Serigala Mencari Kata

Saya
sedang ikut pelatihan jurnalisme sastrawi yang diadakan Yayasan Pantau,
mulai Senin [12/6] kemarin. Nah, setiap beres pertemuan, peserta diberi
tugas yang akan dibacakan di depan kelas di pertemuan berikutnya. Tugas
pertama, menuliskan kembali obrolan dengan teman, narasumber, atau
pacar. Topiknya bisa apa saja.




Jadi grogi nih. Soalnya tulisannya
besok bakal dikritik orang lain. Saya takut tulisan saya tidak cukup
bagus. Belum pernah soalnya, dievaluasi langsung di depan kelas. Waktu
kuliah sih ada yang seperti ini. Tulisan dikritisi dosen. Tapi, itu
statusnya mahasiswa. Masih mewakili individu. Besok berbeda. Ada gengsi
majalah yang ikut dipertaruhkan. Hehe.




Oya, ini tulisan yang akan saya
kumpulkan besok. Hasil mengobrol dengan Arian. Harusnya sih, direkam.
Tapi, kalau bilang begitu, takut tidak keluar semua. Baru beberapa
menit yang lalu, saya beri tau Arian soal ini.

Serigala Mencari Kata

Oleh Soleh Solihun

Tattoo, Levi’s belel, kaos hitam,
kaca mata, sepatu Vans Old School, musik rock. Tidak banyak lelaki usia 30-an
dengan ciri-ciri seperti itu. Arian Arifin salah satunya. Pekerjaan tetapnya;
Deputy Editor Playboy Indonesia.
Pekerjaan sampingannya; musisi. Nama Arian memang belum dikenal banyak orang.
Tidak setenar Kaka Slank atau Ariel Peterpan. Seorang temannya, menyebut dia
selebritis tanggung.

Tahun ’92 di Bandung, seorang
teman bernama Robin Malau mengajak dia bergabung di band metal bernama Puppen—diambil
dari kata tai. Posisi vokalis yang semula akan diisi Robin akhirnya diserahkan
pada Arian yang belakangan memakai nama Arian13. Puppen merilis 1 album dan 2
mini album. Salah satu pelopor dalam gerakan musik independen di Indonesia. Setelah
sepuluh tahun berkarir, Puppen bubar. Mantan drummernya, kini laris sebagai
penyanyi yang digilai banyak perempuan: Marcel.

Arian lantas membentuk Seringai,
yang merilis mini album pada tahun 2004 di bawah Parau Records. Hanya terjual
10 ribu kopi memang. Tapi, Seringai ikut meramaikan banyak panggung pentas seni
SMA-SMA di Jakarta dan Bandung.
Meraih banyak penggemar remaja. Bukan remaja tipe penggemar Marcel. “Kalau
bisa  nyanyi sih, gua juga udah bikin
musik kayak Marcel kali,” ujarnya sambil tertawa.

Siang itu, di meja kerjanya,
Arian terlihat serius. Matanya menatap monitor komputer. Dia dikejar deadline. Bukan dari pekerjaan tetapnya.
Seringai sedang mempersiapkan album perdana. Sudah dua bulan mereka masuk
studio. Sekarang tinggal take vokal. Sembilan
lagu sudah rampung. Tiga lagi belum ada lirik. Itu tugas dia. “Anak-anak sih,
pada nggak bisa bikin lirik. Jadi, semuanya harus gua. Waktu di Puppen juga
begitu. Lirik selalu gua yang bikin. Emang yang lain nyumbang tema, tapi tetep
yang bikin lirik gua. Kalau mood-nya
lagi bagus sih, sehari bisa bikin tiga lagu. Nggak tau kenapa, sekarang lagi
mentok,” katanya.

Matanya masih pada monitor yang
menampilkan program iTunes. Musik tanpa vokal dari upcoming album Seringai diputar dalam volume tinggi. Tiga lagu yang
belum rampung itu, diberi judul sementara “Something dengan Citra”, “Something
dengan Kekerasan Domestik” dan “Standar Ganda”. Sejauh ini, dia dan
teman-temannya cukup puas dengan karya mereka. “Waktu di studio, terus
ngedengerin lagu yang udah beres, anak-anak pada ngomong, ‘Anjing! Kita emang keren
ya!’ Hahaha. Gua penasaran, band lain begitu juga nggak ya? Belagu,” kata dia,
mengenang salah satu momen di studio.

Seringai memainkan musik yang
mereka sebut rock oktan tinggi, crossover
antara rock dan metal. Itu jadi judul mini album mereka, “High Octane Rock”. Untuk
album perdana nanti, rencananya diberi judul “Serigala Militia”. “Gua sih
sebenernya kurang setuju. Pengin yang lebih keren aja. Tapi, kalah suara sama
anak-anak. Nggak tau ya, gua sih udah bosen sama kata itu. Mungkin karena gua
yang bikin. Jadi udah lama denger kata itu. Emang sih, itu lebih catchy. Cukup
menjual. Aing yeuh [Gua nih] Serigala
Militia! Gua sih penginnya, judul yang bisa bikin orang mikir. Kayak misalnya,
‘Amplifier, Amplifier!’ Itu kan
bakal bikin orang bilang, apa sih?”

Arian memang terobsesi dengan
serigala. Cover CD Seringai, tengkorak serigala. Nama Serigala dia gunakan untuk
account Friendster, My Space, dan
email. Foto serigala juga dia tampilkan di profil Yahoo Messenger-nya. Dan
Serigala Militia, adalah nama yang dia pilih untuk memanggil mereka yang
menyukai musik Seringai. “Gua suka dengan estetika serigala. Evil. Serigala kan suka berkelompok.
Wolf pack. Keren aja. Brrrrrrjjzjzl. [menirukan suara gerombolan serigala yang
berlarian]. Bukan persoalan jantan atau tidak jantan. Terus, kalau diketik kata
‘Seringai’ di google, selain Seringai sebagai nama band, yang paling sering
muncul kalimat ‘seringai sang serigala’. Identik dengan evil. Sesuatu yang
menakutkan. Cocok aja buat imej band.”   

Dia masih asik mencari kata-kata.
Monitor komputernya kali ini menampilkan lirik yang belum rampung; “Something
dengan Kekerasan Domestik”. “Di kasus begini, biasanya kan ceweknya yang jadi korban. Tapi, mereka
selalu merasa mereka yang salah. Berharap cowoknya bisa berubah. Gua sering
denger cerita begini dari temen. Ini kepedulian gua sama mereka. Nanti,
gara-gara lagu ini, banyak cewek yang aaaaah [tangannya menirukan gerakan
mengelu-elu dan histeris]. Hahaha.”

 

Serigala Mencari Kata

Saya sedang ikut pelatihan jurnalisme sastrawi yang diadakan Yayasan Pantau, mulai Senin [12/6] kemarin. Nah, setiap beres pertemuan, peserta diberi tugas yang akan dibacakan di depan kelas di pertemuan berikutnya. Tugas pertama, menuliskan kembali obrolan dengan teman, narasumber, atau pacar. Topiknya bisa apa saja.

Jadi grogi nih. Soalnya tulisannya besok bakal dikritik orang lain. Saya takut tulisan saya tidak cukup bagus. Belum pernah soalnya, dievaluasi langsung di depan kelas. Waktu kuliah sih ada yang seperti ini. Tulisan dikritisi dosen. Tapi, itu statusnya mahasiswa. Masih mewakili individu. Besok berbeda. Ada gengsi majalah yang ikut dipertaruhkan. Hehe.

Oya, ini tulisan yang akan saya kumpulkan besok. Hasil mengobrol dengan Arian. Harusnya sih, direkam. Tapi, kalau bilang begitu, takut tidak keluar semua. Baru beberapa menit yang lalu, saya beri tau Arian soal ini.

Serigala Mencari Kata
Oleh Soleh Solihun

Tattoo, Levi’s belel, kaos hitam, kaca mata, sepatu Vans Old School, musik rock. Tidak banyak lelaki usia 30-an dengan ciri-ciri seperti itu. Arian Arifin salah satunya. Pekerjaan tetapnya; Deputy Editor Playboy Indonesia. Pekerjaan sampingannya; musisi. Nama Arian memang belum dikenal banyak orang. Tidak setenar Kaka Slank atau Ariel Peterpan. Seorang temannya, menyebut dia selebritis tanggung.

Tahun ’92 di Bandung, seorang teman bernama Robin Malau mengajak dia bergabung di band metal bernama Puppen—diambil dari kata tai. Posisi vokalis yang semula akan diisi Robin akhirnya diserahkan pada Arian yang belakangan memakai nama Arian13. Puppen merilis 1 album dan 2 mini album. Salah satu pelopor dalam gerakan musik independen di Indonesia. Setelah sepuluh tahun berkarir, Puppen bubar. Mantan drummernya, kini laris sebagai penyanyi yang digilai banyak perempuan: Marcel.

Arian lantas membentuk Seringai, yang merilis mini album pada tahun 2004 di bawah Parau Records. Hanya terjual 10 ribu kopi memang. Tapi, Seringai ikut meramaikan banyak panggung pentas seni SMA-SMA di Jakarta dan Bandung. Meraih banyak penggemar remaja. Bukan remaja tipe penggemar Marcel. “Kalau bisa nyanyi sih, gua juga udah bikin musik kayak Marcel kali,” ujarnya sambil tertawa.

Siang itu, di meja kerjanya, Arian terlihat serius. Matanya menatap monitor komputer. Dia dikejar deadline. Bukan dari pekerjaan tetapnya. Seringai sedang mempersiapkan album perdana. Sudah dua bulan mereka masuk studio. Sekarang tinggal take vokal. Sembilan lagu sudah rampung. Tiga lagi belum ada lirik. Itu tugas dia. “Anak-anak sih, pada nggak bisa bikin lirik. Jadi, semuanya harus gua. Waktu di Puppen juga begitu. Lirik selalu gua yang bikin. Emang yang lain nyumbang tema, tapi tetep yang bikin lirik gua. Kalau mood-nya lagi bagus sih, sehari bisa bikin tiga lagu. Nggak tau kenapa, sekarang lagi mentok,” katanya.

Matanya masih pada monitor yang menampilkan program iTunes. Musik tanpa vokal dari upcoming album Seringai diputar dalam volume tinggi. Tiga lagu yang belum rampung itu, diberi judul sementara “Something dengan Citra”, “Something dengan Kekerasan Domestik” dan “Standar Ganda”. Sejauh ini, dia dan teman-temannya cukup puas dengan karya mereka. “Waktu di studio, terus ngedengerin lagu yang udah beres, anak-anak pada ngomong, ‘Anjing! Kita emang keren ya!’ Hahaha. Gua penasaran, band lain begitu juga nggak ya? Belagu,” kata dia, mengenang salah satu momen di studio.

Seringai memainkan musik yang mereka sebut rock oktan tinggi, crossover antara rock dan metal. Itu jadi judul mini album mereka, “High Octane Rock”. Untuk album perdana nanti, rencananya diberi judul “Serigala Militia”. “Gua sih sebenernya kurang setuju. Pengin yang lebih keren aja. Tapi, kalah suara sama anak-anak. Nggak tau ya, gua sih udah bosen sama kata itu. Mungkin karena gua yang bikin. Jadi udah lama denger kata itu. Emang sih, itu lebih catchy. Cukup menjual. Aing yeuh [Gua nih] Serigala Militia! Gua sih penginnya, judul yang bisa bikin orang mikir. Kayak misalnya, ‘Amplifier, Amplifier!’ Itu kan bakal bikin orang bilang, apa sih?”

Arian memang terobsesi dengan serigala. Cover CD Seringai, tengkorak serigala. Nama Serigala dia gunakan untuk account Friendster, My Space, dan email. Foto serigala juga dia tampilkan di profil Yahoo Messenger-nya. Dan Serigala Militia, adalah nama yang dia pilih untuk memanggil mereka yang menyukai musik Seringai. “Gua suka dengan estetika serigala. Evil. Serigala kan suka berkelompok. Wolf pack. Keren aja. Brrrrrrjjzjzl. [menirukan suara gerombolan serigala yang berlarian]. Bukan persoalan jantan atau tidak jantan. Terus, kalau diketik kata ‘Seringai’ di google, selain Seringai sebagai nama band, yang paling sering muncul kalimat ‘seringai sang serigala’. Identik dengan evil. Sesuatu yang menakutkan. Cocok aja buat imej band.”

Dia masih asik mencari kata-kata. Monitor komputernya kali ini menampilkan lirik yang belum rampung; “Something dengan Kekerasan Domestik”. “Di kasus begini, biasanya kan ceweknya yang jadi korban. Tapi, mereka selalu merasa mereka yang salah. Berharap cowoknya bisa berubah. Gua sering denger cerita begini dari temen. Ini kepedulian gua sama mereka. Nanti, gara-gara lagu ini, banyak cewek yang aaaaah [tangannya menirukan gerakan mengelu-elu dan histeris]. Hahaha.”

Dua Puluh Tujuh

Hari ini, saya genap berusia 27 tahun.

Alhamdulillah. Bisa juga sampai di titik ini. Padahal, waktu masih kelas 6 SD lah, saya selalu mengira tidak akan melebihi usia 18 tahun. Benar. Waktu itu, saya yakin tidak akan diberi umur panjang. Tidak tau kenapa saya punya pikiran seperti itu. Mungkin kematian seorang teman main di kompleks, meninggalkan trauma mendalam buat saya.

Dulu, waktu masih kecil, saya kira, 25 tahun saya sudah akan jadi bapak-bapak. Ternyata…Hehe. Saya masih belum merasa tua. Dan tidak ingin merasa tua!

Saya harus menulis momen ini. Supaya sepuluh tahun kemudian–kalau saya masih ada, tentu saja–saya bisa ingat. Bahwa ketika usia saya genap 27 tahun, saya sedang bekerja di ibukota. Di taman bermain yang sempat menghebohkan Indonesia. Hehe.

Dan saya ada di sekeliling teman-teman yang menyenangkan. Serta tentu saja, pacar yang menyayangi saya. Hehe. Ini sebenarnya yang paling membedakan ulang tahun sekarang dengan terdahulu. Bah. Curhat lagi nih. Gawat.

Yah, Alhamdulillah. Pacar saya datang ke kantor membawa kue dari Dapur Cokelat. Jadi, teman-teman di kantor yang sejak siang menagih traktiran bisa sedikit terobati. Hehe. Terima kasih, sayang!

Walaupun, kurang ajar juga tuh Dapur Cokelat. Pacar saya memesan cokelat bergambar lidah Rolling Stones di atas kuenya. Tapi, mereka malah memberi gambar sekelompok lelaki gondrong ’70-an di padang rumput. Entah siapa mereka. Yang jelas, mbak Dapur Cokelat mengira itu The Stones. “Kami browsing di internet juga loh mbak,” ucap mbak Dapur Cokelat bangga kepada pacar saya.

Tidak mengurangi kelezatan kuenya memang. Tapi, merusak gambaran kue yang diharapkan Tetta, pacar saya.

Oya, kembali soal menulis momen. Bukan apa-apa. Saya nyaris tidak ingat, sepuluh tahun lalu, ketika saya genap berusia 17 tahun, saya sedang di mana. Yang jelas, saya tidak merayakannya dengan siapa pun. Itu yang saya ingat. Bahkan, siapa saja teman SMA yang tau ulang tahun saya waktu itu, saya tidak ingat.

Ah sudahlah. Ijinkan saya tutup tulisan ini dengan kutipan lagu “I Don’t Want to Grow Up” dari The Ramones.

I don’t wanna have to shout it out I don’t want my hair to fall out
I don’t wanna be filled with doubt I don’t wanna be a good boy scout
I don’t wanna have to learn to count I don’t wanna have the biggest amount
I don’t wanna grow up

I’d rather stay here in my room Nothin’ out there but sad and gloom
I don’t wanna live in a big old tomb on grand street
When I see the 5 o’clock news I don’t wanna grow up
Comb their hair and shine their shoes I don’t wanna grow up

Stay around in my old hometown I don’t wanna put no money down
I don’t wanna get a big old loan Work them fingers to the bone
I don’t wanna float on a broom Fall in love, get married then boom
How the hell did it get here so soon I don’t wanna grow up

Dua Puluh Tujuh

Hari ini, saya genap berusia 27 tahun.



Alhamdulillah. Bisa juga
sampai di titik ini. Padahal, waktu masih kelas 6 SD lah, saya selalu
mengira tidak akan melebihi usia 18 tahun. Benar. Waktu itu, saya yakin
tidak akan diberi umur panjang. Tidak tau kenapa saya punya pikiran
seperti itu. Mungkin kematian seorang teman main di kompleks,
meninggalkan trauma mendalam buat saya.




Dulu, waktu masih kecil,
saya kira, 25 tahun saya sudah akan jadi bapak-bapak. Ternyata…Hehe.
Saya masih belum merasa tua. Dan tidak ingin merasa tua!




Saya
harus menulis momen ini. Supaya sepuluh tahun kemudian–kalau saya
masih ada, tentu saja–saya bisa ingat. Bahwa ketika usia saya genap 27
tahun, saya sedang bekerja di ibukota. Di taman bermain yang sempat
menghebohkan Indonesia. Hehe.




Dan saya ada di sekeliling
teman-teman yang menyenangkan. Serta tentu saja, pacar yang menyayangi
saya. Hehe. Ini sebenarnya yang paling membedakan ulang tahun sekarang
dengan terdahulu. Bah. Curhat lagi nih. Gawat.




Yah,
Alhamdulillah. Pacar saya datang ke kantor membawa kue dari Dapur
Cokelat. Jadi, teman-teman di kantor yang sejak siang menagih traktiran
bisa sedikit terobati. Hehe. Terima kasih, sayang!




Walaupun,
kurang ajar juga tuh Dapur Cokelat. Pacar saya memesan cokelat
bergambar lidah Rolling Stones di atas kuenya. Tapi, mereka malah
memberi gambar sekelompok lelaki gondrong ’70-an di padang rumput.
Entah siapa mereka. Yang jelas, mbak Dapur Cokelat mengira itu The
Stones. “Kami browsing di internet juga loh mbak,” ucap mbak Dapur
Cokelat bangga kepada pacar saya.




Tidak mengurangi kelezatan kuenya memang. Tapi, merusak gambaran kue yang diharapkan Tetta, pacar saya.



Oya,
kembali soal menulis momen. Bukan apa-apa. Saya nyaris tidak ingat,
sepuluh tahun lalu, ketika saya genap berusia 17 tahun, saya sedang di
mana. Yang jelas, saya tidak merayakannya dengan siapa pun. Itu yang
saya ingat. Bahkan, siapa saja teman SMA yang tau ulang tahun saya
waktu itu, saya tidak ingat.




Ah sudahlah. Ijinkan saya tutup tulisan ini dengan kutipan lagu “I Don’t Want to Grow Up” dari The Ramones.




I don’t wanna have to shout it out I don’t want my hair to fall out
I don’t wanna be filled with doubt I don’t wanna be a good boy scout
I don’t wanna have to learn to count I don’t wanna have the biggest amount
I don’t wanna grow up







I’d rather stay here in my room Nothin’ out there but sad and gloom

I don’t wanna live in a big old tomb on grand street

When I see the 5 o’clock news I don’t wanna grow up

Comb their hair and shine their shoes I don’t wanna grow up



Stay around in my old hometown I don’t wanna put no money down

I don’t wanna get a big old loan Work them fingers to the bone

I don’t wanna float on a broom Fall in love, get married then boom

How the hell did it get here so soon I don’t wanna grow up

Saya, The Upstairs dan Slank

Satu lagi konser The Upstairs saya datangi.

Entah konser ke berapa, konser mereka di Barbados Cafe, Kemang, Rabu [31/5] sore tadi. Yang jelas, suasananya selalu sama. Baik itu di Jakarta, maupun di Bandung. Anak muda dengan pakaian yang berwarna cerah. Celana ketat, kaos band atau kaos motif garis-garis. Keriting jambul. Rambut poni kuda buat perempuannya.

Remaja-remaja putrinya memang sedap dipandang mata. Hehe.

Karakter kelompok musik itu sudah kuat terbentuk. Dan pengaruh mereka bisa terlihat dari pakaian anak-anak muda yang datang ke setiap konser The Upstairs. Anak-anak itu berdandan seperti idola mereka. Jangan heran kalau datang ke konser The Upstairs kamu menemukan anak dengan penampilan mirip vokalis Jimi Multhazam.

Ini mengingatkan saya waktu remaja dulu. Datang ke banyak konser Slank dan Iwan Fals. Dengan celana jins robek-robek, kaos lusuh, rambut gondrong. Semakin lusuh, rasanya semakin pas kostumnya. Tentu saja itu dulu. Sekarang, Slank sudah tidak lusuh lagi. Dan penonton konser Slank sudah tidak didominasi anak-anak lusuh.

Makanya, melihat Modern Darlings–sebutan untuk penggemar The Upstairs–di konser-konser The Upstairs, sedikit mengingatkan Slankers pada jaman Slank baru muncul. Modern Darlings itu sepertinya punya potensi untuk jadi sekuat Slankers. Atau, sekuat Oi–sebutan untuk penggemar Iwan Fals.

Oke, di konser The Brandals pun memang banyak crowd fanatik mereka–Brigade Rock n’ Roll kalau saya tidak salah. Atau, adanya Speaker People–sebutan untuk penggemar Speaker 1st–di Bandung. Tapi, ada kesamaan antara Slankers dan Modern Darlings.

Di konser launching album kedua The Upstairs tadi, manajemen dibantu anak-anak muda yang disebut sebagai The Upstairs Street Team. Mereka jadi penerima tamu. Penjaga pintu masuk. Penjual merchandise.

Setelah Slankers dan Oi, rasanya giliran Modern Darlings unjuk gigi.

Oke, sekarang konsernya. The Upstairs main selama kurang lebih 1 jam 45 menit. Membawakan lagu-lagu dari album “Matraman” dan “Energy”. Warner Music Indonesia rupanya berbahagia melihat antusiasme crowd yang begitu besar. Setidaknya, salah satu dari mereka wajahnya sangat senang.

Bagaimana tidak? Selama konser, crowd ikut menyanyikan semua lagu yang dibawakan The Upstairs. Catat itu. Semua! Bukan hanya lagu dari album terdahulu mereka. Ini berarti mereka yang datang benar-benar menyukai lagu-lagunya.

Sekali lagi, mengingatkan saya jaman dulu ketika masih penuh semangat datang ke konser Iwan Fals dan Slank. Sepanjang konser pasti saya ikut bernyanyi.

Dan seperti biasa, Jimi paling enerjik di antara mereka. Gitaris Kubil Idris, dingin. Sembunyi di balik gitar dan rambut poninya. Dengan rambut seperti itu, Kubil mengingatkan saya akan Johnny Ramone, tapi lebih kalem. Bassit Alfi Chaniago, juga tidak lebih enerjik dibandingkan Kubil. Saya selalu melihat kemiripan antara Jimi dan Alfi. Rambut dan bentuk muka. Hanya saja, Alfi terlihat lebih rupawan dibandingkan Jimi.

Kibordis Elta Emanuella juga begitu. Tenang. Sesekali tersenyum. Drummer Beni Adhiantoro masih bisa enerjik. Tidak jarang, dia ikut bernyanyi. Kalau ada yang bisa sedikit mengimbangi penampilan Jimi yang enerjik, itu adalah Backing Vocalist Dian Maryana. Dia berdansa sambil bernyanyi. Bisa memaksimalkan perannya di panggung.

Saya jadi penasaran bagaimana proses kreatif yang mereka lalui. Maksudnya, dengan para personel yang pendiam seperti itu, mereka bisa menghasilkan karya yang apik. Untung saja, dari segi penampilan, mereka bisa terlihat senada.

Mungkin juga di situ kekuatannya. Jimi, paling banyak bicara. Paling lincah. Dan paling tua–kelahiran ’74. Yang lainnya, tenang. Beraksi lewat instrumen yang mereka mainkan. Dan usia mereka jauh di bawah Jimi–kelahiran ’79 hingga ’83.

Di tengah-tengah konser, saya membayangkan bagaimana jadinya kalau The Upstairs sudah sukses secara komersil. Dan jadi sebesar Slank. Tur keliling Indonesia. Tiketnya sold out. Secara finansial mereka meningkat. Dan Jimi tidak lagi bisa nongkrong di pinggir jalan. Naik bis kota. Atau naik scooter-nya.

Nah, saat itu tiba, saya jadi berpikir. Mungkin tidak akan ada lagi lirik seperti “Demi trotoar dan debu yang beterbangan…” atau “Berangkat ke jantung selatan dalam bis kota bersama orang-orang lelah bermata lima watt…”

Akankah lirik bertema urban khas Jimi masih ada ketika The Upstairs jadi kelompok musik papan atas? Ataukah mereka akan jadi kelompok musik yang ternyata malah jadi lebih bagus menulis lagu cinta. Seperti Slank sekarang. Lirik-liriknya tidak sekuat seperti di 5 album mereka.

Ah. Maaf kalau jadinya mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti. Nyatanya, The Upstairs masih menghasilkan karya yang apik di dua album dan satu mini albumnya. Album “Energy” pun masih dipromosikan. Jadi, mari kita nikmati momen menyenangkan ini.

Dan esok kita pasti berdansa.