hayalan aja. Nggak nyata lah.

Waktu Peterpan mecat dua personelnya, apa yang ada di kepala kalian?
Q:
Pelajaran buat kami juga. Yang kami pernah down gara-gara kendala intern itu. Woy! Kita tuh masih baru! Lu mau kayak Peterpan?
T: Dulu mereka juga pernah ngasih nasihat. Mereka tuh kan sebenernya jenuh. Kurang komunikasinya juga. Mereka bilang, “Sok nanti kalau elu udah tur mah, pasti jenuh juga.” Terus gue bilang, ah nggak mungkin kami mah maennya bareng da. Makanya akhirnya, banyak petuah Peterpan itu, kami jadiin bahan buat kami, mengingat kami band masih baru. Itu kami jadikan buat hati-hati.

Memang, problem internalnya apa sih?
D:
Ya ego lah. Kalau ego udah muncul, itu yang paling berat.

Yang paling terlihat sering memaksakan egonya siapa?
D:
Gue. [tertawa]. Karena gue kan dari luar kota. Sering home sick euy Leh!
T: Kalau gue lihat, setiap orang di sini punya sisi negatifnya. Ketika sisi negatifnya keluar, itu egonya berjalan. Gue pundungan. Emo lah! Kibil tempramen. Alda don’t care.
A: Ya say amah dari dulu suka males lah. Pengen santai.
D: Kalau gue sangat perhatian. Walaupun omongan gue keras, itu karena cuaca di Medan panas. Jadi gue perhatian.
Q: Nah ketika dia perhatian, nggak ada yang peduli, keluar deh egonya.
E: Kalau gue pemalu. Ke band juga, jadi susah juga mau ngapa-ngapain.

Proses kreatifnya gimana?

Q: Nge-jam
T: Kadang genjrengannya dari Qibil misalnya, tetep aransemennya dikembangin rame-rame.

Pake nama siapa di kredit buat pencipta lagunya?
T:
The Changcuters.

Padahal kan, katanya itu jelek. Kalau suatu saat ada yang keluar, bagi-bagi royaltinya susah.
T:
Kami komitmennya kalau salah satu keluar, bubar! Jeleknya itu kan kalau ada yang keluar masuk dari band-nya. Kami mah, kalau ada yang satu keluar, bukan Changcuters lagi. Susah nemuin yang kayak gini lagi [menunjuk Erick dan Alda].

Emang, nemuin mereka di mana?
Q:
Si Erick waktu SMP ke SMA, nge-band sama gue. Si Alda nge-band waktu kuliah.
D:
Jadi, ini the band si Qibil. Gue ketemu Tria, gara-gara dia. Ketemu Erick dan Alda, gara-gara dia juga.
E: Waktu itu, si Qibil lagi nyari drummer handal, makanya dia nelepon gue.
Q: Sebenernya karena elu yang gue kenal [tertawa].
T: Mungkin kalau ketemunya sama Eno Netral, dia yang jadi drummer kami [tertawa].

Kenapa memakai kata “Mencoba Sukses” buat judul album?
Q:
Itu dari jaman masih demo. Tadinya mau “Menuju Sukses,” kenapa akhirnya jadi “Mencoba Sukses?” itu karena artinya ikhtiar ya.
T: Ada juga yang mengartikan coba-coba sukses. Sukses kok coba-coba bikin album sih? Sebenernya nggak ada salahnya juga, ya iya lah masa orang nggak mencoba. Nanti nggak tahu hasilnya. Tapi, hasil juga bukan yang kami tuju. Ini prosesnya, ini ikhtiar-nya. Pengen tahu gimana hasilnya. Tadinya juga, nggak mau bikin album, kami mau nyebar-nyebarin aja. Eh ada yang suka juga. Ya udah, lumayan juga kalau kami orderin [tertawa]. Eh si Uki ternyata mau jadi produser. Ya udah lah, serba kebetulan aja.
A: Mencobanya tuh usaha, bukan mencoba-coba.
Q: Kami punya barang, ini kualitasnya, coba deh.
T: Kayak bikin ramuan. Asalnya buat kami doing. Eh ternyata banyak yang suka. Ya udah bikin banyak aja.
D: Kalau dari silsilah katanya, ‘Mencoba’ tuh enak aja. Kalau misalnya, ‘Mencoba’ pasangannya ‘Sukses,’ enak kan? Kalau ‘Menuju Sukses,’ nggak enak.
T: Tadinya sempet kepikiran, “Berusaha Sukses,” cuma nggak enak. Kesannya kami ambisius banget.

Memang, nggak mau dicap sebagai band ambisius?
T:
Ambisi boleh, ambisius jangan. Karena kalau ambisius, lebih mentingin hasil.
E: Kami lebih ke optimis, ketimbang ambisius.

Kualitas album perdana kalian, jelek menurut gue mah
D:
Kami juga nggak puas. Yang puas yang sekarang. Dengan skill kami yang segitu, ternyata frekuensinya bagus juga.

Kalau sudah sadar jelek, kenapa dikeluarin juga?
Q:
Pada saat masternya jadi, sangat kepepet. Mental fisik segala macem, udah lelah. Wah ini udah enak kok.
T: Jadi intinya gini, waktu rekaman album perdana itu, kami udah semaksimal mungkin. Yang penting, kami udah dapet banyak ilmu. Gue jadi tahu, recording tuh nggak gampang. Itu yang berharganya mah. Hasilnya jelek atau nggak mah, itu niat ke sananya aja yang kami butuhkan.
A: Mungkin manusiawi ya, nggak pernah puas. Cuma, waktu itu kami ngerasa wah udah deh udah cukup. Udah bagus lah. Ternyata pas udah dapet pelajaran lebih, pas kami dengerin lagi, kok gini banget ya?

Berapa lama rekamannya waktu sama si Uki?
D:
Rekamannya sebentar, dua sampe tiga bulan. Cuma si operatornya waktu itu sibuk banget.
T: Kebayang, selain vokal, drum sama bass, itu nge-track sendiri di rumah si Uki, pake computer, belum di studio.
K: Stressfull lah.
Q: Ilmu buat nge-track aja belum seberapa.
D: Dan inti daripada intinya sih, duit. Buktinya nge-track gitar di rumah. Begitu sama Sony, mau berapa jam, sook.

Boleh tahu, budget waktu rekaman sama Uki?
Semua:
Waaah, jangan lah. Nggak enak sama si Uki.

Dan repackaged album ini, diberi judul “Mencoba Sukses Kembali.” Seakan-akan kalian sebelumnya mencoba sukses, tapi gagal, sekarang nyoba lagi.
T:
Bukan begitu. Maksudnya, ini usaha yang kedua.
Q: Second coming lah. Kalau film mah, Empire Strikes Back lah!
D: Yang pertama mah, Jawa Barat kan. Nah, sekarang nasional.

Tapi, kenapa foto kalian nggak di-retouch? Itu berminyak sekali
Semua:
[tertawa]
T: Iya bener. Tapi, itu jadinya bagian dari konsep.
Q: Wah, ini sampai berpeluh keringat begini, biar kelihatan, wah usahanya pasti keras nih.
T: Itu melambangkan sebuah usaha untuk sukses [tertawa]. Ah, tapi nggak apa-apa kok. Dengan keadaan buruk kayak gitu aja, banyak yang beli. Apalagi kalau keadaan kami ganteng abis.
Q: Itu sebenernya efek berminyak. Pernah lihat album The Racounters atau siapa ya…yang dipukulin. Itu kan kayak yang dipukulin. Kalau kami, kayak yang berminyak.

Gue tahu, kalian terinspirasi dari cover The Rolling Stones, tapi perasaan, Mick Jagger mah da nggak berminyak kayak begitu [tertawa]
T:
Yah udahlah [tertawa]. Nanti juga, pasti ada yang lebih lucu lagi pas di film. Awalnya masih putih, tapi lama-lama kulitnya jadi item. Kami mah emang nggak ditakdirkan untuk jadi artis yang putih beraura.

Dari awal, memang ingin berseragam?
T:
Oh iya. Lebih dulu ada konsep seragamnya, daripada mikirin konsep musiknya seperti apa [tertawa]. Awalnya sih, karena emang band udah pada meninggalkan konsep seragam.
D: Pengen gaya. Terus satu lagi, biar nggak ada kesenjangan sosial di panggung. Kalau beda-beda, si Qibil pasti yang lebih keren, karena dia yang lebih gaya. Nanti lebih banyak yang suka dia [tertawa].
T: Si Alda masih mending, mukanya masih banyak yang suka. Kalau gue? [tertawa].
D: Kalau begini kan, jelas. Kalau ada yang suka, pasti karena lihat muka dan attitude-nya. Dan lebih enak dipandang.

Jadi, si pria idaman wanita teh sebenarnya cuma dua di Changcuters? Alda dan Kibil?
A:
Sebenernya, tiap lelaki adalah idaman wanita.
T: Justru karakter-karakter kayak kami gini, jadinya ada pasarnya masing-masing. Kibil yang rada-rada bule.
D: Alda, ABG labil. Kalau Erick, dangdut [tertawa].
T: Kalau gue, biasanya ibunya [tertawa]. Soalnya, sering ada yang bilang, ‘Tria, ada salam dari ibu gue.’
D: Mereka udah bingung kan, kalau lihat dari pakaian, udah seragam.
Q: Jadi, kalau misalnya ada yang nanya, ‘Who’s your favorite Changcute?’ Udah ada jawabannya sendiri-sendiri, ‘Ini! Ini! Ini!’ [menunjuk ke arah teman-temannya]

Jadi, lagu “Pria Idaman Wanita” bukan karena pengalaman pribadi kalian yang ternyata digilai perempuan?
Q:
Memang pada saat kami bikin lagu itu, pas banyak yang suka. Milihnya susah.
D: Akhirnya, nggak ada yang dapet [tertawa].
T: Inti lagu itu mah sebenernya pengen ngasih tahu ke cowok. Kan waktu itu, lagu banyak yang soal ditinggal cewek, nangis. Udah mulai nggak cowok banget. Mau kenalan, ceweknya dulu yang kenalan. ‘Tolong ajari aku. Tolong dekati aku.’ Nggak cowok banget itu mah.

Jadi, lagu “Pria Idaman Wanita” itu sebenernya kental dengan nuansa maskulinitas?
Semua:
Naaaah! Bener! Cowok banget lah!

Kenapa video klipnya jelek banget?
Semua:
[tertawa].
T: Ini mah gara-gara gue! Itu sebenernya tugas kampus. Gue tuh dulu bikin band, sebenernya untuk latihan desain gue. Bikin video klip, logo, company profile, semua tuh tentang band gue. Kalau misalnya hasil visualnya butut, handycam yang dipakenya pun, kelas teri.
Q: Kalau konsepnya sih sebenernya bagus, bisa jadi film. Coba digarap sama Hollywood. Ya itu karena keterbatasan sumber daya.
T: Kalau diperhatikan seksama, itu ada bloopers-nya. Saya harus jadi sutradara, jadi pemaen pula, sampai tas pinggang saya lupa dilepas.
D: Video klip itu kami buat sebelum kami bikin album.

Kalau logo kuda?
D:
Lihat aja muka si Tria dari samping.
T: Sebenernya kan, tadinya pengen kayak Rolling Stones. Logonya inspirasinya dari bibir Mick Jagger. Nah Changcuters dari muka gue. Awalnya, kan konsep itu ada karena gue anggap Changcuters tuh cowok banget lah! Gagah. Jantan. Tadinya sih mau titit, tapi nggak enak kalau nanti ditanya-tanya [tertawa]. Soalnya Changcuters tuh kebanyakan cewek. Kalau digambar kan, ada pelernya. Akhirnya, karena nggak enak, ya udahlah kuda aja. Kenapa rambutnya berjambul? Biar lebih stylish lah. Kacamatanya nggak pake kacamata kuda, supaya dia melihat lebih luas, jadi pake kacamata BL.

Road Manager memberi tahu kalau waktu kami hampir habis.

Oke, lagu “Pria Idaman Wanita” mirip dengan “Not Fade Away”-nya Rolling Stones. Ada penjelasannya?
T:
Itu sebenernya nggak sengaja. Gue baru denger lagu “Not Fade Away” setelah lagu “Pria Idaman Wanita” jadi. Sebenernya kalau dipikir-pikir itu grip dasar sih. “Desire” kayak gitu, terus di KISS juga ada kayak gitu.

Tapi, kocokan gitarnya sama banget
T:
Sebenernya kalau mau jujur-jujuran, gue waktu itu sih terlintasnya, lagu Time Bomb Blues yang “Maung Bandung.” Ada part ‘Kajeun!’
D: Waktu itu, kami coba dengerin lagi, dan nggak mirip ah sama lagunya Time Bomb Blues.
T: Walaupun sebenernya kan, grip blues tuh cuma tiga. [Tria menirukan suara kocokan gitar]. Bulak balik. Kalau kami, ada empat. Beda sebetulnya, Cuma kocokannya aja sama. Wajar lah. Ahmad Dhani aja ada yang sama.
D: Nggak niru plek plek sebenernya. Elemen-elemennya aja ada yang dimasukin.

Tapi, kalau “I Love You, Bibe” memang terinspirasi dari “Honky Tonk Woman?”
D:
Tah, kalau itu awalnya gini, kami pengen bikin lagu yang memasyarakat. Apa ya? Cinta we cinta. Tapi, gue maunya yang universal. Kalau elo udah sayang sama sesuatu, meskipun dibilang jelek sama orang, kalau udah suka mah, ya suka. Udah titik! Terus, aransemennya gimana ya? A stone A! Ya udah, Honky Tonk we! [tertawa]. Makanya, genjrengannya juga. Terus, ada cowbell.
D: Tapi, pas didengerin bareng, jauuh ah.
T: Jauh, da Honky Tonk mah rhtym and blues pisan!
Q: Kalau misalnya nyekill, Stones banget lah, pasti jadinya mirip. Karena nggak semuanya Stones Lover, jadinya ya gitu banget.

Intinya mah, di lagu ini, dengan penuh kesadaran kalian memang patokannya lagu Honky Tonk Woman?
Semua:
Iya!
Q: Udah, di-Honky Tonk-in we lah!

Lagu “Racun,” kalian bilang wanita racun dunia. Kenapa?
T:
Itu sebenernya misunderstood. Padahal, artinya ketika lelaki ketemu wanita tuh pasti ngalah. Ini gue ambil filosofisnya, dari Cupi [kakak ipar Tria], sepreman-premannya cowok, sama cewek mah, nangis! [tertawa]. Intinya mah, ketika lelaki ketemu cewek, otak sama hati nggak bisa sinkron.

Oke, waktu kita hampir habis, sekarang saatnya trivia. Gue akan menyebutkan dua nama, kalian pilih serta alasannya. Tria, Mick Jagger atau Keith Richards?
T:
Keith Richards. Soalnya gue lebih suka karakternya Keith Richards. Tapi, karena nggak bisa maen gitar, jadi gue niru Mick Jagger!

Sekarang, buat dua gitaris, Brian Jones atau Johnny Ramone?
Q:
Kalau gue, Brian Jones. Attitude-nya lebih asik, lebih keren. Secara tampilan segala macem, keren pisan euy si Brian Jones teh!
A: Johnny Ramone. Karena dulu, saya cuma tahu punk.

Erick, Charlie Watts atau Ringgo Starr?
E:
Dave Grohl! Eh, salah. Ringgo Starr aja deh. Bapaknya indies dia! Dan gue ke arah sana juga, simple tapi digandrungi popularitasnya.

Dipa, Sid Vicious atau Dee Dee Ramone?
D:
Cliff Burton nggak boleh ya? Sid Vicious lah. Soalnya dia nggak bisa maen bass, tapi gayanya keren. Gue juga gitu, biasa-biasa aja maen bass-nya.

Semuanya, The S.I.G.I.T. atau The Brandals?
E:
The S.I.G.I.T. deh, karena musiknya keren. Berbobot.
Q: Waduh, susah nih. Pertanyaannya buah simalakama…The Brandals deh, dia termasuk pelopor garage di Indonesia lah.
D: The Brandals. Video klipnya keren.
A: The S.I.G.I.T. Keren musiknya, saya lebih suka sound mereka.
T: Speaker 1st nggak boleh ya? [tertawa]…The Brandals! Soalnya gara-gara ngelihat The Brandals, gue jadi pengen bikin band, yang attitude-nya berbeda sama mereka. Waktu itu kan mereka, masih suka ngomong, ‘Ngentot! Ngentot!” di panggung. Nah, gue pengen bikin rock n’ roll band, yang attitude-nya, ‘Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar semuanya? Baik-baik saja?’

Musiklo Sampe Mana?

Tak terasa, kompetisi band, LA Lights Indiefest sudah memasuki tahun ke-2.

Padahal, para finalis LA Lights Indiefest pertama saja, belum terdengar gaungnya. Setidaknya, buat saya, belum terasa perubahan yang signifikan dalam karir musik mereka. Biarpun propaganda yang mereka lancarkan mengatakan “Musiklo Sampe Mana?” harus diakui kalau musik para finalis LA Lights Indiefest sebenarnya belum terlalu jauh berjalan.

Biarpun iklan mereka menunjukkan kalau Vox sudah manggung di Singapura, dan mengatakan kalau Dojihatori sudah punya album sendiri, nyatanya karir mereka bisa dibilang belum terlalu jauh berbeda dengan ketika sebelum mereka jadi finalis. Ini memang masih asumsi saya. Akan lebih jelas kalau para finalis itu yang menjawab pertanyaan saya ini.

Bahkan siapa saja para finalis tahun lalu, saya lupa. Kalaupun nama-nama macam 70’s Orgasm Club dan Vox masih terngiang, rasanya bukan karena mereka jadi finalis, melainkan beberapa kali saya melihat mereka manggung. Yang lainnya? Ke mana mereka?

Dan kalau kita bicara kompetisi band yang kemudian dibuatkan album, hanya beberapa nama saja yang akhirnya bisa bertahan. Coba pikirkan, siapa yang kemudian menjadi besar dari kompetisi band yang digelar Log Zhelebour selama bertahun-tahun itu?

Memang, masih terlalu dini untuk menilai apakah kompetisi LA Lights Indiefest ini punya pengaruh signifikan terhadap karir bermusik sebuah band, yang jelas kompetisi di tahun ke-dua ini masih menarik minat banyak band. Ada 1870 band yang mendaftar! Mereka tersebar dari Surabaya, Yogyakarta, Jakarta dan Bandung. Angka ini, 400 lebih banyak dibandingkan kompetisi tahun sebelumnya.

Saya yakin, juri pasti dibuat pusing ketika menyeleksi lagu sebanyak itu. Dari 1870 harus dipilih 10! Rasanya tak mengherankan ketika akhirnya, nama-nama yang terpilih sudah familiar. Pertama, mereka memang sudah terbukti kualitasnya, sudah tinggi jam terbangnya, sudah cukup matang dibandingkan ribuan band lain yang mendaftar. Kedua, nama yang sudah familiar itu mungkin memudahkan juri untuk memutuskan apakah mereka masuk final atau tidak.

Buat saya, ada dua yang familiar; Monkey to Millionaire dan Lipgloss. Yang pertama, karena demonya sudah saya dengarkan jauh sebelum mereka jadi finalis. Yang kedua, meskipun saya belum pernah melihat mereka manggung atau mendengar musik mereka, tapi Lipgloss sudah sering ‘menyerang’ dunia maya. Membombardir milis, atau friendster dan sejenisnya. Saya nyaris terganggu sebenarnya. Pertama, mungkin karena belum kenal. Kedua, karena saya tak suka nama Lipgloss. :p

Cascade…saya tahu nama ini ketika manajer mereka menghampiri saya dalam sebuah acara yang digelar di Monic Setiabudi beberapa minggu lalu. Yang pertama terlintas ketika mendengar nama mereka, adalah Factory Outlet. Saya tak yakin, apakah benar ada FO yang bernama Cascade di Bandung, atau ini hanya perasaan saya.

Covernya tak menunjukkan perubahan yang signifikan. Masih tidak bagus, jika dibandingkan rilisan FFWD Records lainnya. Mudah-mudahan desain cover album ke-dua ini tidak bermasalah seperti halnya gambar gramophone tahun lalu, yang ternyata diambil dari deviant art tanpa ijin. Sekarang, mereka memakai gambar gitar dengan motif-motif di sekelilingnya. Saya sih sebenarnya berharap FFWD punya posisi tawar yang lebih dalam hal ini. Walau bagaimanapun, album ini adalah rilisan mereka juga. Yah, mudah-mudahan kalau LA Lights Indiefest 2009 FFWD masih merilis album kompilasinya, FFWD bisa membujuk LA Lights untuk membuat desain cover album yang lebih menarik dibandingkan dua album yang sudah ada.

***

Minggu [16/3] malam, Bandung diguyur hujan. Di pelataran parkir Sasana Budaya Ganesha, terlihat puluhan remaja, yang didominasi laki-laki berpakaian hitam-hitam. Sebagian dari mereka sepertinya sekumpulan anak-anak yang penuh cinta. Biarpun hujan turun, mereka tetap bertahan. Tidak mencari tempat berteduh. Karena ada seorang kawan yang mengatakan begini:

Semua kalah sama cuek.
Tapi cuek, kalah sama hujan.
Tapi hujan kalah sama cinta.

[contohnya; kalau udah urusan ke rumah pacar mah, hujan-hujanan di atas motor pun, jadi. :p]

Malam itu, ada acara peluncuran album kompilasi LA Lights Indiefest yang ke-dua. Berbeda dengan tahun lalu, kali ini acara digelar di satu tempat saja. Sebelumnya, peluncuran dan penampilan beberapa finalis diadakan di Cihampelas Walk, dan malam harinya bintang tamu dan beberapa finalis lagi, tampil di gedung AACC.

“Habis tiketnya a! habis!” kata seseorang dari kerumunan, ketika saya menuju gerbang masuk.

“Yaaaah, wartawan!” katanya lagi, begitu saya menunjukkan ID pada penjaga gerbang.

Begitu masuk area dalam Sabuga, pengunjung disambut oleh beberapa SPG di stand LA Lights. JAMREVOLUTION. Di sebelah kanan pintu masuk, dipamerkan enam foto vokalis asal Bandung, karya Cagi. Bicara istilah indie, foto-foto yang terpampang di sana, bisa dibilang sudah termasuk papan atas di level indie. :p

“My Friends Can’t Sing,” Cagi memberi judul.

Mungkin karena diberi judul My Friends itulah, semua vokalis dari Bandung. Atau, mungkin karena acaranya digelar di Bandung. Atau mungkin karena mereka saja yang kebetulan bisa meluangkan waktu. Atau mungkin saya sok tahu saja dengan semua analisa tadi.

Selain soal tempat pelaksanaan, yang berbeda dari acara peluncuran album kali ini adalah konsep kolaborasi. Itu sebabnya diberi judul JAMREVOLUTION. Beberapa finalis berkolaborasi dengan satu bintang tamu, yang dirasa warna musiknya senada. Goodnight Electric dengan Monkey To Millionaire. Mocca dengan Cigarettes Nation. Pure Saturday dengan Cascade. Alone At Last dengan Scared of Bums. KOIL dengan Air Hostess For Vacation.

Saya tak bisa mengatakan apa yang terjadi dengan finalis lainnya. Ketika saya datang, sesi kolaborasi baru saja dimulai. Perkawinan antara Monkey dengan Goodnight menghasilkan sesuatu yang menarik. Mocca dengan Cigarettes biasa saja buat saya. Pure dengan Cascade juga tak meninggalkan kesan mendalam. Alone ternyata kalah menarik dibandingkan Scared of Bums. Anak-anak Bali yang mengawinkan melodic punk dengan sedikit heavy metal menghasilkan enerji yang terasa lebih besar dibandingkan musik yang dihasilkan duta emo Kota Kembang.

Kalau KOIL, rasanya sebagian besar penonton malam itu, menunggu KOIL. Sayang, agak kurang maksimal sound yang keluar di lagu pertama. Mungkin itu menjelaskan kenapa kru mereka memakan waktu cukup lama untuk mengatur alat sebelum KOIL tampil. Tapi, tidak salah menempatkan KOIL di akhir acara. Mereka yang karakternya paling kuat dibandingkan bintang tamu lainnya. Seperti biasa, mereka memakai pakaian hitam-hitam yang rasanya bisa dibeli di God Inc. Siapapun bisa berdandan seperti Otong, itu pesannya mungkin. Tapi, hati-hati tak sembarang orang akan terlihat cocok.

The man make the clothes. Not the other way around, kata sebuah ungkapan, kalau saya tak salah kutip.

Bayangkan, seandainya ada orang dengan pakaian hitam-hitam, rumbai-rumbai tak jelas, sepatu new rock, stoking di tangan, rambut panjang tapi berwajah seperti Mandra, rasanya orang akan menertawakannya. Atau, jangan jauh-jauh lah. Waktu Ungu mencoba berdandan hitam-hitam saja, mereka terlihat menggelikan.

Dan yang lebih hebat lagi, adalah ketika seluruh bintang tamu, berkolaborasi membawakan lagu Kosong dari Pure Saturday. Ini rasanya baru terjadi sekali. Crowd bisa mendengarkan Otong KOIL menyanyikan lagu Pure. Ide untuk membawakan lagu itu juga datang dari Otong. Dan mereka berlatih dua hari demi penampilan itu.

LA Lights merekam acara malam itu untuk kepentingan penayangan di teve. Lengkap dengan tepuk tangan rekaman—yang terdengar bergemuruh dan rapi—demi mendukung meriahnya suasana.

Yang direpotkan malam itu, rasanya fotografer. Soal berpindah tempat demi memotret sih tak masalah. Tapi, beberapa kali harus diusir petugas keamanan karena dianggap terlalu dekat dengan obyek, padahal tak masuk dalam gambar kamera—sungguh bisa menyebalkan juga. Apalagi kameramen dengan badannya yang besar-besar dan kameranya yang juga besar itu dengan enak bisa mondar-mandir di depan fotografer.

Ah, banyak ngeluh. Sudah tak usah jadi fotografer saja! Anjis. Kenapa saya jadi ngomong sendiri begini ya? Sudah ah.

Daripada Musik Metal Lebih Baik Musik Jazz

Sejak Java Jazz pertama kali digelar pada 2005, semua selalu sama buat saya.

TENTANG PENGURUSAN ID LIPUTAN

Selalu saja ada hambatan yang cukup mengganggu. Mungkin saya memang harus selalu tak beruntung setiap Java Jazz. Waktu Java Jazz 2004, saya masih kerja di Trax Magazine. Kami salah satu media partner. Harusnya, ID otomatis didapat kan? Dan saya pun sudah mendaftar jauh-jauh hari. Mengirim foto fsn biodata.

Tapi, ketika hari konferensi pers digelar dan ID dibagikan, ID kami tak ada. Belum tercetak. Padahal, di daftar mereka, ada nama saya dan fotografer. Berjam-jam saya harus menunggu panitia mencari ID buat saya. Menunggu. Menunggu. Dan menunggu. Hingga ID liputan beres dibagikan. Bertanya pada panitia yang katanya bertanggungjawab, tapi dioper lagi. Bertanya lagi, dioper lagi.

Hari itu, saya pulang dengan tangan kosong dan penuh amarah. Setelah beberapa kali marah-marah lewat telepon, akhirnya panitia bisa juga memberi ID liputan saya sehari atau dua hari setelahnya, saya lupa.

Java Jazz kedua, saya tak datang. Jadwalnya berbarengan dengan ospek di kampus.

Java Jazz ketiga, saya mendaftar lewat situs resmi mereka. Pendaftaran masih dibuka, ketika saya mendaftar. Dan setelah selesai mendaftar, situs itu memberi keterangan kalau saya telah berhasil mendaftar dan mengucapkan terima kasih telah mendaftar.

Di hari konferensi pers digelar, nama saya tak ada dalam daftar mereka. Lagi-lagi, orang-orang di sana, yang seharusnya bisa memberi keterangan soal ID, mengoper saya ke sana ke mari. Tanya si ini, disuruh ke si itu. Tanya si itu, suruh balik lagi ke si anu. Setelah tahu panitia mana yang benar-benar bertugas, ternyata orang itu begitu sibuk sehingga pertanyaan-pertanyaan saya dijawab dengan ketus. Padahal, kalau mereka sudah menetapkan satu orang yang bertanggungjawab untuk pengurusan ID, seharusnya orang itu diberi pekerjaan satu itu saja di hari konferensi pers.

Lagi-lagi, saya harus marah-marah. Solusinya, panitia memberi saya ID harian. Saya diminta datang ke venue, cari dia di meja media, menunjukkan ID pers, lalu diberi ID liputan.

Hari pertama Java Jazz 2007, saya datang sore hari. Mencari meja media, tak terlihat di pintu luar. Meja resepsionis penerima media, adanya di balik pintu masuk. Untuk masuk ke sana, perlu ID resmi mereka. Sedangkan untuk mendapatkan ID liputan, saya harus masuk dulu ke sana. Serba salah. Penjaga di depan tak tahu menahu soal proses itu.

Beberapa jurnalis di luar pun dijanjikan hal yang sama. Si panitia dihubungi lewat telepon tapi tak juga menjawab. Akhirnya, dia bisa datang setelah salah satu jurnalis yang kami kenal mendatangi dia di Media Room yang ternyata letaknya ada di dalam gedung. Wakwaw.

Java Jazz 2007, panitia tak hanya memberi ID, tapi juga memberi gelang kertas sebagai usaha pencegahan ID disalahgunakan. Siapapun yang kedapatan gelangnya robek atau digunting, nama dia akan dicoret. Ini pertamakalinya, saya merasakan kalau panitia Java Jazz seperti yang terlalu mencurigai mereka yang diberi ID.

Java Jazz 2008, saya yang salah. Lupa mendaftar. Pendaftaran ditutup tanggal 8 Februari, saya baru mendaftar tanggal 20 Februari. Akhir dari pembahasan.

Kali ini, mereka memakai sistem barcode. Wajah mereka yang memakai ID, akan terpampang dengan besar di layar komputer. Panitia lantas mencocokkan wajah di komputer dengan wajah si pemegang ID.

Mereka yang kebagian ID harian, sistemnya masih sama dengan tahun lalu. Akhirnya, cara yang sama harus ditempuh. Si jurnalis harus menitipkan ID pers dan KTP nya pada temannya, si teman mendatangi Media Room yang ada di dalam gedung, dan mengambilkan ID itu untuk temannya.

Sedangkan saya, kali ini saya mendapat tiket harian saja untuk hari Jumat, atas kebaikan Rileks.com. Hehe. Dan memang memakai tiket ternyata lebih nyaman ketimbang memakai ID. Para penjaga tak memberikan perhatian berlebihan untuk yang membeli tiket. Toh, kesempatan memotret pun sama antara pemegang ID dan pembeli tiket. Kecuali special show tentunya.

Dan inilah salah satu kelebihan Java Jazz Festival ketimbang pagelaran musik lainnya. Kamu tak perlu punya ID untuk bisa memotret dengan puas para penampil di sana. Satu-satunya yang membedakan adalah soal spesifikasi kamera dan lensa yang kamu gunakan. Selebihnya, kesempatannya sama. Banyak sekali penonton yang membawa kamera. Dan tak sedikit yang membawa lensa mahal. Haha. Kalau jurnalis, lensa mahal punya kantor. Mereka, lensa mahal punya sendiri. :p

Seorang kawan mengatakan, ada 7000 ID dicetak untuk Java Jazz kali ini.

Maka, rasanya bukan sesuatu yang berlebihan ketika saya merasa di sana seperti lebih banyak yang memakai ID ketimbang yang beli tiket. Yang beli tiket pun, mungkin tak sedikit juga yang gratisan atau membeli tiket di akhir tahun lalu, yang harganya jauh lebih murah. Tiket harian untuk tiga hari saja, dijual Rp 500 ribu.

Ini agaknya mendukung keterangan seorang kawan lain yang mengatakan kalau Java Jazz Festival sebenarnya bukan proyek menguntungkan. Coba saja hitung. Biaya menyewa JHCC salama tiga hari. Biaya menyewa kamar di Hotel Sultan selama minimal tiga hari, entah untuk berapa ratus kamar. Biaya menyewa tata cahaya dan panggung. Biaya untuk membayar kru produksi. Saya tak tahu berapa banyak tiga sponsor besar seperti BNI, Medco Energy dan Telkomsel memberi kontribusi finansialnya, tapi rasanya bukan tak mungkin juga biaya produksi belum tertutup oleh ke-tiga sponsor itu.

TENTANG PERTUNJUKKAN

Saya bukan penggemar berat jazz. Walaupun saya masih bisa menikmati musiknya. Tapi, ketika datang ke sebuah festival jazz, saya pasti dibuat bingung. Tak kenal para penampilnya. Di brosur jadwal pun, panitia tak memberi review singkat soal para penampil itu. Harusnya, ketika penonton masuk, brosur berisi jadwal dan biodata atau review singkat soal para penampil itu. Dengan begitu, mereka yang tak tahu banyak soal jazz bisa mendapat gambaran singkat. Ini akan membantu dalam memutuskan ruang mana dan penampil mana yang harus ditonton.

Bayangkan. Begitu banyak panggung, begitu banyak musisi, tampil di saat yang hampir bersamaan. Jarak dari satu ruang ke ruang lainnya menjadi terasa jauh karena begitu banyak orang di sana. Belum lagi, usaha untuk masuk ke salah satu ruangan perlu tenaga ekstra kalau ternyata penontonnya begitu membludak.

Akhirnya, selalu begitu. Saya masuk ke salah satu ruangan. Menonton 15 sampai 20 menit, lalu pergi. Mencari lagi pertunjukkan yang lain. Lihat sebentar, pergi lagi. Dan begitu seterusnya. Bagusnya, sekarang saya membawa kamera. Jadi, ada tujuan yang lebih jelas biarpun saya tak menikmati pertunjukkannya. Yah minimal untuk mengambil gambar lah.

Yang paling popular buat saya, mungkin hanya Incognito. Itu pun karena dulu, jaman kuliah, teman saya, Syauqy, selalu menyanyikan lagunya dan memuji-muji band itu. Dan sejak 2005, pemandangan si hitam gitaris Incognito, berjalan-jalan di JHCC atau Hotel Sultan selalu tampak.

Ternyata, mbahnya band Top 40 dan band café itu, jadi salah satu duta Java Jazz. Mereka yang akan mengajak lagi musisi-musisi Jazz untuk mau tampil di Indonesia. Atau, dengan kata lain, Incognito adalah home band Java Jazz. Mungkin, lama-lama, si hitam gitaris Incognito akan tinggal di Indonesia, masuk infotainment, mengawini artis lokal, nongkrong di Tanah Abang bersama komunitas kulit hitam dan nge-kos di Haji Nawi.

“Tadinya, Santana mau datang ke Indonesia. Tapi, karena di sini masih banyak pohon ditebang di hutan-hutan, dia menolak untuk datang,” kata Peter Gontha, pendiri Java Jazz Festival waktu konferensi pers digelar, Rabu [5/3] lalu.

Makanya, kali ini Java Jazz diselipkan dengan pesan-pesan lingkungan hidup—seperti halnya trend yang berkembang sekarang. Go Green! Begitu kata pesannya. Di pintu masuk, ada tenda kampanye Go Green itu. Beberapa kali saya lihat sih, di hari pertama, Jumat [7/3] lalu, tenda itu sepi pengunjung. Yah, mungkin mereka datang ke JHCC untuk melihat pertunjukkan musik, bukan mau mencari tahu bagaimana caranya mendaur ulang sebuah produk.

Peter berharap, dengan adanya pesan Go Green ini, tahun depan Santana mau datang setelah melihat ada juga orang Indonesia yang peduli terhadap lingkungan.

Dan soal pertunjukkan, Java Jazz 2004 yang paling meninggalkan kesan buat saya. the God Father of Soul datang! Yeah! James Brown! James Brown! Pertunjukkan yang megah dengan belasan musisi di satu panggung dan dikemas dengan baik. Sebelum James Brown masuk, MC menyemangati penonton membuat panas suasana. Sedikit mirip dengan konsep Orkes Melayu sih kalau versi lokalnya. Tapi, rasanya kemegahan pertunjukkan James Brown baru bisa disaingi oleh pertunjukkan Beyonce beberapa bulan lalu di Mangga Dua.

Tahun lalu, masih ada Jaque Mates yang secara musik lebih dekat ke hati saya. Trio blues bersaudara, yang katanya Java Jazz tahun lalu pertunjukkan terakhir mereka. Tapi, tahun ini saya melihat Tika membawakan lagu “Birokrasi Kompleks”-nya Slank dengan baik. Ah, coba saja dia tidak malu waktu dua tahun lalu diminta tampil oleh Bimbim di konser ulang tahun Slank. “Birokrasi Kompleks” versi Tika benar-benar memberikan nuansa baru, tanpa menghilangkan daya tarik yang sudah ada dari lagu aslinya. Kalau ada tribute album buat Slank, saya merekomendasikan Tika untuk ikut berpartisipasi.

Di jadwal, saya melihat tertulis Sol Project featuring Kaka dan Abdee Slank di lobby stage 3. Ditunggu beberapa menit, tak kunjung datang juga. Padahal, saya dan Jaymz sudah saling berdiskusi soal yang mana stage 3. Ternyata, Sol Project sudah bermain di depan mata kami. Belakangan saya tahu kalau Kaka dan Abdee tak jadi tampil bersama mereka.

Oya, Renee Olstead juga cukup memukau. Panggung dia yang paling menarik secara artistik. Artwork Java Jazz Festival di panggungnya, berbeda dengan artwork Java Jazz di panggung lainnya. Dengan Ron King Big Band, Renee Olstead memang sangat menghibur. Saya kira, Olstead sudah cukup berumur, yah seumuran ibu-ibu atau minimal mbak-mbak lah. Ternyata dia baru mau 19 tahun. Mungkin membawakan musik tua membuat Olstead terlihat lebih tua dari umurnya.

Tapi, dari tahun ke tahun, yang paling menarik buat saya soal Java Jazz, mungkin hanya keramaiannya saja. Ramai tapi tidak panas. Sebagai sebuah festival memang nyaman. Ruangan dingin. Bersih. Tata cahaya dan tata suara yang bagus. Keamanan terjamin. Bebas memotret. Kalau saja ada Java Rock Festival, di tempat yang sama, sepertinya saya akan lebih menikmati.

Hampir tengah malam saya pulang. Betis panas. Pinggang sakit. Selalu begitu setiap Java Jazz.

We Don’t Need Fairy Tales!

Sinjitos Records sedang giat-giatnya memromosikan album Curiouser and Curiouser dari Santamonica.

Rabu [5/3] siang lalu di Blitz Megaplex, mereka mengundang jurnalis dalam rangka pemutaran video klip single kedua mereka, “Ribbons and Tie.”

Bicara soal musik Santamonica, saya sempat dibuat mengernyitkan kening ketika sekira setahun lalu melihat mereka di panggung, membawakan musik yang berbeda dari EP mereka. Entah karena kuping saya masih menyukai musik mereka yang sebelumnya, entah karena saya belum siap mendengar perubahan itu, entah karena waktu itu Santamonica memang sedang tak bermain dengan bagus, entah karena aransemen musik yang mereka mainkan di dua pensi itu belum sematang seperti di album terbaru mereka.

Musik mereka sekarang, terdengar sophisticated, tapi masih catchy dan tak membuat kening berkerut. Yah sedikit banyak mirip nuansa penampilan Iyub dan Dita lah. Fashionable, pintar memadupadankan warna dan model, tapi tidak terlihat aneh dan tidak terlihat intimidatif buat orang yang non fashionable macam saya. Tanpa pretensi.

Dan sebagai sebuah single, “Ribbons and Tie,” ini sepertinya punya potensi untuk jadi single yang bisa menarik kuping baru. Sekarang, persoalannya tinggal bagaimana kemampuan promosi Sinjitos Records dan tentu saja kemauan media massa elektronik untuk mau memberi porsi buat musik Santamonica.

Dan siang itu, video klip yang tak kalah menarik dari lagunya, diputar perdana di depan publik. Ini kali pertama buat saya menyaksikan pemutaran video klip di bioskop mewah macam Blitz Megaplex. Seperti pemutaran perdana film layar lebar saja. Ada penjelasan dari sutradara, perkenalan kru, tanya jawab, dan tentu saja makan gratis. Hehe.

Si sutradara, mengambil konsep video klip itu dari lirik “We don’t need fairytales, we do it our way.” Intinya, sebuah kisah tak harus seindah dongeng dan punya akhiran yang klise bahagia hidup selamanya.

Saya jadi teringat tiga film bertema cinta yang beberapa hari lalu saya tonton; “Ayat-ayat Cinta,” “Love,” dan “From Bandung With Love.”

“Love” yang paling bagus menurut saya, di antara ketiganya. Dan saya sarankan untuk tidak tergiur dengan “From Bandung With Love.” “Ayat-ayat Cinta,” sinematografinya bagus, Carissa Putri-nya memang sungguh pemandangan yang indah, tapi ceritanya saya heran. Cerita begitu kok bisa digilai banyak perempuan ya? Itu kan seperti menggabungkan kisah Nabi Yusuf dan Sleeping Beauty, serta oya jangan lupa, Catatan Si Boy. Hanya bedanya, di “Ayat-ayat Cinta,” diselipi dakwah. Ada kesamaannya dengan film-film Rhoma Irama jaman dulu lah. Hehe.

Ah, maaf jadi melantur.

Begitu mendengar penjelasan soal inspirasi konsep klip, saya jadi bertanya-tanya, apakah lirik itu berasal dari pengalaman Iyub dan Dita. Mungkinkah ada orang yang pernah memandang sebelah mata pada kisah cinta mereka? Hehe. Maklum, asumsi-asumsi itu pengaruh tiga film cinta yang saya tonton beberapa hari sebelumnya. Ketika saya tanya Dita soal apakah lirik ‘We don’t need fairy tales, we do it our way,” merupakan salah satu bentuk kritik terhadap kisah cinta yang cantik seperti kisah cinta di dalam komik, dia menjawab…

Hmmm, saya lupa tepatnya dia menjawab apa. Hahaha. Kurang lebih sih, dia menjawab ya memang ada unsur kritik itu lah, sedikit. Maaf saya lupa. Mungkin kalau Dita membaca ini, bisa menjawab pertanyaannya. :p

Anyway, ini sedikit foto dari acara Rabu siang itu. Waktu Iyub mengundang saya ke sana, dan saya bertanya untuk majalah apa Yub?

“Majalah Multiply aja Leh,” dia tertawa.

Jadi, ini dia Yub, liputannya.

LALIEUR LALEULEUS PAREGEL

Ini cerita singkat tentang band yang lahir dari kampus, dan tak pernah berkembang.

Terbentuk tahun 2002 dalam rangka mengisi acara Malam Keakraban Fikom Unpad. Setelah beberapa kali main di kampus, Jatinangor, panggung semacam malam hiburan di Buah Batu, band ini bermain untuk terakhir kalinya pada tahun 2004, di resepsi pernikahan seorang kawan di Gedung Nestle.

Nopember 2007, seorang mahasiswi Fikom Unpad angkatan ’07 menghubungi saya. Meminta kami bermain lagi di Makrab Fikom, pada Desember 2007.

Kami menolak. Terlalu mepet waktunya. Tak cukup untuk latihan. Gitaris kami saja, terakhir memegang gitar empat tahun lalu.

Ternyata, acaranya diundur. Januari 2008, si mahasiswi menghubungi saya lagi. Mengatakan kalau jadinya, acara digelar 29 Februari.

Dia terus bertanya. Akhirnya kami luluh.

Led Zeppelin reuni. The Police reuni. Dan kami pun reuni. Hahaha. Sok keren gini ya penjelasannya. Padahal mah, timing-nya tepat. Kami sedang rindu merasakan panggung.

“It’s been a long time since I rock n’ roll,” kata Led Zeppelin.

***

Di studio, ketika latihan untuk pertama kalinya, sejak tiga tahun, para players kami lupa kord. Haha. Saya yakin ini tak terjadi pada Led Zeppelin atau The Police.

Tapi persoalan tak berhenti di situ.

Menjelang latihan ke-2, Ricky Yudhistira, gitaris kami, sakit tipes dan DBD. Yusep Permana aka Pecuy bersedia menggantikan. Dia datang di hari latihan. Tapi, bassist Riki Rusmayadi, gitaris Didiet Rahardja dan vokalis Robby Trishna Sutedja tak bisa datang. Akhirnya, hanya saya, Pecuy, vokalis Bayu Kurnia Prasetya dan drummer Roby Nugraha.

Padahal, tinggal ada waktu satu kali latihan lagi, pas di hari H. Beberapa jam sebelum manggung.Tanpa ada kepastian apakah Didiet bisa datang atau tidak. Karena dia juga sakit.

Ah, susahnya punya dua gitaris yang sudah tua dan sakit-sakitan. :p Atau, ini karena karma punya nama LALIEUR LALEULEUS PAREGEL [alias, pusing-pusing, lemes-lemes, pegel-pegel]?

Hari H, Pecuy mengatakan tak bisa ikut bermain. Dia harus meng-edit film dokumenter di Jakarta. Didiet juga tak bisa bermain. Masih sakit. Ini berarti, hari H, kami terancam tak punya gitaris.

Di tengah kebingungan, Ricky mengabarkan akan datang ke Bandung. Dia baru pulih dari tipes dan DBD. Tadinya, ingin menonton saja. Ah syukurlah. Akhirnya, kami terpaksa harus bermain dengan satu gitar.

Damn. Padahal, ini seharusnya reuni. Sebuah come back yang special. Hahaha.

***

Acara musik di Fikom Unpad selalu sama dari tahun ke tahun. Selalu ada Pom Pom Boys, modern dancer dan band-band kampus. Jaman saya kuliah sih, band-bandnya biasanya didominasi band-band Top 40 atau R n B. Yang biasa membawakan lagu, “Have Fun Go Mad!” Yang biasanya pas lagu itu, gadis-gadis menyambut histeris dan berjoget menggila.

Dan saya, lebih senang menyaksikannya. Hehe.

Kami bermain sekira jam sebelas malam. Sebelumnya, ada band-band dengan kostum aneh-aneh dan para personelnya berusaha melucu. Sepertinya memang harus begitu untuk bisa bertahan di kampus Fikom Unpad. Harus ada unsur menghibur atau lucu atau main-main.

Buktinya, dari sekian banyak band kampus, kami salah satu yang bisa diingat. Padahal, yang suka melucu di panggung cuma saya. Padahal, saya melucu karena tak tahu lagi harus berbuat apa. Tugas utama saya, membuat penonton panas. Menjadi penyambung lidah antara pemain dan penonton. Padahal, saya melucu karena tak bisa bermain instrumen dan tak bisa bernyanyi dengan baik. Padahal, kami penginnya dianggap sebagai rock band yang berbahaya! Hahaha.

Malam itu, kami membawakan lima lagu; Gadis Extravaganza, Kehidupan, Preman, The KKK Took My Baby Away dan Bento. Dua lagu terakhir ternyata liriknya dihapal dengan baik oleh penonton.

Silakan lihat foto-foto ini. Untuk sekali ini, saya posting foto saya dan kawan-kawan lagi manggung. Hehe. Semua hasil jepretan Tetta. Yah sudahlah. Lagi-lagi saya sedang malas untuk menulis. Mungkin karena terlalu jauh jarak dari kejadian dan waktu posting. Mungkin karena saya sekarang sedang Lalieur Laleuleus Paregel.

Minim Bicara Banyak Aksi

Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang non penggemar Bjork yang datang Selasa [12/2] malam kemarin ke Tennis Indoor Senayan.

Biarpun bukan penggemar Bjork, tapi, jika ada kesempatan untuk bisa menontonnya gratis, tentu saja tak akan saya lewatkan begitu saja. Hehe. Maka, jam tiga sore, saya sudah ada di sana. Panitia membagikan ID liputan untuk wartawan. Karena, saya belum terdaftar di sana, saya dan beberapa jurnalis harus menunggu hingga mereka yang ada di dalam daftar, mendapat ID. Tiga jam kemudian, ID baru bisa saya dapatkan.

Jam enam sore, beberapa orang penonton sudah mengantri di pintu masuk. Mungkin mereka ingin mendapatkan tempat paling strategis. Saya lupa, kapan terakhir kali melakukan itu. Datang ke konser beberapa jam sebelumnya. Mungkin dulu, pertengahan ’90-an, ketika menyaksikan konser Slank atau Iwan Fals masih memberikan dampak psikologis yang luar biasa buat saya.

Ketika menunggu mendapatkan ID, saya sempat berbincang dengan kolektor musik/pengamat/penyiar radio, Denny Sakrie. “Gue sering ngintip bloglu Leh. Awalnya nggak sengaja sih, waktu search di Google, eh masuk ke bloglu. Ternyata, ada yang lagi ngomongin gue,” dia terkekeh.

Nah, mungkin dengan begini, dia bakal datang lagi ke blog ini. :p

Denny bicara soal kemungkinan betapa banyak penonton yang datang ke konser malam itu, yang tak benar-benar mengenal konser Bjork. “Datang ke konser ini, yah kayak membeli imej lah,” kata dia, kurang lebih.

“Walaupun tak ada salahnya juga sih, orang nonton konser biarpun cuma pengen beli gengsi atau nggak terlalu kenal sama yang maen. Adri Subono mah, nggak akan peduli, yang dateng ngerti Bjork atau nggak,” kata saya.

Oya, saya mengutip pembicaraan kami tanpa seijin Denny Sakrie sebelumnya. Hehe. Jadi, kalau saya melakukan ini untuk media massa, maka saya bersalah.

***

Hujan turun dengan deras, sekira jam empat sore. Panitia Java Musikindo bicara sesuatu soal hujan akan turun sore itu, supaya nanti malam reda. Sepertinya, mereka bicara soal pengajian juga. Soal sering mengadakan pengajian, jadi tak butuh pawang hujan lagi.

Adri Subono, yang tiba-tiba ada di ruangan pers, berbincang-bincang dengan Denny Sakrie dan beberapa orang wartawan. “Gila, tadi di dalem pas lagi soundcheck, si Bjork nge-balance sendiri. Dia nyanyi, terus ke mixer, nge-balance, terus nyanyi lagi,” kata Adri.

Dan sekira jam itu pula, saya melihat seorang perempuan memakai gaun angsa. Mondar-mandir di depan ruang pers. Di lengan kanannya, ada nama “Isobel” ditulis tangan. Perempuan itu menarik perhatian beberapa fotografer yang ada di sana.

Tapi, sepertinya hanya perempuan itu saja, yang dandanannya terlihat sangat berbeda. Mencoba menyesuaikan diri dengan musisi yang ditonton. Memang, untuk die hard fans musisi lain, mereka bisa dengan mudah meniru dandanan idola, tanpa harus malu pergi dari rumah berdandan seperti itu.

Bayangkan jika si perempuan tadi, berangkat dari rumah dengan angkutan umum. Saya tak bisa membayangkan angsa naik metro mini. Membayangkan modern darlings di angkutan umum sih, masih tak terlalu mencolok perhatian.

Hanya sayang, saya tak melihat Melly Goeslaw atau Astrid malam itu.

Saya heran, kenapa juga pengaruh yang kurang bagus dari Bjork malah yang ditiru Melly? Menggunakan kostum bodoh. Bukannya mengambil musikalitas dia sebagai inspirasinya.

Tak peduli apa kata penggemar sejati Bjork, menurut saya, dia seringkali memakai kostum bodoh. Eksentrik yang nyaris menggelikan sebenarnya. Dan malam itu, Bjork memakai kostum merah dengan lipatan-lipatan yang dari kejauhan mengingatkan saya pada kerupuk warna-warni yang biasa ditemukan saat lebaran.

***

Panitia memberi jatah 40 fotografer saja. Jadi, untuk beberapa media yang tergabung di satu grup, panitia memberi jatah satu fotografer saja. Media yang tak mendapat jatah memotret, tinggal meminta kepada panitia. Dan tak ada kamera video diperkenankan di konser malam itu.

Keputusan ini, langsung dari manajemen Bjork. Konon [jangan dibalik], di Jepang atau di negara mana ya saya lupa, Bjork tak mengijinkan fotografer mengambil gambar di konsernya.

Tapi, ketika jam delapan malam, saya masuk ke ruangan pers, saya melihat Tria Changcuters. Dengan ID fotografer, yang tak akan dipakainya. Oh lucky me, saya pikir. Akhirnya, saya bisa juga memotret. Setelah sebelumnya, berusaha meminta pada Dedidude yang jadi official photographer untuk Universal musik.

Satria Ramadhan ikut beruntung. Dia, yang ada di ruangan itu, tak tahu sedang apa, tiba-tiba ikut mengintil masuk ke dalam, ke area fotografer. Dan kami berdua terkejut. Karena fotografer memotret dari sebelah mixer.

Saya hanya membawa lensa 17 – 40. Karena di formulir perjanjian media, tak disebutkan fotografer harus membawa lensa tele, saya pikir kali ini pasti boleh memotret di depan panggung.

Wakwaw. Saya salah.

Dan hanya bisa memandang sedih. Menyaksikan fotografer-fotografer itu dengan asiknya memotret menggunakan lensa tele. Hiks. Padahal, dengan lensa 70 – 200, saya bisa mendapatkan gambar yang cukup jelas. Karena jarak dari mixer ke panggung di Tennis Indoor tak sejauh di Plennary Hall waktu konser MCR beberapa waktu lalu.

Makanya, saya hanya bisa memberi foto sedikit. Itu pun kecil sekali. Jadi, silakan imajinasikan sendiri seperti apa konsernya. Untuk memenuhi kekurangan foto, saya akhirnya memilih untuk memotret mereka yang datang.

***

Sekira jam setengah sembilan malam, atau kurang beberapa menit lah, Bjork muncul. Tanpa basa-basi. Langsung menghajar dengan lagu yang saya tak kenal. Kalau mau setlist-nya, silakan buka link milik Dedidude:

http://dedidude.multiply.com/journal/item/67/Bjork_Volta_Tour_-_Jakarta

Panggung Bjork, berhiaskan beberapa baliho berwarna-warni. Nuansanya mengingatkan pada nuansa film-film bertema kerajaan dan ksatria. Kostum yang senada, dipakai musisi di Brass Section. Lengkap dengan bendera kecil yang dipakai setiap musisinya. Saya tak tahu, apakah tema ini diambil dari konsep albumnya. Yang lebih mengerti Bjork mungkin bisa memberi penjelasan.

Di panggung, selain layar besar di kanan kiri panggung, ada tiga LCD. Yang paling menarik sih, setiap si musisi memainkan alat yang saya tak tahu namanya itu, tapi kesannya futuristik sekali.

Walaupun, ekspektasi saya sebenarnya lebih dari itu. Saya mengharapkan ada layar besar di belakang panggung, atau suguhan visual lain ketimbang sekadar sinar laser dan baliho sebagai penghias latar belakang. Tapi, apa hak saya juga berharap lebih. Masuk gratis saja sudah syukur. Kalau mereka yang membeli tiket seharga 600 ribu dan 500 ribu, mungkin boleh meminta lebih.

Bjork hanya mengucapkan sedikit sekali kalimat, ketika dia tak bernyanyi.

“Thank you,”

“Thank you very much,”

“You are beautiful people,”

“Sorry, I don’t know your language…”

Selebihnya, dia bernyanyi. Berlari. Menari. Menggerak-gerakkan tangannya, seperti sedang menonjok-nonjok lembut.

Ketika pertunjukkan sudah berjalan sejam lebih beberapa belas menit, mungkin lima belas lah, Bjork pamit.

“This is our last song,” katanya sebelum memainkan entah lagu apa itu, dan pamit.

Tapi, lampu Tennis Indoor masih belum dinyalakan. Berarti, Bjork juga seperti banyak musisi lain. Melakukan adegan pura-pura pamit, padahal ingin diteriaki ‘We want more!’

Kalau ini skenario film, maka adegan pura-pura pamit tadi, seperti adegan klise namun sepertinya wajib ada dalam film. Seperti halnya, adegan berlari-lari mengejar pasangan yang diidamkan, dalam film drama romantis.

Okelah, tak apa-apa. Sepertinya, walaupun terkesan klise, toh penonton sepertinya sudah tahu sama tahu. Maka, tak berapa lama setelah Bjork dkk pamit, penonton—mungkin dengan perasaan malas tapi terpaksa karena yah mau bagaimana lagi—berteriak,

“We want more!”

“Wadimor!”

“Curanmor!”

Hehe.

Harusnya, mereka berteriak,

“Expensive!”

“Expensive!”

“Expensive!”

Biar Bjork tahu, masa’ mereka harus bayar setengah juta, tapi hanya disuguhkan pertunjukkan yang tanggung?

Setelah adegan meminta encore, adegan standar berikutnya, adalah musisi muncul kembali di panggung. Dengan wajah sumringah. Seakan-akan tak mengira, penonton akan meminta encore.

Saya kira, Bjork akan mengganti kostum kerupuk itu dengan kostum lain yang lebih absurd, karena cukup lama baru dia muncul kembali. Ternyata tidak. Padahal, kalau dia mengganti kostum, kalau ada Melly Goeslaw di sana, dia akan punya referensi lagi selain kostum kerupuk.

Adegan encore ditutup dengan adegan penembakan kertas-kertas kecil di udara. Seperti penutupan sebuah festival. Lengkap dengan sinar laser hijau yang memberi kesan semakin meriah, padahal kalau dipikir-pikir, ya cuma sinar laser.

Kalau ini acara teve, maka adegan penembakan kertas tadi, akan ditutup dengan rentetan nama-nama menghiasi layar kaca, disertai adegan host mengatakan kata penutup yang juga klise,

“Terima kasih pemirsa telah menyaksikan acara kami. Saya beserta kerabat kerja yang bertugas, mengucapkan sampai jumpa!”

Emo…Bukan…Emo…Bukan…Emo…?

My Chemical Romance konser dengan banyak F Words di depan banyak teenagers.

Rasanya, baru kali ini saya menyaksikan konser kelompok musik luar yang vokalisnya menggunakan banyak sekali kata ‘fuck’ di dalam kalimat. Bahkan di konser Megadeth atau MXPX pun, seingat saya tak sebanyak seperti di konser Kamis [31/1] malam lalu.

Damn. Seharusnya, saya membuat tulisan ini beberapa hari lalu. Dengan begitu, tulisannya akan lebih informatif. Tapi, sejak belakangan ini akses saya pada koneksi internet yang semakin susah, saya telah kehilangan semangat untuk menulis itu. Belum lagi, sehari setelah konser, saya harus ke Bandung. Berangkat jam enam pagi. Baru menyentuh lagi foto-foto ini, hari Seninnya.

Dan baru Selasa [5/2] malam ini, koneksi itu akhirnya bisa saya dapatkan.

Oke, singkat saja.

Kali ini, fotografer ditempatkan di belakang barisan festival. Sebelah FOH. Seingat saya, konser Java Musikindo yang seperti ini, waktu Avril Lavigne datang ke Jakarta beberapa tahun lalu. Hanya bedanya, kali ini, panitia menyediakan undakan untuk para fotografer.

Jarak antara fotografer dan panggung, memang tidak sejauh konser Beyonce. Kalau kamu tahu seperti apa ruangan Plennary Hall, mungkin kamu bisa lebih membayangkan sejauh apa fotografer dengan panggung. Kabarnya, menurut teman saya, Ricky, fotografer The Jakarta Post, kondisi seperti itu akhirnya membuat Associated Press tidak mengambil kesempatan memotretnya.

Seperti di banyak konser Java, crowd yang datang sebagian besar berpenampilan menarik. Harga tiket yang dibandrol setengah juta, dengan sendirinya, menyeleksi orang-orang yang datang.

Lagi-lagi, dominasi remaja terlihat di sana. Tak sedikit dari mereka yang berpakaian hitam-hitam. Tapi, auranya bukan tipikal kostum hitam-hitam seperti di konser rock dengan penonton yang lebih tua dan militan. Hitam-hitam di konser Kamis malam itu, tak terasa tangguh atau gagah. Tapi hitam-hitam in a cute way. Hehe.

Walau begitu, sepertinya ribuan remaja itu merasa My Chemical Romance adalah musik terkeras yang pernah mereka dengar. Paling rock! Paling metal! Hahaha. Oke, yang ini hanya asumsi sembarangan saya. Tapi, yang jelas, tak sedikit dari mereka yang mengacungkan jarinya, membentuk tanduk. Sambil berteriak keras, histeris.

Selepas jatah tiga lagu memotret, saya ke tempat penitipan yang ternyata penuh. Ketika akan masuk kembali ke venue, petugas keamanan menahan fotografer yang membawa tas karena tak bisa dititipkan. Mereka memaksa kami untuk menitipkan di teman yang membawa mobil.

Di sini, saya melihat bukti kelebihan Java Musikindo.

Di tengah kebingungan, tak berapa lama, Adri Subono, the boss himself, sudah ada di sana. Memastikan petugas keamanan untuk akhirnya mengijinkan fotografer masuk membawa kamera.

Lalu, seperti apa konsernya? Ah, saya sudah malas untuk menceritakannya kembali. Yang paling saya ingat, di beberapa lagu, terdengar feedback. Padahal, mereka bukan noise rock. Hehe.

Sejak kapan My Chemical Romance jadi Duta Noise? :p

Radang Punya Tangerang

Ini [seharusnya] feature pertama saya untuk Playboy. Baru kali pertama saya menulis tema di luar musik, untuk feature. Ini pun karena rekan kerja [lebih tepatnya senior editor] saya yang mengusulkan tak mau menulisnya, malah menyuruh saya yang menulis. Maka, jadilah feature ini.

Tapi, karena kemudian temanya dianggap ‘too grim,’  feature ini tak pernah dimuat. Dan sepertinya tak akan pernah dimuat. Lagipula, kondisi Tangerang yang saya ceritakan di tulisan ini, mungkin sudah jauh berbeda dengan kondisi ketika saya menulis feature ini.

TOLONG. Kalau di antara kamu ada yang membaca, dan siapa tau tertarik, simpan saja untuk diri sendiri. Tulisan ini tidak untuk dikutip, apalagi kalau untuk media massa.

 

Kabupaten Tangerang punya problema yang berkepanjangan. Tersebar di Kali Prancis, Dadap dan Sungai Tahang.

 

Rambut Yuni—sebut saja begitu—masih basah siang itu, ketika dia keluar dari kamar menyambut saya dan rekan-rekan yang datang ke salah satu café di kawasan Kali Prancis, Kabupaten Tangerang, Banten. Dikeluarkannya dua piring kacang garing dalam kemasan, beberapa botol bir, teh botol, gelas dan es batu dalam mangkok.  

 

Sebutan café bisa jadi kurang tepat digunakan untuk tempat itu. Jangan bayangkan tempat kongkow yang nyaman, seperti biasa Anda temui di pusat perbelanjaan atau di perkotaan. Bangunan di pinggir sungai itu, berbahan dasar kayu dan bambu. Hanya lantainya yang terbuat dari semen. Itu pun, tanpa keramik. Di sepanjang dinding, terpampang poster selebritis lokal dan luar. Untuk pengunjung pun, hanya tersedia kursi plastik. Di sudut ruangan, terdapat setumpuk pengeras suara yang nyaris menyentuh langit-langit.

 

Cahaya matahari yang hanya bisa masuk sedikit membuat ruangan itu agak gelap. Dedaunan yang entah dari mana datangnya, mengotori lantai. Secara tampilan, kondisi di sana memang cukup memprihatinkan. Saya tidak tahu bagaimana kondisi di dalam kamar tempat Yuni dan rekan-rekannya tinggal. Bisa jadi, lebih memprihatinkan. Karena tepat di atas aliran sungai.   

 

Sayup-sayup, musik dangdut yang sudah dicampur dengan house music terdengar dari café sebelah.  

 

Perempuan tua berdaster, merokok, menyuruh Yuni menuangkan minuman yang tadi disuguhkannya ke dalam gelas. Dipanggilnya perempuan-perempuan teman kerja Yuni yang lain. Sebagian besar dari mereka rupanya masih berusia belasan dan 20-an. Yuni, mengaku berusia lima belas tahun.  

 

Dia datang dari Indramayu. Baru lima bulan Yuni bekerja sebagai pelayan di sana. Dibandingkan penampilan rekan-rekan kerjanya yang lain, Yuni termasuk yang paling cantik. Walaupun tentu saja, standar cantik di sana menurun beberapa tingkat dibandingkan standar cantik kalau Anda jalan-jalan di pusat perbelanjaan atau di kampus-kampus misalnya.

 

Rekan-rekan Yuni, satu persatu meninggalkan meja saya. Mungkin karena sadar, mereka tidak dapat perhatian besar seperti yang didapat Yuni. Lantas, mereka memilih duduk di bale-bale dekat pintu masuk. Setidaknya, ada lima perempuan yang bekerja sebagai pelayan di café itu. Sementara itu, di kawasan itu ada belasan mungkin puluhan café di sana. Anda hitung sendiri berapa perempuan yang bekerja di sana sebagai pelayan.  

 

Dan job desk mereka bukan hanya menyuguhkan minuman dan makanan. Tidak terkecuali Yuni. Dengan tarif Rp 200 ribu, Yuni siap melayani laki-laki di dalam kamar. Short time. Saya sendiri sebenarnya, agak susah percaya. Ternyata ada juga orang yang sengaja datang ke sana untuk mencari kepuasan seksual. Di kamar yang tidak bersih, di daerah pinggir sungai. Kekagetan saya bertambah lagi, setelah tahu harga satu buah teh botol di sana, Rp 12 ribu. Maaf saja. Tapi, teh botol di cafe pinggir sungai seharga Rp 12 ribu, mungkin akan membuat Anda juga kaget.          

 

Setelah hampir satu jam, saya tinggalkan café tempat Yuni bekerja.  

 

Lima belas menit berkendara, saya tiba di Dadap; kawasan lain di Tangerang tempat beroperasinya café-café seperti di Kali Prancis. Kondisi jalan menuju kawasan itu, buruk. Lubang menimbulkan genangan air di beberapa bagian jalan. Sepanjang jalan, bangunan pergudangan terlihat cukup dominan.  

 

Café-café di Dadap, terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan café-café di Kali Prancis. Lokasi Dadap sedikit mengingatkan saya akan suasana kota kecil di film-film Koboi. Jalan utama yang becek membagi daerah itu jadi dua bagian. Sepanjang jalan, café-café bercampur dengan pemukiman penduduk, mushola, warung, dan  pangkalan ojek. Jika diteruskan, di ujung jalan utama itu, Anda bisa melihat laut.

 

Saya mampir di salah satu café. Tidak seperti di Kali Prancis, bangunan di sana terbuat dari semen. Tapi, ada tiga kesamaannya. Tumpukan pengeras suara yang nyaris menyentuh langit-langit, kursi-kursi plastik untuk pengunjung serta musik dangdut yang dicampur dengan house music. 

 

Standard operation procedure-nya pun sama. Berbotol-botol minuman, es batu dalam mangkok, serta kacang garing langsung tersedia di meja. Saya bertemu Revi dan Yati—bukan nama sebenarnya—di sana. Revi baru enam bulan bekerja di sana. Pemudi asli Sukabumi yang pernah tinggal di Bandung itu mengaku datang ke sana karena ajakan temannya. “Saya tidak tertarik kerja di Saritem. Soalnya, kalau di sana kan nggak pake basa-basi. Langsung maen,” kata Revi sambil tersenyum.

 

Memang, Dadap dan Kali Prancis bukanlah lokalisasi seperti Saritem di Bandung atau Gang Dolly di Surabaya. Tapi, akan kecil sekali jumlah warga Tangerang yang tidak tahu keberadaan usaha prostitusi di Dadap, Kali Prancis dan satu lagi di Sungai Tahang. Ketiganya masuk Kabupaten Kosambi.                      

 

Menurut Gatot Yan, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Dadap, café-café mulai bermunculan di sana sejak tahun 1982, ketika proyek pelebaran Bandara Soekarno Hatta dimulai. Sesuatu yang normal sebetulnya. Muncul warung di sekitar proyek pembangunan. “Tapi, entah siapa yang mulai punya inisiatif menyediakan pelayan plus di warung-warung itu,” kata Gatot.  

 

Sekarang, jumlah café di kawasan Dadap sudah ratusan. Dengan setiap café mempekerjakan minimal lima hingga tujuh pelayan, jumlah perempuan yang bekerja di sana, tentu saja jauh lebih banyak dibandingkan mereka di Kali Prancis.  

 

Tidak semuanya datang ke sana langsung bekerja sebagai pelayan plus pekerja seks komersial [PSK]. Yati misalnya. Ketika April 2000 datang ke sana, dia hanya bekerja sebagai pelayan. Murni sebagai pelayan. Baru medio Oktober 2000, dia memutuskan untuk melayani tamu sampai di kamar—begitu istilah yang dipakainya.

 

“Waktu itu kan udah mau deket lebaran. Kebutuhan saya banyak. Harus beliin baju buat adik-adik di kampung. Makanya, saya bilang ke mamih, saya udah siap melayani di kamar,” kenang Yati.  

 

Dengan harga Rp 3 juta, Yati menjual kegadisannya kepada pengusaha Taiwan. Dia tidak tahu berapa yang diterima sang mamih. Yang jelas, Rp 3 juta adalah angka bersih yang diterimanya.  

 

Perasaaan takut sekaligus sedih bercampur jadi satu. Takut karena dia harus melayani sang pengusaha Taiwan. Takut karena kalau dia tidak melakukan itu, dia tidak punya cukup uang untuk lebaran. Sedih karena dia ingat keluarganya di kampung. Dan sedih karena dia harus menempuh cara seperti itu untuk mendapatkan uang.  

 

Klise memang. Ekonomi pula yang akhirnya jadi alasan Yati bekerja di sana. Hingga sekarang, orangtua Yati tidak pernah tahu kalau anaknya bekerja sebagai PSK. “Yang mereka tahu, saya kerja di sini cuma jadi pelayan. Kalau mereka tahu saya kerja begini, nggak tahu deh mereka bakal bilang apa,” ujar Yati lirih.  

 

Orangtua Yati sakit-sakitan. Ayahnya punya penyakit jantung. Ibunya liver. Yati masih punya enam adik yang harus dia biayai. Sudah lima tahun mereka pindah ke kampung di Jawa Tengah. Biaya hidup di sana relatif lebih kecil dibandingkan biaya hidup di Jakarta. Sebelumnya, keluarga Yati tinggal di Jakarta. Waktu masih sehat, ayah Yati bekerja sebagai Satuan Pengamanan. Kini, praktis kehidupan keluarga Yati ada di pundaknya.

 

***

 

Kabupaten Tangerang, dengan luas 1.110 km2 terletak tepat di sebelah barat Jakarta; berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Provinsi DKI Jakarta di timur, Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Lebak di selatan, serta Kabupaten Serang di timur. Pada 2003, jumlah penduduknya 3.187.000 jiwa. Dengan kepadatan 2.870 jiwa/km2.

 

Tangerang merupakan wilayah perkembangan Jakarta yang terdiri dari 26 Kecamatan dan 316 desa/kelurahan. Secara umum, Kabupaten Tangerang dapat dikelompokkan menjadi tiga wilayah pertumbuhan, yakni: Pusat Pertumbuhan Wilayah Serpong, berada di bagian timur (berbatasan dengan Jakarta), difokuskan sebagai wilayah permukiman dan komersial. Pusat Pertumbuhan Balaraja dan Tigaraksa, berada di bagian barat, difokuskan sebagai daerah sentra industri, permukiman, dan pusat pemerintahan. Pusat Pertumbuhan Teluk Naga, berada di wilayah pesisir, mengedepankan industri pariwisata alam dan bahari, industri maritim, perikanan, pertambakan, dan pelabuhan.  

 

Secara geografis, Desa Dadap ada di wilayah pantai utara Kabupaten Tangerang yang berbatasan langsung dengan wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Desa dengan luas areal 596,2 Ha dan dihuni 11.513 jiwa penduduk ini adalah pintu gerbang Propinsi Banten dari jalur utara.

 

Di tengah proses pembangunan Kabupaten Tangerang, kehadiran usaha prostitusi di Dadap, Kali Prancis dan Sungai Tahang jelas jadi hambatan tersendiri. Bagaikan radang yang tidak juga kunjung sembuh. Apalagi tetangga mereka, Kota Tangerang sedang giat memberantas minuman keras dan prostitusi lewat Perda No 7 & 8 Tahun 2005.  

 

Berbeda dengan Surabaya yang mengakui Gang Dolly sebagai lokalisasi dan menarik retribusi dari tempat itu untuk masuk Kas Daerah, Kabupaten Tangerang hingga saat ini tidak mengakui Dadap, Kali Prancis dan Sungai Tahang sebagai lokalisasi. Ada yang menginginkan kawasan itu dibersihkan. Ada juga yang masih menggantungkan hidupnya di sana. Dan nyatanya, segitiga emas itu masih hidup.  

 

“Tangerang sudah dinyatakan sebagai daerah relijius, yang sebagian penduduknya beragama Islam. Kalau Pemda mengakui daerah itu jadi lokalisasi, nanti bahaya. Menghadapi ulama. Kalau sudah bicara lokalisasi, berarti sudah ada keabsahan, legalitas. Justru kami yang tidak mau,” kata Ahmad Djabir, Kabag Humas dan Protokoler Pemda Kabupaten Tangerang.  

 

Bukan cuma Djabir yang bisa bicara agama. Karena Yati juga sadar, apa yang dia lakukan selama ini tidak benar jika dilihat dari sudut pandang agama. Ada pergulatan di dalam batin Yati. Mana yang harus dia perhatikan. Perintah Tuhan, atau rasa sayang dia terhadap keluarganya? Di satu sisi, Yati merasa berdosa karena melanggar larangan Tuhan. Di sisi lain, dia merasa telah berbuat baik dengan menyambung hidup keluarganya. Bekerja di Dadap.

 

“Saya juga selalu mau tanya sama orang yang ngerti. Kalau saya kerja begini kan dosa. Tapi, kalau saya nggak kerja begini, keluarga saya nggak bisa hidup. Makanya, hukumnya apa ya buat saya?” lanjut Yati.

 

Yati mengaku selalu dihantui perasaan berdosa. Makanya, dia selalu berusaha menyibukkan diri jika tidak sedang bekerja. Apapun dikerjakannya, supaya tidak teringat dosa. “Daripada di kosan diem, mending saya ngobrol sama temen-temen. Apalagi kalau udah nonton sinetron-sinetron agama tuh. Suka takut,” katanya lagi.  

 

Adalah wajar ketika akhirnya kehadiran kawasan itu tidak diinginkan. Entah sudah berapa kali kawasan itu coba ditertibkan. Bahkan, di tahun 2001, sempat diratakan dengan tanah. Toh, café-café itu akhirnya bisa muncul kembali. Suka tidak suka, banyak orang merasa diuntungkan dengan adanya kawasan itu. Banyak yang menggantungkan penghasilannya di sana. Masih banyak Yati lain di sana. Yang kisah hidupnya lebih mengharukan.  

 

Belakangan ini, minimal satu kali dalam sebulan diadakan penertiban. Hanya saja, Yati selalu beruntung. Sejak tahun 2000, setiap ada razia, Yati selalu kebetulan sedang tidak bekerja. Sudah sering Yati mendengar kabar teman-temannya dibawa petugas trantib. Tapi, toh mereka bisa kembali bekerja juga setelah ditebus sang mamih. Selama ada uang, maka tidak akan ada masalah. Mereka yang dirazia selalu bisa kembali.  

 

“Dulu sih, razia cuma sering waktu bulan puasa aja. Padahal, kalau bulan puasa saya lagi butuh duit banyak buat lebaran,” kata Yati.

 

Uang pula yang kemudian membuat kawasan itu tetap bertahan. Menurut Yati, minimal Rp 40 ribu dipungut dari setiap café per malam. Uang sebanyak itu, untuk oknum petugas kepolisian, pertahanan sipil dan preman. Bahkan, untuk kas pemuda lokal pun, setiap café sepakat memberi Rp 30 ribu per bulan. “Dari pada tiap malem dateng minta jatah, akhirnya mereka dikasih aja jatah per bulan,” kata Yati.  

 

Itu baru setiap café. Masih ada pungutan diambil dari mereka yang bermalam di kamar. Besar uang yang harus disetor adalah Rp 5 ribu. Dengan kata lain, kalau Anda bermalam di sana, selain ongkos jasa dan kamar, Anda harus menyediakan uang Rp 5 ribu. “Biasanya Hansip yang kebagian jaga malem itu, ngetok pintu-pintu kamar. Yang nginep tinggal ngasih lima ribu,” tambah Yati.  

 

Djabir hanya tertawa ketika diminta pendapatnya soal pungutan di Dadap. “Saya belum tahu. Retribusi ke mana? Pemda belum tahu sejauh itu. Karena belum ada yang mengirim informasi ke Pemda. Hanya masuk ke wartawan doang kali,” kata Djabir.

 

Bicara soal penghasilan, Yati bisa mendapat minimal Rp 3 juta per bulan. Uang sebanyak itu, setengahnya dia kirim ke kampung untuk biaya hidup keluarganya. Setengahnya lagi, dia pakai untuk biaya hidup sehari-hari; bayar kos, membeli peralatan kosmetik, hingga makan.  

 

Sekarang, kerja apa bisa dapat uang segitu sebulan? Saya juga cuma lulusan SMP. Paling cuma bisa jadi buruh pabrik. Itu pun nggak akan dapet uang sebanyak itu,” kata Yati terbata-bata.

 

Gambaran di atas masih kasar. Berapa uang yang beredar sebenarnya tentu jauh lebih besar. Apalagi pemilik café yang mendapat penghasilan dari minuman dan sewa kamar. Sebagai gambaran saja, jika Anda memakai jasa Yati, Anda harus membayar Rp 150 ribu. Selain itu, Anda juga harus mengeluarkan uang Rp 50 ribu untuk sewa kamar.  

 

Bisnis yang menguntungkan? Tentu saja. Apalagi bisnis ini adalah salah satu bisnis tertua dalam sejarah manusia. Sampai kapanpun, kebutuhan manusia akan seks akan terus ada. Itu sebabnya, banyak juga mereka yang teguh mempertahankan keberadaan Dadap dan sekitarnya.  

 

“Yang jelas, masyarakat yang peduli dengan masyarakat yang punya kepentingan, lebih berani ketimbang masyarakat yang punya kepentingan. Yang punya kepentingan kan preman, dapat jatah. Akhirnya, kami tutup mata. Merem saja. Persoalannya ke perut lah,” ujar Maman, tokoh pemuda Pantura yang sudah beberapa kali bersama teman-temannya ikut serta dalam usaha penertiban kawasan Dadap dan sekitarnya. Bahkan, Maman akhirnya harus berhadapan dengan kawan sendiri ketika berusaha menertibkan kawasan itu. Ini yang kemudian jadi dilema.  

 

Saya juga temui Barhum HS, Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kabupaten Tangerang, Fraksi PDIP untuk bicara soal ini. Barhum sejak kecil tinggal di Tangerang. Salah satu masyarakat yang diwakilinya adalah Dadap. Usaha prostitusi di Dadap sudah ada sepanjang ingatan Barhum.

 

“Saya bingung, makin besar itu penertiban, besok makin besar saja. Ternyata dapat perlawanan yang keras dari masyarakat. Nggak jelas, apakah masyarakat setempat, atau pendatang, yang jelas melawan. Dari pihak kami sih, atas nama lembaga, pada prinisipnya harus ditertibkan. Karena daerah itu potensial untuk pariwisata,” kata Barhum.  

 

Sedangkan Maman mengaku kalau wacana soal menjadikan kawasan itu sebagai lokalisasi sebenarnya sudah ada. Tinggal formula atau formatnya yang bagaimana itu yang belum ditemukan. “Kalau bicara tata ruang, memang harus di tempat yang peruntukkannya untuk itu. Cuma, di mana di Tangerang ini tempat begitu? Kecuali di pulau, mungkin. Sedangkan kalau pulau, masuknya di Jakarta. Sudah bukan lagi Propinsi Banten,” lanjut Maman.

 

Persoalan lokasi memang kemudian yang akhirnya timbul. Menurut Gatot Yan, Koordinator Jaringan Pengawal Kebijakan Publik [JAKAP] Tangerang, tidak akan ada yang rela kecamatannya dijadikan lokalisasi. “Sekarang ketiga daerah itu kan ada di Kecamatan Kosambi. Terus terang saja, sebagai warga Kosambi saya ingin itu dipindahkan. Tapi, warga kecamatan lain juga pasti akan keberatan. Kalau begini kan pusing,” kata Gatot sambil tertawa.

 

Barhum senada dengan Maman soal menjadikan Dadap, Kali Prancis dan Sungai Tahang sebagai lokalisasi resmi. “Kalau menurut saya, sah-sah saja kalau mau dijadikan lokalisasi, tapi tergantung kesepakatan elemen yang ada. Dari pada liar dan tidak jelas kontribusinya. Kalau memang sudah ada kesepakatan, dan retribusinya jelas masuk ke kas daerah, kenapa tidak?” kata Barhum.  

 

Drs. Ahmad Buety Nasir, mantan Ketua [2003-2004] yang sekarang jadi anggota Komisi E, DPRD Banten tidak sependapat dengan Barhum dan Maman. Bagi Buety, apapun alasannya, prostitusi tidak bisa ditolerir. “Bagaimanapun kejahatan adalah kejahatan. Dihapuskan saja! Soal kemudian, bagaimana memberikan jalan keluarnya, itu kewajiban pemerintah. Walaupun dilokalisir, tidak ada jaminan tidak akan menjalar ke pemukiman masyarakat. Ini yang terancam itu kan masyarakat Pantura. Masalah sosialnya, penyakit masyarakat, HIV/AIDS,” kata Buety tegas.  

 

Buety mengakui, ketika kawasan itu dihapus, memang harusnya ada solusi. Tapi, sampai saat ini, perhatian pemerintah di bidang sosial, kesejahteraan masyarakat, masih sangat minim. Komisi E DPRD Prop. Banten, menurut Buety terus berjuang dalam bidang pendidikan. Hanya, sampai saat ini Buety dan kawan-kawan masih merasa jadi kaum marjinal.  

 

“Sejak tahun 2004, kami menganggarkan dana pendidikan jauh lebih besar dari propinsi-propinsi lain. Termasuk masalah rehabilitasi, pelatihan sumber daya manusia. PSK itu harus diberi itu ketika tempat itu dihapuskan. Ada solusi, ada jaminan di mana mereka diarahkan jadi tenaga kerja yang baik,” kata Buety.  

 

Pendidikan, agaknya salah satu solusi menghadapi persoalan Dadap dan sekitarnya. Karena Yati dan Revi mengaku tidak punya keahlian apa-apa. Dan bekerja sebagai pelayan plus, relatif tidak membutuhkan keahlian yang tinggi. Hanya bermodal kesabaran dan kemauan. Yati agaknya tahu benar soal kesabaran ini. Tidak sedikit klien dia yang berlaku kasar. Fisik maupun perkataan. Butuh kesabaran untuk menghadapi itu.

 

“Kehidupan di sini keras. Saya nggak mau ada adik saya yang ngikutin jejak saya,” ujar Yati.

 

Makanya, Yati punya rencana untuk membuka usaha kecil-kecilan di kampungnya di Jawa Tengah. Usaha es goreng yang bisa dikelola ayah atau adiknya. “Kata bapak, di kampung, banyak orang yang suka sama es goreng. Kalau jualan itu kayaknya bisa laku,” lanjut Yati.  Modalnya, akan dia ambil dari hasil arisan. Mungkin bagi sebagian orang, jumlahnya tidak terlalu besar; Rp 2 juta. Tapi jumlah itu dirasa cukup buat Yati. Harapannya, jika kelak suatu saat Yati tidak lagi bekerja di Dadap, dia bisa meneruskan usaha itu bersama keluarganya.  

 

Yati memang mengaku belum punya jaminan kalau rencana usaha es goreng itu akan berjalan dengan baik. Tapi, setidaknya dia merasa telah berbuat sesuatu untuk menghadapi masa depannya. Jika suatu saat Dadap tidak lagi ada. Atau, jika suatu saat Yati tidak bisa lagi bekerja di sana.  

 

Sedangkan soal masa depan Dadap, sebenarnya pernah ada usaha untuk menjadikan kawasan itu sebagai kawasan pariwisata. Seperti yang disebutkan Barhum sebelumnya. Dia lantas mengatakan soal rencana reklamasi pantai di tahun 2001. “Sudah ada Koperasi Pasir Putih. Kemarin kan sempat mencuat masalah SK Pasir Putih, karena belum ada perijinan, amdal dan lain-lain. Sempat ada reklamasi, tapi terhenti,” kata Barhum.

 

Gatot Yan menulis soal kegiatan reklamasi pantai ini. Dalam suarapublik.org dia mengungkapkan ketika tahun 2001 Bupati Tangerang mengeluarkan SK kepada 3 pengembang untuk melakukan pengembangan Kawasan Wisata Pantai, sejak itu pantai Dadap makin memburuk. Puluhan hektar bibir pantai yang direklamasi serta diubah jadi hamparan tanah merah membuat sekitar 10 hektar kawasan pantai raib dan mengalami penyempitan cukup parah.

 

Akibatnya, terjadi sedimentasi yang signifikan akibat gerusan ombak sehingga menimbulkan penyempitan dan pendangkalan yang hebat di sekitar muara Dadap. Ini membuat perahu nelayan sering kandas sehingga menyulitkan lalu lintas mereka. Pendangkalan Teluk Dadap juga membuat banjir. Jika hujan, air dari hulu tertahan timbunan lumpur di muara dan tumpah ke pemukiman penduduk. Dalam sebulan, warga bisa 3 kali dikirimi luapan air laut.  

 

Agaknya bisa dipahami kalau menghadapi persoalan di Dadap dan sekitarnya memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Para narasumber yang saya temui mengaku belum punya solusi yang jitu guna menghadapi persoalan ini.  

 

Lantas, wacana membuat Perda seperti di Kota Tangerang pun sempat mencuat. Walaupun sampai saat ini semua itu masih sebatas wacana. Djabir malah mengatakan belum adanya Perda sebagai salah satu kendala dalam menertibkan kawasan itu. “Untuk menindaknya, harus ada payung hukumnya. Larangan yang jelas. Seperti di kota Tangerang. Makanya, kalau sudah ada perda, lebih enak,” kata Djabir. 

 

Tapi, bagi Barhum, dari konteks investasi, wacana Perda ini akan berlawanan. Seandainya Kabupaten Tangerang berencana melakukan perkembangan ekonomi dari pariwisata. “Ada rencana pembangunan mega proyek di sepanjang 45 km perbatasan pinggir pantai di Kabupaten Tangerang. Perlu pengkajian yang matang. Secara kultur, sosial. Artinya, pengembangan atau daya beli investor untuk menanamkan modal. Dilema untuk kabupaten. Kota yang tidak punya aset pantai juga masih bergejolak,” lanjut Barhum.

 

Sebetulnya Gatot Yan pernah mengusulkan agar di atas lahan itu dibuat jalur hijau begitu beres ditertibkan. “Kalau langsung dibangun jalur hijau di sana, pasti bangunan-bangunan itu tidak akan tumbuh lagi,” kata Gatot.  

 

Ketika ditanya soal ini kepada Djabir, dia menyebut dana sebagai alasan kenapa tidak dibangun jalur hijau waktu kawasan itu diratakan. Untuk sementara, menurut Djabir masih banyak hal lain yang mendesak untuk masyarakat di Kabupaten Tangerang. Dia malah mengatakan harusnya pihak PT Angkasa Pura 2 sebagai pemilik tanah ikut bertanggungjawab soal ini.  

 

“Tanah, tanah dia. Kalau mau, kerjasama. Patungan! Mungkin belum ada dananya, atau mentingin yang lain dulu. Sama aja kabupaten juga. Banyak yang perlu dibiayai,” kata Djabir.  

 

Saya tanya Yati apa jadinya kalau Dadap benar-benar ditertibkan untuk selamanya. Dia sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pertanyaan saya. Sambil menghela nafas, dia mengaku akan menerima kenyataan seandainya Dadap dan sekitarnya dibersihkan.  

 

“Kerja seperti ini kan selalu was-was. Saya juga pengin berhenti kalau ada pekerjaan halal yang bisa menghasilkan uang. Boleh aja kami ditertibkan. Tapi, bisa nggak pemerintah ngasih saya pekerjaan yang duitnya bisa buat saya menghidupi keluarga? Kalau bisa, saya dengan senang hati bakal tinggalin Dadap dan kerjaan ini,” kata Yati.