Dead Or Alive

Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Action & Adventure

Empat cewek jagoan diundang dalam sebuah kompetisi beladiri berhadiah sepuluh juta dollar. Mereka adalah; Tina si pegulat [Jaime Pressly], Christie si pencuri [Holly Valance], Princess Kasumi [Devon Aoki] dan Helena si atlit [Sarah Carter]. Tidak terlalu istimewa cantiknya sih. Tapi, seksi.

Ceritanya sih tipikal film yang diangkat dari game pertarungan. Seperti menggabungkan film Charlie’s Angels, Mortal Kombat dan Street Fighter. Empat cewek yang tadinya bersaing itu akhirnya bergabung untuk mengalahkan boss penjahat–diperankan oleh Eric Roberts [yang entah kenapa, jadi semakin tidak menarik saja].

Saya selalu suka film dengan adegan perkelahian yang bagus. Yang membuat penonton percaya seakan-akan mereka benar-benar menguasai beladiri. Yang walaupun ada beberapa adegan perkelahian dimainkan pemeran pengganti, tidak lantas terlihat jomplang–seperti kebanyakan adegan di sinetron laga lokal.

Dan saya selalu suka film-film tentang cewek jago beladiri–kecuali film D Girlz Begins. Ada kenikmatan tersendiri menyaksikan cewek seksi beraksi. Apalagi dengan kostum ketat. Hehe.

Film ini memberikan itu. Tidak hanya satu, mereka berikan empat cewek sekaligus! Oke, di film-film Hongkong memang banyak yang seperti itu. Cewek-cewek jago beladiri. Tapi, di film ini, mereka berpakaian seksi. Bikini, lingerie, hot pants. Hmmm. Dengan gambar-gambarnya, diiambil dari sudut yang tepat.

Saya beri tiga bintang karena faktor itu tadi. Cewek seksi dalam banyak adegan perkelahian yang bagus dan beberapa bahkan sedikit menyerempet ke girl on girl action. :p

Gawat. Kalau begini, puasanya hanya lapar dan dahaga saja. Haha.

Tentang film Dead Or Alive

Empat cewek jagoan diundang dalam sebuah kompetisi beladiri berhadiah sepuluh juta dollar. Mereka adalah; Tina si pegulat [Jaime Pressly], Christie si pencuri [Holly Valance], Princess Kasumi [Devon Aoki] dan Helena si atlit [Sarah Carter]. Tidak terlalu istimewa cantiknya sih. Tapi, seksi.

Ceritanya sih tipikal film yang diangkat dari game pertarungan. Seperti menggabungkan film Charlie’s Angels, Mortal Kombat dan Street Fighter. Empat cewek yang tadinya bersaing itu akhirnya bergabung untuk mengalahkan boss penjahat–diperankan oleh Eric Roberts [yang entah kenapa, jadi semakin tidak menarik saja].

Saya selalu suka film dengan adegan perkelahian yang bagus. Yang membuat penonton percaya seakan-akan mereka benar-benar menguasai beladiri. Yang walaupun ada beberapa adegan perkelahian dimainkan pemeran pengganti, tidak lantas terlihat jomplang–seperti kebanyakan adegan di sinetron laga lokal.
Dan saya selalu suka film-film tentang cewek jago beladiri–kecuali film D Girlz Begins. Ada kenikmatan tersendiri menyaksikan cewek seksi beraksi. Apalagi dengan kostum ketat. Hehe.

Film ini memberikan itu. Tidak hanya satu, mereka berikan empat cewek sekaligus! Oke, di film-film Hongkong memang banyak yang seperti itu. Cewek-cewek jago beladiri. Tapi, di film ini, mereka berpakaian seksi. Bikini, lingerie, hot pants. Hmmm. Dengan gambar-gambarnya, diiambil dari sudut yang tepat.

Saya beri tiga bintang karena faktor itu tadi. Cewek seksi dalam banyak adegan perkelahian yang bagus dan beberapa bahkan sedikit menyerempet ke girl on girl action. :p

Gawat. Kalau begini, puasanya hanya lapar dan dahaga saja. Haha.

Emang Salah Gue Apa? [part dua atau dari sisi si perempuan]

Masih
ingat cerita saya soal si A yang sakit hati? Ini sekuelnya. Kemarin, A
mendatangi kosan si pemudi. Dia bertemu dengan seorang teman laki-laki
si pemudi. A sakit hati lagi untuk kesekian kali. Dia berpikir
macam-macam. Semakin kuatlah tekad A untuk melupakan si pemudi.

Merasa sakit hatinya memuncak, A mengirim si pemudi SMS. Isinya soal
betapa dia sakit hati. Betapa dia jahat. Blablabla. Saya juga tidak tau
isi lengkapnya. Si pemudi mendapat SMS itu, langsung menelepon. Tapi A
tidak menjawabnya. Beberapa kali si pemudi berusaha menelepon, A tetap
tidak menjawabnya. SMS dari si pemudi, tidak dia baca. Begitu sampai,
langsung dihapus.

Barusan, si pemudi tiba-tiba menelepon saya. Begini kira-kira obrolan kami.

P: Leh, maaf dan terima kasih ya. Elo telah mengenalkan gue sama orang yang baek. Bagaimanapun, gue nggak akan melupakan dia.

S: [saya hanya cengengesan. Tidak tau harus berkata apa].

P: Temenlo dari kemaren gua coba telepon, tapi di-reject mulu. Terus,
dia ngirim SMS nggak enak gitu. Padahal, udah gue ajakin ketemuan kalo
emang mau diomongin. Tapi dia nggak mau. [hihihi. Jadi tidak enak.
Mungkin karena saran dari saya, si A tidak mau bertemu si pemudi]. Oya,
bukan gue yang ngajak jadian ya. Dia yang nembak gue duluan.

S: Oh, ya gue sih cuma ngulangin apa yang dia cerita.

P: Gue udah baca blog dia. Tulisannya menyudutkan gue banget.

S: Yah namanya juga orang diputusin. Gue sih menganggap reaksi begitu
wajar aja. Gue bilang ke dia, elo diputusin berarti karena si pemudi
udah nggak sayang.

P: Sebenernya, ada dua hal Leh, yang bikin gue mutusin dia. Pertama,
karena dia selalu berpikiran semua tentang dia. Gue nggak pernah
komplain soal kebiasaan dia. Tapi, dia selalu ngelarang-larang gue lah.
Pokoknya, semua tentang dia. Kedua, tentang bagaimana pandangan dia
soal treatment perempuan sama pacarnya. Gue nggak tau gimana dia sama
mantan-mantannya, tapi gue sekarang mau baik-baik aja. Gue bilang sama
dia, gue pengen pacaran yang bener! Waktu gue ngajak putus, gue bilang
sama dia gue lagi pengen sendiri. Eh, dia sms gue terus, nelepon gue
terus. Padahal, gue lagi banyak kerjaan. Kok, dia nggak bisa dewasa
ngehadepinnya ya? Padahal kan dia lebih tua dari gue. Pake
ngejelek-jelekin gue segala. Harusnya dia nggak kekanak-kanakan gini
dong diputusin sama gue. Bukan cuma dia yang sakit hati, gue juga sakit
hati Leh! Harusnya dia mikirin perasaan gue juga dong!

S: [sambil cengengesan]. Yah, gue bisa mengerti perasaan dia. Gue tau
rasanya diputusin. Wajar sih kalo ada cowok yang sikapnya jadi begitu.
Gue juga gitu waktu diputusin. Jadinya malah ngejelek-jelekin mantan.
Tapi begitu udah dapet yang lebih baik, gue cuma bisa ketawa-ketawa
nginget kejadian itu.

P: Sekarang kan lo tau dari sisi gue. Nggak cuma satu sisi aja kalo
dengerin cerita. Gue juga udah ninggalin komen tuh di blog elo. [jangan hanya mendengarkan dari satu sisi aja, leh…ada alasan yang
udah pernah gue bahas sama ybs, tp ga pernah dianggap. selalu
disepelekan… ;p–diambil dari wakwekwok.blogspot.com
]

S: Kalo gitu, boleh gue tulis juga dong di blog obrolan kita? Biar pembaca tau cerita dari sisi elo. [masih cengengesan].

Emang Salah Gue Apa? [part dua atau dari sisi si perempuan]

Masih ingat cerita saya soal si A yang sakit hati? Ini sekuelnya. Kemarin, A mendatangi kosan si pemudi. Dia bertemu dengan seorang teman laki-laki si pemudi. A sakit hati lagi untuk kesekian kali. Dia berpikir macam-macam. Semakin kuatlah tekad A untuk melupakan si pemudi.

Merasa sakit hatinya memuncak, A mengirim si pemudi SMS. Isinya soal betapa dia sakit hati. Betapa dia jahat. Blablabla. Saya juga tidak tau isi lengkapnya. Si pemudi mendapat SMS itu, langsung menelepon. Tapi A tidak menjawabnya. Beberapa kali si pemudi berusaha menelepon, A tetap tidak menjawabnya. SMS dari si pemudi, tidak dia baca. Begitu sampai, langsung dihapus.

Barusan, si pemudi tiba-tiba menelepon saya. Begini kira-kira obrolan kami.

P: Leh, maaf dan terima kasih ya. Elo telah mengenalkan gue sama orang yang baek. Bagaimanapun, gue nggak akan melupakan dia.
S: [saya hanya cengengesan. Tidak tau harus berkata apa].

P: Temenlo dari kemaren gua coba telepon, tapi di-reject mulu. Terus, dia ngirim SMS nggak enak gitu. Padahal, udah gue ajakin ketemuan kalo emang mau diomongin. Tapi dia nggak mau. [hihihi. Jadi tidak enak. Mungkin karena saran dari saya, si A tidak mau bertemu si pemudi]. Oya, bukan gue yang ngajak jadian ya. Dia yang nembak gue duluan.
S: Oh, ya gue sih cuma ngulangin apa yang dia cerita.

P: Gue udah baca blog dia. Tulisannya menyudutkan gue banget.
S: Yah namanya juga orang diputusin. Gue sih menganggap reaksi begitu wajar aja. Gue bilang ke dia, elo diputusin berarti karena si pemudi udah nggak sayang.

P: Sebenernya, ada dua hal Leh, yang bikin gue mutusin dia. Pertama, karena dia selalu berpikiran semua tentang dia. Gue nggak pernah komplain soal kebiasaan dia. Tapi, dia selalu ngelarang-larang gue lah. Pokoknya, semua tentang dia. Kedua, tentang bagaimana pandangan dia soal treatment perempuan sama pacarnya. Gue nggak tau gimana dia sama mantan-mantannya, tapi gue sekarang mau baik-baik aja. Gue bilang sama dia, gue pengen pacaran yang bener! Waktu gue ngajak putus, gue bilang sama dia gue lagi pengen sendiri. Eh, dia sms gue terus, nelepon gue terus. Padahal, gue lagi banyak kerjaan. Kok, dia nggak bisa dewasa ngehadepinnya ya? Padahal kan dia lebih tua dari gue. Pake ngejelek-jelekin gue segala. Harusnya dia nggak kekanak-kanakan gini dong diputusin sama gue. Bukan cuma dia yang sakit hati, gue juga sakit hati Leh! Harusnya dia mikirin perasaan gue juga dong!
S: [sambil cengengesan]. Yah, gue bisa mengerti perasaan dia. Gue tau rasanya diputusin. Wajar sih kalo ada cowok yang sikapnya jadi begitu. Gue juga gitu waktu diputusin. Jadinya malah ngejelek-jelekin mantan. Tapi begitu udah dapet yang lebih baik, gue cuma bisa ketawa-ketawa nginget kejadian itu.

P: Sekarang kan lo tau dari sisi gue. Nggak cuma satu sisi aja kalo dengerin cerita. Gue juga udah ninggalin komen tuh di blog elo. [jangan hanya mendengarkan dari satu sisi aja, leh…ada alasan yang udah pernah gue bahas sama ybs, tp ga pernah dianggap. selalu disepelekan… ;p–diambil dari wakwekwok.blogspot.com]
S: Kalo gitu, boleh gue tulis juga dong di blog obrolan kita? Biar pembaca tau cerita dari sisi elo. [masih cengengesan].

Emang Salah Gue Apa?

Seorang sahabat sedang berduka.

Dia patah hati. Diputuskan pacar.
Saya yang mengenalkan perempuan itu. Semua terjadi begitu cepat.
Tadinya, saya berniat mengatur pertemuan antara si perempuan dengan
sahabat saya itu–sebut saja dia A. Tapi, bahkan sebelum pertemuan itu
terjadi, mereka sudah berpacaran. Seperti yang saya bilang tadi, semua
terjadi begitu cepat.

Dan kisah kasih mereka pun terjadi begitu cepat. Hanya tiga minggu. A
galau. Sakit hati. Di benaknya penuh pertanyaan. Saya mengerti perasaan
dia. Saya pernah ada di posisi itu. Karena saya yang mengenalkan dia
pada perempuan itu. Karena saya juga pernah mengalami itu, A akhirnya
sering minta ditemani. Dua minggu belakangan ini, saya sering ‘dipaksa’
menginap di kosan A. Mendengarkan pertanyaan, dan segala unek-unek dia.

Obrolannya, selalu kurang lebih begini;

A : Gue masih nggak nyangka Leh. Kok, bisa ya dia berubah secepat itu?
Emang salah gue apa? Kalo dia minta dijemput di kantornya, gue selalu
bisa kok.

S : Kalo ngomong salah mah, kadang-kadang emang nggak perlu si
laki-laki berbuat salah untuk diputusin cewek. Waktu gue diputusin,
emang salah gue apa? Selingkuh? Nggak kan! Terus, ada lagi teman kita
si B. Emang dia salah apa sampe diputusin? Kalo ngomong soal salah mah,
banyak cewek yang mutusin cowoknya tanpa ada kesalahan. Itu mah karena
ceweknya udah nggak sayang aja. Hilang aja perasaannya. Belakangan gue
juga tau kalo mantan gue, waktu itu mutusin gue karena bosen!

A : Emang bisa ya mutusin karena bosen, atau hilang rasa?

S : Buktinya, banyak kok yang diputusin karena begitu.

A : Edan ya. Bisa begitu.
Gue jadi takut lagi pacaran kalo gitu mah. Tapi, masalahnya, dia yang
mulai duluan Leh! Yang waktu itu ngajak pacaran siapa coba? Eh, tau-tau
dia mutusin gue! Ckckck. Jahat pisan! Masih nggak bisa mengerti gue
Leh. Kok bisa ya?

S : Yang namanya soal hati atau perasaan mah, kadang-kadang emang bukan untuk dimengerti. Diterima aja lah.

A : Udah gitu, kalo gue mau ketemu sama dia, selalu nggak boleh.
Kemaren aja, gue mau nengok dia yang lagi sakit, eh dia malah
marah-marah sama gue! Mana pernah bilang, ‘It’s over! It’s over!’.
Tapi, udah marah-marah, tiba-tiba tadi dia nelepon. Bilang minta maaf.
Besok dia mau ngobrol-ngobrol lagi. Menurutlo itu tulus nggak ya?
Soalnya waktu itu, dia pernah nelepon gue, minta tolong dibantu tugas
kuliahnya. Giliran gue pengen ngobrol atau ketemuan, dia malah sms
bilang, ‘bisa nggak sih, lo nggak sms atau nelepon gue terus?’. Jadi,
apa maksud dia tiba-tiba baik gitu ya? Terus, tadi bilang selamat tidur
segala. Manja-manja. Ketawanya itu loh. Bikin gemes! Kayak Ida Royani
Leh!

S : Sekarang bukan soal dia tulus atau nggak. Tapi, gimana cara lo
ngehadepin sikap dia! Apakah lo mau konsisten berusaha melupakan dia?
Atau, mau terus terbawa arus rayuan dia? Dan mengalami sakit hati lagi.

A : Tapi gue masih sayang sama dia.

S : Kalo dia udah nggak sayang lagi sama elo mah, percuma aja. Nggak
ada itu yang namanya cinta tidak perlu memiliki. Itu cuma omongan
pecundang! Rasa sayang itu harusnya saling timbal balik! Buat apa lo
ngasih rasa sayang lo buat orang yang nggak mau menyayangi balik?
Mending cari perempuan lain yang mau menyayangi elo! Percayalah.
Mungkin sekarang lo pikir, dia perempuan yang tepat. Yang selama ini lo
cari. Tipe lo banget. Tapi, begitu lo nemu perempuan yang lebih baik.
Yang tidak menyia-nyiakan rasa sayang lo. Lo bakal sadar, kalo perasaan
lo itu semu! Kalo dia emang sayang sama lo, nggak akan ninggalin tanpa
alasan yang jelas!

Kalau di kosan dia, saya selalu mengakhiri obrolan dengan, ‘Udah ah. Ngantuk.’

Sedangkan kalau giliran dia datang ke kantor, obrolan itu selalu
ditutup dengan, ‘Leh, nginep di kosan gue ya. Lagi galau berat nih.’

Emang Salah Gue Apa?

Seorang sahabat sedang berduka.

Dia patah hati. Diputuskan pacar. Saya yang mengenalkan perempuan itu. Semua terjadi begitu cepat. Tadinya, saya berniat mengatur pertemuan antara si perempuan dengan sahabat saya itu–sebut saja dia A. Tapi, bahkan sebelum pertemuan itu terjadi, mereka sudah berpacaran. Seperti yang saya bilang tadi, semua terjadi begitu cepat.

Dan kisah kasih mereka pun terjadi begitu cepat. Hanya tiga minggu. A galau. Sakit hati. Di benaknya penuh pertanyaan. Saya mengerti perasaan dia. Saya pernah ada di posisi itu. Karena saya yang mengenalkan dia pada perempuan itu. Karena saya juga pernah mengalami itu, A akhirnya sering minta ditemani. Dua minggu belakangan ini, saya sering ‘dipaksa’ menginap di kosan A. Mendengarkan pertanyaan, dan segala unek-unek dia.

Obrolannya, selalu kurang lebih begini;

A : Gue masih nggak nyangka Leh. Kok, bisa ya dia berubah secepat itu? Emang salah gue apa? Kalo dia minta dijemput di kantornya, gue selalu bisa kok.
S : Kalo ngomong salah mah, kadang-kadang emang nggak perlu si laki-laki berbuat salah untuk diputusin cewek. Waktu gue diputusin, emang salah gue apa? Selingkuh? Nggak kan! Terus, ada lagi teman kita si B. Emang dia salah apa sampe diputusin? Kalo ngomong soal salah mah, banyak cewek yang mutusin cowoknya tanpa ada kesalahan. Itu mah karena ceweknya udah nggak sayang aja. Hilang aja perasaannya. Belakangan gue juga tau kalo mantan gue, waktu itu mutusin gue karena bosen!

A : Emang bisa ya mutusin karena bosen, atau hilang rasa?
S : Buktinya, banyak kok yang diputusin karena begitu.

A : Edan ya. Bisa begitu. Gue jadi takut lagi pacaran kalo gitu mah. Tapi, masalahnya, dia yang mulai duluan Leh! Yang waktu itu ngajak pacaran siapa coba? Eh, tau-tau dia mutusin gua! Ckckck. Jahat pisan! Masih nggak bisa mengerti gue Leh. Kok bisa ya?
S : Yang namanya soal hati atau perasaan mah, kadang-kadang emang bukan untuk dimengerti. Diterima aja lah.

A : Udah gitu, kalo gue mau ketemu sama dia, selalu nggak boleh. Kemaren aja, gue mau nengok dia yang lagi sakit, eh dia malah marah-marah sama gue! Mana pernah bilang, ‘It’s over! It’s over!’. Tapi, udah marah-marah, tiba-tiba tadi dia nelepon. Bilang minta maaf. Besok dia mau ngobrol-ngobrol lagi. Menurutlo itu tulus nggak ya? Soalnya waktu itu, dia pernah nelepon gue, minta tolong dibantu tugas kuliahnya. Giliran gue pengen ngobrol atau ketemuan, dia malah sms bilang, ‘bisa nggak sih, lo nggak sms atau nelepon gue terus?’. Jadi, apa maksud dia tiba-tiba baik gitu ya? Terus, tadi bilang selamat tidur segala. Manja-manja. Ketawanya itu loh. Bikin gemes! Kayak Ida Royani Leh!
S : Sekarang bukan soal dia tulus atau nggak. Tapi, gimana cara lo ngehadepin sikap dia! Apakah lo mau konsisten berusaha melupakan dia? Atau, mau terus terbawa arus rayuan dia? Dan mengalami sakit hati lagi.

A : Tapi gue masih sayang sama dia.
S : Kalo dia udah nggak sayang lagi sama elo mah, percuma aja. Nggak ada itu yang namanya cinta tidak perlu memiliki. Itu cuma omongan pecundang! Rasa sayang itu harusnya saling timbal balik! Buat apa lo ngasih rasa sayang lo buat orang yang nggak mau menyayangi balik? Mending cari perempuan lain yang mau menyayangi elo! Percayalah. Mungkin sekarang lo pikir, dia perempuan yang tepat. Yang selama ini lo cari. Tipe lo banget. Tapi, begitu lo nemu perempuan yang lebih baik. Yang tidak menyia-nyiakan rasa sayang lo. Lo bakal sadar, kalo perasaan lo itu semu! Kalo dia emang sayang sama lo, nggak akan ninggalin tanpa alasan yang jelas!

Kalau di kosan dia, saya selalu mengakhiri obrolan dengan, ‘Udah ah. Ngantuk.’

Sedangkan kalau giliran dia datang ke kantor, obrolan itu selalu ditutup dengan, ‘Leh, nginep di kosan gue ya. Lagi galau berat nih.’

Siapa yang Membunuh Persma?

Sabtu
[30/9] kemarin, saya jadi pembicara untuk ulang tahun yang pertama
sisipan KAMPUS dari Pikiran Rakyat. Temanya; Pers Mahasiswa. Saya tidak
pernah berpikir, kalau suatu hari, bakal jadi pembicara dalam diskusi
bertemakan itu. Di kampus orang lain pula! Soalnya, waktu jaman
mahasiswa, saya sering merasa dianggap remeh oleh para pengelola
persma. Maklum, jenis terbitan yang saya dan kawan-kawan dirikan,
termasuk “ringan”, sering dianggap “tidak ilmiah” blablabla.




Panitia meminta saya membuat tulisan
untuk dibagikan di sana. Walaupun merasa kurang puas, akhirnya saya
buat juga. Di bawah ini tulisan saya untuk diskusi itu. Karena saya
tidak tahu harus memberi judul apa, akhirnya tulisan ini saya beri
judul sesuai dengan tema diskusi hari itu.

Siapa yang Membunuh
Persma?

Oleh Soleh Solihun

Jujur, saya sempat tidak tahu
harus menulis apa untuk diskusi ini. Sudah tiga hari saya mencoba menulis.
Tapi, selalu tidak puas dengan hasilnya. Sepertinya topik persma sudah tidak
menarik lagi buat saya. Karena pertama, saya sudah bukan mahasiswa. Kedua,
ketika mahasiswa pun, saya tidak suka persma. Dengan segala idealisme dan
tipikal tulisan persma. Ketiga, ketika akhirnya saya dan kawan-kawan mendirikan
penerbitan mahasiswa yang sesuai dengan jiwa saya, para penerus kami—angkatan
bawah—membuat saya kecewa.

Tidak. Saya tidak sedang berkata
kalau dari segi isi, angkatan saya—para pendiri—jauh lebih baik, well mungkin
iya. Haha. Tapi, saya sedang bicara soal semangat. Para
generasi penerus itu hanya manis di bibir! Ketika diwarisi media yang kami
rintis, mereka bicara seolah-olah akan mewarisi semangat yang sama. Salah satu
ukuran semangat yang saya maksud, adalah dilihat dari terbit reguler. Banyak
sekali alasan yang mereka buat. Sibuk lah. Banyak tugas lah. Susah
berkumpul lah. Bah! Memangnya saya tidak pernah jadi mahasiswa? Semuanya hanya
mencari alasan.

Sepanjang 1999 – 2001 lewat 14
edisi, saya dan kawan-kawan mengelola KARUNG GONI di Fikom Unpad yang terbit
reguler tiap bulan—minimal di bulan-bulan perkuliahan aktif. Sebagai bentuk
kekecewaan kami terhadap tipikal persma yang ada waktu itu. KARUNG GONI akronim
dari Kabar Ungkapan Gosip dan Opini. Media kampus yang membahas hal-hal ringan,
kehidupan seputar Fikom Unpad. Lantas, 2003, kami dirikan Fikombabes—isinya
sebagian besar soal mahasiswi-mahasiswi Fikom Unpad. Salah satu motivasinya, pernyataan
sikap kami terhadap adik-adik penerus di KARUNG GONI yang mengecewakan. Karena
membuat KARUNG GONI nyaris vakum. Banyak sekali alasan mereka! Daripada energinya
dipakai untuk memarah-marahi adik angkatan, lebih baik disalurkan ke dalam
penerbitan baru.

Mungkin para pengelola persma
memang butuh musuh bersama untuk menggerakkan mereka. Saya bisa berkata begitu,
setelah melihat yang terjadi pada KARUNG GONI. Jaman saya dan kawan-kawan
aktif, kami punya musuh. Penerbitan mahasiswa mainstream, yang tulisannya seputar kebijakan kampus, atau
pemerintah. Issue-issue yang terlalu “serius” buat kami. Ya. Kami lawan mereka.
Kami coba buktikan, kalau topik-topik “ringan” juga bisa punya tempat di
kalangan mahasiswa. KARUNG GONI yang hanya difotokopi, juga bisa jadi media
yang tidak kalah menarik dengan persma lain yang dicetak. Kami yang kerjanya
hanya ketawa-ketawa di kampus, yang dituduh sebagai kaum hedonis, juga bisa
membuat karya yang baik! Dan banyak hal lain yang coba kami buktikan waktu itu.
Ada sedikit
amarah, mungkin.

Penyaluran amarah itu akhirnya
yang menggerakkan kami. Mencoba membuktikan pada “musuh-musuh” kami, kalau kami
juga bisa! Terserah mau disebut persma atau bukan, yang penting batin kami
puas! Bagaimanapun caranya, kami harus eksis! Harus terbit reguler! Karena kalau
bukan itu motivasinya, apalagi dong? Bukan apa-apa, waktu itu belum terpikir
soal melatih kemampuan menulis lewat penerbitan kampus. Bekal untuk dunia kerja
blablabla. Itu malah disadari belakangan. Ketika akhirnya saya benar-benar
masuk dunia kerja.

Dan saya tidak merasakan itu dari
angkatan penerus kami. Mereka tidak punya semangat yang tinggi. Mungkin karena
tidak punya musuh bersama. Karena ketika gilirannya mereka mengelola KARUNG
GONI, media itu sudah relatif mapan. Sudah masuk mainstream. Sudah dikenal orang. Sudah relatif diakui
keberadaannya. Maka, KARUNG GONI pun sempat mengalami era hidup segan mati tak
mau. Akhirnya, saya berkata pada diri saya sendiri, kalau umur KARUNG GONI
memang hanya 14 edisi. Daripada batin terus berteriak karena kecewa. Bahkan,
ketika akhirnya kami meneruskan Fikombabes pada angkatan bawah pun, ekspektasi
saya tidak setinggi ketika kami mewariskan KARUNG GONI. 

Saya tidak tahu bagaimana cara
mahasiswa lain mengelola media mereka. Saya juga tidak tahu bagaimana mereka
memandang profesionalisme dalam persma. Yang saya tahu, mungkin cara kami
memandang profesionalisme adalah dengan selalu ingin menerbitkan KARUNG GONI
tiap bulan. Ingin bisa tertawa puas. Memuji diri sendiri. Dan sekali lagi,
merasa telah melayangkan tinju buat sang musuh!

Maaf kalau tulisan ini tidak
sedikit pun memberikan pencerahan. Saya juga tidak bisa memberikan masukan dari
sudut pandang akademis atau teoritis. Saya hanya ingin menegaskan kalau kamu
tidak perlu takut mencoba mendirikan penerbitan. Jangan terpaku dengan segala
imej atau karakter yang terlanjur melekat dengan kata ‘persma’. Paling enak
jadi mahasiswa sebenarnya. Kalau salah pun, dianggap wajar, karena masih
belajar. Kalau menghasilkan karya yang baik, pujiannya cenderung berlebihan. Sudah
ah. Semakin melantur.

Salam.

Siapa yang Membunuh Persma?

Sabtu [30/9] kemarin, saya jadi pembicara untuk ulang tahun yang pertama sisipan KAMPUS dari Pikiran Rakyat. Temanya; Pers Mahasiswa. Saya tidak pernah berpikir, kalau suatu hari, bakal jadi pembicara dalam diskusi bertemakan itu. Di kampus orang lain pula! Soalnya, waktu jaman mahasiswa, saya sering merasa dianggap remeh oleh para pengelola persma. Maklum, jenis terbitan yang saya dan kawan-kawan dirikan, termasuk “ringan”, sering dianggap “tidak ilmiah” blablabla.

Panitia meminta saya membuat tulisan untuk dibagikan di sana. Walaupun merasa kurang puas, akhirnya saya buat juga. Di bawah ini tulisan saya untuk diskusi itu. Karena saya tidak tahu harus memberi judul apa, akhirnya tulisan ini saya beri judul sesuai dengan tema diskusi hari itu.

Siapa yang Membunuh Persma?
Oleh Soleh Solihun

Jujur, saya sempat tidak tahu harus menulis apa untuk diskusi ini. Sudah tiga hari saya mencoba menulis. Tapi, selalu tidak puas dengan hasilnya. Sepertinya topik persma sudah tidak menarik lagi buat saya. Karena pertama, saya sudah bukan mahasiswa. Kedua, ketika mahasiswa pun, saya tidak suka persma. Dengan segala idealisme dan tipikal tulisan persma. Ketiga, ketika akhirnya saya dan kawan-kawan mendirikan penerbitan mahasiswa yang sesuai dengan jiwa saya, para penerus kami—angkatan bawah—membuat saya kecewa.

Tidak. Saya tidak sedang berkata kalau dari segi isi, angkatan saya—para pendiri—jauh lebih baik, well mungkin iya. Haha. Tapi, saya sedang bicara soal semangat. Para generasi penerus itu hanya manis di bibir! Ketika diwarisi media yang kami rintis, mereka bicara seolah-olah akan mewarisi semangat yang sama. Salah satu ukuran semangat yang saya maksud, adalah dilihat dari terbit reguler. Banyak sekali alasan yang mereka buat. Sibuk lah. Banyak tugas lah. Susah berkumpul lah. Bah! Memangnya saya tidak pernah jadi mahasiswa? Semuanya hanya mencari alasan.

Sepanjang 1999 – 2001 lewat 14 edisi, saya dan kawan-kawan mengelola KARUNG GONI di Fikom Unpad yang terbit reguler tiap bulan—minimal di bulan-bulan perkuliahan aktif. Sebagai bentuk kekecewaan kami terhadap tipikal persma yang ada waktu itu. KARUNG GONI akronim dari Kabar Ungkapan Gosip dan Opini. Media kampus yang membahas hal-hal ringan, kehidupan seputar Fikom Unpad. Lantas, 2003, kami dirikan Fikombabes—isinya sebagian besar soal mahasiswi-mahasiswi Fikom Unpad. Salah satu motivasinya, pernyataan sikap kami terhadap adik-adik penerus di KARUNG GONI yang mengecewakan. Karena membuat KARUNG GONI nyaris vakum. Banyak sekali alasan mereka! Daripada energinya dipakai untuk memarah-marahi adik angkatan, lebih baik disalurkan ke dalam penerbitan baru.

Mungkin para pengelola persma memang butuh musuh bersama untuk menggerakkan mereka. Saya bisa berkata begitu, setelah melihat yang terjadi pada KARUNG GONI. Jaman saya dan kawan-kawan aktif, kami punya musuh. Penerbitan mahasiswa mainstream, yang tulisannya seputar kebijakan kampus, atau pemerintah. Issue-issue yang terlalu “serius” buat kami. Ya. Kami lawan mereka. Kami coba buktikan, kalau topik-topik “ringan” juga bisa punya tempat di kalangan mahasiswa. KARUNG GONI yang hanya difotokopi, juga bisa jadi media yang tidak kalah menarik dengan persma lain yang dicetak. Kami yang kerjanya hanya ketawa-ketawa di kampus, yang dituduh sebagai kaum hedonis, juga bisa membuat karya yang baik! Dan banyak hal lain yang coba kami buktikan waktu itu. Ada sedikit amarah, mungkin.

Penyaluran amarah itu akhirnya yang menggerakkan kami. Mencoba membuktikan pada “musuh-musuh” kami, kalau kami juga bisa! Terserah mau disebut persma atau bukan, yang penting batin kami puas! Bagaimanapun caranya, kami harus eksis! Harus terbit reguler! Karena kalau bukan itu motivasinya, apalagi dong? Bukan apa-apa, waktu itu belum terpikir soal melatih kemampuan menulis lewat penerbitan kampus. Bekal untuk dunia kerja blablabla. Itu malah disadari belakangan. Ketika akhirnya saya benar-benar masuk dunia kerja.

Dan saya tidak merasakan itu dari angkatan penerus kami. Mereka tidak punya semangat yang tinggi. Mungkin karena tidak punya musuh bersama. Karena ketika gilirannya mereka mengelola KARUNG GONI, media itu sudah relatif mapan. Sudah masuk mainstream. Sudah dikenal orang. Sudah relatif diakui keberadaannya. Maka, KARUNG GONI pun sempat mengalami era hidup segan mati tak mau. Akhirnya, saya berkata pada diri saya sendiri, kalau umur KARUNG GONI memang hanya 14 edisi. Daripada batin terus berteriak karena kecewa. Bahkan, ketika akhirnya kami meneruskan Fikombabes pada angkatan bawah pun, ekspektasi saya tidak setinggi ketika kami mewariskan KARUNG GONI.

Saya tidak tahu bagaimana cara mahasiswa lain mengelola media mereka. Saya juga tidak tahu bagaimana mereka memandang profesionalisme dalam persma. Yang saya tahu, mungkin cara kami memandang profesionalisme adalah dengan selalu ingin menerbitkan KARUNG GONI tiap bulan. Ingin bisa tertawa puas. Memuji diri sendiri. Dan sekali lagi, merasa telah melayangkan tinju buat sang musuh!

Maaf kalau tulisan ini tidak sedikit pun memberikan pencerahan. Saya juga tidak bisa memberikan masukan dari sudut pandang akademis atau teoritis. Saya hanya ingin menegaskan kalau kamu tidak perlu takut mencoba mendirikan penerbitan. Jangan terpaku dengan segala imej atau karakter yang terlanjur melekat dengan kata ‘persma’. Paling enak jadi mahasiswa sebenarnya. Kalau salah pun, dianggap wajar, karena masih belajar. Kalau menghasilkan karya yang baik, pujiannya cenderung berlebihan. Sudah ah. Semakin melantur.

Salam.