Tentang Hari Terbaik Saya di 2014

Sebenarnya, ada banyak hal menyenangkan di 2014, tapi saya mau cerita satu hal paling menyenangkan.

Di akhir 2013, saya pernah menulis twit begini: Resolusi 2014: nonton konser The Rolling Stones. Alasan saya memasukkan itu sebagai resolusi yang masuk akal, karena di akhir tahun, saya dengar gosip soal The Rolling Stones bakal konser di Indonesia. Gosip dari teman yang bekerja di dunia promotor pertunjukkan. Lalu, ada berita soal The Rolling Stones yang akan menggelar tur dunia di 2014. Padahal, sebelumnya, berita soal tur itu selalu mereka bantah.

Saya bertekad. Kalaupun tak datang ke Jakarta, harus dikejar ke kota terdekat. Alhamdulillah sudah ada tabungan, jadi mimpi untuk menonton band pujaan sepertinya bisa diwujudkan. Mumpung semua personelnya masih sehat walafiat.

Yang muncul pertama di jadwal tur mereka, adalah Adelaide, Australia. Tapi hanya beberapa hari, tiket ludes. Dan ketika di Twitter muncul daftar paket nonton koser Stones di Melbourne dari akun @kartupos, harapan semakin cerah. Tapi sayang, tiket yang saya dambakan sudah ludes juga. Mereka hanya punya tiket yang lokasinya kurang oke.

Target berikutnya adalah Macau. Saya pikir, ini bisa jadi lokasi yang cocok nih. Lalu seorang teman bernama Andi Bachtiar Yusuf mengajak pergi ke konser itu juga. Dan Ucup, yang ternyata sering bolak balik Jakarta – Tokyo dalam rangka menonton sepakbola [dan membantu mengenalkan tim sepakbola di sana ke Indonesia], mendapat bantuan dari temannya dan menawarkan untuk menonton di Tokyo.

Tiket untuk konser tiga hari itu, cepat ludes. Kalau tak ada bantuan dari teman di Tokyo, mungkin kami tak bisa membeli tiketnya. Saya dan Ucup sebenarnya meminta untuk membeli tiket paling mahal, tapi entah si orang Jepang itu tak punya uang atau takut tak diganti uangnya atau memang kehabisan, kami mendapat tiket di kursi yang cukup jauh.

Tak apalah, saya pikir. Yang penting, bisa menonton The Rolling Stones.

Sebelumnya, sempat muncul jadwal Singapura, tapi beberapa menit setelat ditwit, jadwal itu hilang dari timeline akun The Rolling Stones. Saya tadinya mau membeli yang di Singapura dan tak berharap ke kota lain, karena tentu saja Singapura akan lebih murah biayanya. Tapi karena tak kunjung jelas, akhirnya Tokyo jadi tujuan.

Eh ternyata, menjelang kepergian ke Tokyo, jadwal Singapura muncul. Hati berdebar kencang. Bahagia. Bisa menonton dua kali, dan kebetulan tempatnya lebih kecil. Berarti bisa menonton lebih dekat.

Di hari tiket dijual, saya bergegas ke Senayan City, karena katanya tiket bisa dibeli di Sistic yang ada di sana. Tapi dalam perjalanan, ketika saya konfirmasi ulang, mereka bilang, tiket hanya dijual lewat online. Kampret. Saya terlewat. Dan benar saja, ketika membuka situs Sistic, tiket paling depan sudah habis. Bahkan saya juga tak bisa membeli tiket di kelas kedua untuk dua tiket. Dan sialnya lagi, saya lupa, bahwa ada perbedaan waktu satu jam antara Singapura dan Jakarta. Jadi, saya ketinggalan waktu satu jam. Dan gagal lah, saya pikir, nonton Stones dari jarak dekat.

Oke, langsung cerita soal konser di Tokyo ya. 6 Maret 2014 di Tokyo Dome, saya nonton Stones bersama Ucup dan Titi, teman Ucup yang baru saya kenal. Saya mengajak Tetta sekalian jalan-jalan ke Jepang. Bisa nonton Stones dan mengajak istri jalan-jalan ke Jepang di waktu bersamaan. Dua kebahagiaan duniawi.

Tokyo Dome adalah stadion baseball. Tempatnya besar. Saya duduk di barisan atas. Hanya bisa melihat panggung dari kejauhan. Kecil sekali terlihatnya. Tapi tetap saja hati berdebar. Mimpi jadi kenyataan. Penantian belasan tahun akhirnya terbalas juga.

IMG_6975

Tokyo sedang dingin. Cuaca 4 derajat celcius malam itu. Tapi di dalam, saya merasa hangat. Karena banyak orang, dan karena hangat bahagia. Hahaha. Konser dimulai jam tujuh malam waktu Tokyo, tapi sejak jam 1 siang, antrian di booth merchandise sudah panjang sekali. Saya yang tadinya berjanji membelikan kaos untuk Tria Changcut dan berjanji ditukar dengan kaos konser Adelaide di mana dia akan pergi, begitu sampai di booth merchandise, uang ludes. Satu kaos kira-kira seharga 500 ribu rupiah. Beli dua kaos dan satu tas, uang habis. Mau mengambil lagi di ATM, tapi malas balik lagi ke antrian. Maafkan aku Tria Changcut.

IMG_6976

Begitu konser dimulai, sebenarnya saya agak kecewa mendengar tata suara. Saya bingung, apakah memang karena The Stones sudah tua sehingga mereka bermain tak bagus lagi ataukah karena posisi duduk saya yang ada di atas dan penyebaran suara tak begitu bagus? Tapi, kekecewaan itu saya kubur dalam-dalam dan diganti dengan pikiran bahwa terlepas dari bagus jeleknya setidaknya saya akhirnya bisa menonton Rolling Stones.

15 Maret 2014, sembilan hari sejak konser di Tokyo Dome, saya pergi ke Singapura. Kali ini, Tetta juga saya belikan tiket. Nonton band pujaan bersama istri kesayangan, adalah kenikmatan duniawi. Menjelang hari H, ada kabar menggembirakan. Guvera, situs streaming musik menawarkan saya tiket Rolling Stones di Singapura dan mengganti biaya tiket pesawat serta menawarkan hotel asal saya mau melaporkan konser itu lewat twitter alias livetweet. Wah ini mah rejeki nomplok namanya.

Yang lebih menggembirakan lagi, tiket saya bisa diupgrade. Saya yang tadinya tak berjarak terlalu dekat, diberi tiket VIP alias paling depan! Jadinya, tiket saya yang tadinya di kelas nomer dua, bisa saya berikan untuk Tetta, dan tiket Tetta bisa saya jual sehingga saya bisa  menghemat biaya.

Konser Stones di Singapura digelar di ballroom di Marina Bay Sands. Ini adalah gedung yang berada di dalam mall, dekat dengan kasino. Karena tiket terbatas, promotor memasang layar di luar arena untuk mereka yang tak bisa membeli tiket yang menurut ukuran orang Singapura pun cukup mahal. Tiket paling murah seharga Rp 2 juta dan paling mahal seharga Rp 7 juta. Promotor cukup baik dengan memasang tata suara yang juga bagus untuk para penonton di luar.

Saya bertemu salah seorang penggemar The Stones dari Jakarta yang belum punya tiket, dan berharap kalaupun dia tak kebagian, dia akan cukup puas menonton dari luar. Untung saja ada Guvera, sehingga tiket Tetta bisa saya jual ke orang itu yang memang terlihat sekali penggemar The Stones, dari semua atribut yang dikenakan.

Selain orang itu, saya juga bertemu orang Jakarta yang tinggal di Singapura dan mau membeli tiket. Tapi sepertinya dia rejekinya bagus, karena ketika sedang berbincang, tiba-tiba seorang bule memberi dia dua tiket. Katanya dia dapat itu dari kasino yang dia kunjungi. Bule itu tak meminta uang sepeserpun. Setelah dia serahkan tiket itu, si bule langsung pergi meninggalkan wajah orang Jakarta yang heran sekaligus bahagia.

Sebelum konser dimulai, ternyata Mick Jagger, Keith Richards, Ron Wood, dan Charlie Watts, menyapa para penonton di luar venue. Sebuah aksi yang mengejutkan.

Di dalam Ballroom, ternyata semua diminta duduk di kursi masing-masing. Tapi sejak awal, saya dan beberapa orang kulit putih, berdiri di depan barikade. Ada cekcok antara kami dan para penjaga soal larangan berdiri menempel ke barikade. Penjaga keamanan berbadan kecil, warga lokal, tak diindahkan himbauannya oleh bule-bule tua berbadan besar.

“This is a rock n’ roll show!” kata mereka soal alasan kami berdiri di depan panggung.

Saya sih bahagia, karena ada teman di depan dan yang penting, saya bisa berdiri menempel barikade! Hanya berjarak beberapa centimeter dari panggung yang tak terlalu tinggi. Ini sih lebih baik dari konser yang sering saya lihat di DVD. Dulu tak pernah terbayang bisa menonton langsung The Rolling Stones. Dan ketika mendapat tiket pun, tak terbayang bakal ada di baris paling depan!

Hati saya berdebar sangat kencang. Girang bukan kepalang.

photo 1

Begitu Mick dan kawan – kawan muncul, beberapa petugas keamanan sempat meminta kami mundur dan duduk di kursi, tapi begitu musik menghentak, emosi semakin diacak-acak, omongan petugas makin tak dihiraukan.

Ya Alloh, saya dekat sekali dengan panggung. Rasanya pingin menangis. Keriputnya Mick Jagger dan kawan-kawan terlihat jelas. Di sebelah saya, Coki, gitaris Free on Saturday yang memang penggemar The Stones, khususnya Keith Richards terlihat menangis terharu. Air mata mengalir deras. Dia memegang mulutnya sambil menatap Keith. Saya bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan Coki.

IMG_7103

Dan yang lebih membahagiakan, adalah ternyata The Rolling Stones masih bermain dengan bagus. Tata suara terdengar menyenangkan. Berarti yang kemarin di Tokyo Dome itu faktor venue, sehingga tenanglah hidup saya. Band pujaan saya masih bagus, meskipun di usia senja dan sudah bermain selama 50 tahun!

photo 2

Hampir dua jam The Rolling Stones bermain. Tetta tak keberatan saya tinggal ke depan panggung. Untunglah, ada Wenz Rawk yang akhirnya bisa upgrade tiketnya [karena saya mendapat dua tiket dari Guvera] sehingga dia bisa satu kelas dengan Tetta. Ah, terima kasih Guvera!

Kebahagiaan tak berhenti sampai di situ. Di akhir konser, Keith Richards melempar pick gitarnya dan jatuh ke bawah panggung. Fotografer yang ada di depan, berbaik hati mau memberikannya pada saya. Untunglah dia bukan penggemar The Stones. Hahaha. Sebelumnya, dia juga memberikan saya pick bass Darryl Jones yang jatuh di depan panggung, dan hanya saya yang menyadari.

photo 3

 

Setelah konser The Rolling Stones, secara musik, rasanya saya tak terlalu penasaran lagi. Tahun sebelumnya, sudah menonton The Stooges di Korea Selatan. Dua idola utama saya sudah berhasil saya tonton. Oh iya, Bob Dylan dan The Specials juga saya sudah nonton. Jadi, band-band yang berpengaruh untuk jiwa, sebagian besar sudah saya tonton. Maklum, yang lain, sebagian besar sudah meninggal: The Ramones [Marky Ramone sih pernah nonton waktu dia datang ke Jakarta tapi ya cuma dia personel Ramones nya], The Clash, The Doors, Bob Marley, dan Lou Reed. Yah memang sih masih ada Blondie, Sex Pistols [semoga mereka reuni lagi], dan Patti Smith.Tapi saya sih merasa sudah naik haji setelah menonton Stones dan The Stooges.

photo 4

Yang lainnya sih, saya anggap umroh.

Nah, itulah dua hari di 2014 yang begitu menyenangkan buat saya. Uang banyak terkuras, tapi hati sangat puas.

Semoga 2015 membawa lebih banyak kebahagiaan.

Selamat Tinggal Indika FM

Kemarin, hari terakhir saya siaran di Indika 91,6 FM.

Kalau dihitung sejak masih siaran seminggu sekali di sana, maka sudah empat tahun saya bekerja di Indika FM. Semua berawal ketika saya masih bekerja di majalah Rolling Stone Indonesia. Tahun 2010, Divisi Promosi mengadakan kerjasama dengan Indika FM, dalam bentuk program radio bernama Soundcheck. Kerjasamanya adalah: Rolling Stone mengirimkan satu wartawannya untuk siaran di Indika FM, menjadi partner penyiar Indika FM, dan bercerita soal isi majalah di edisi terbaru, serta memberikan ulasannya soal album atau berita terbaru di industri musik. Lalu, Rolling Stone memuat berita soal kegiatan off air program Soundcheck.

Karena tahun 2010, saya satu-satunya editor Rolling Stone yang tak punya pekerjaan sampingan [yang lain antara menjadi pemain band atau manajer band], maka saya yang ditunjuk untuk menjadi wakil Rolling Stone dan menjadi penyiar tandem bersama Hans Lango. Saya lupa, berapa lama saya siaran dengan Hans, tapi setelah dia, saya lalu siaran bareng Depritha Zoraya selama kira-kira tiga bulan, lalu terakhir, dengan Kallula, selama tiga bulan juga.

Dua petinggi Indika FM, Verno Nitiprodjo sang Program Director dan Praditya Sutrisno sang Station Manager, ternyata suka pada gaya siaran saya. Mereka kemudian meminta saya siaran di program pagi. Saya membayangkan bakal berat untuk bangun subuh dan berangkat pagi demi siaran jam 6. Tiga bulan saya melakukan itu ketika siaran di Pagi-Pagi I Radio Jakarta.

Saya tolak tawaran siaran pagi.

Tapi mereka bersikeras, karena program pagi Indika waktu itu berupa single DJ. Program sore lah yang jadi andalan mereka, dengan 2I nya: Iwan Sastro dan Irwan Ardian. Akhirnya setelah bernegosiasi, maka saya menyanggupi dua kali dalam seminggu, dengan jam siaran: 7 – 9 pagi [karena saya tak ingin bangun pagi, dan karena jam 10 pagi saya sudah harus di Rolling Stone] di program Bajak yang merupakan akronim dari Bandung – Jakarta. Intinya, saya sekalian membajak siaran pagi mereka, juga membahas hal yang berkaitan dengan Jakarta dengan saya sebagai pendatang dari Bandung.

Siaran pagi Indika FM waktu itu, masih dibagi untuk dua penyiar. Saya lupa pembagiannya, yang jelas Senin – Jumat, Nissa Muluk dan Lely Djojodihardjo yang bertugas. Senin Selasa Nissa, Rabu hingga Jumat, Lely. Atau sebaliknya. Nah, saya siaran di Selasa dan Jumat, dengan dua penyiar yang berbeda. Format ini kemudian berubah, menjadi saya dan Lely, setelah Nissa mengundurkan diri.

Setelah hampir dua tahun saya siaran di Indika, tiba-tiba Rolling Stone memecat saya. Haha. Dengan alasan, mereka mengetahui saya siaran. Padahal, itu sudah berjalan dua tahun lebih. Kata manajemen, karena saya siarannya rutin, dan nama saya tercatat di situs Indika, maka saya dianggap bekerja di dua perusahaan yang berbeda dalam waktu yang sama. Tak peduli apakah perusahaannya itu bukan media cetak, tak peduli apakah jam kerja saya di luar jam kerja Rolling Stone [padahal, secara absensi, saya termasuk paling rajin datang pagi dan tak pernah terlewat deadline]. Mungkin pemicunya karena saya mulai sering terlihat aktif stand up di televisi. Mungkin juga karena saya sering mengkritik Pak PresDir yang juga bekerja di dua perusahaan.

Paska pemecatan di Rolling Stone, saya siaran dari jam 7 hingga jam 10.

Dan ada masanya, kami siaran bertiga: saya, Lely, dan Vicky Ardian [yang sekarang memakai nama Vicky Harahap di Hard Rock FM Jakarta].

Lalu, datanglah para konsultan dari Malaysia. Mereka yang katanya sukses membuat Jak FM dan Gen FM menjadi radio nomor satu di Jakarta. Semuanya berubah ketika para konsultan datang. Indika FM ingin meluaskan pasarnya. Selama bertahun-tahun Indika FM dikenal sebagai radio dugem, radio ajep ajep, radio yang memuja musik dance, karena pemiliknya memang seorang DJ.

Indika FM kemudian menjadi Indika FM Sounds of Jakarta. Memutarkan Lagu-lagu Hits Terbaik dari Tahun 2000 Hingga Kini. Formasi dirombak. Para penyiar dikurangi. Manajemen menawarkan para penyiar jadi karyawan tetap, dengan jam kerja minimal 6 jam dan gaji flat alias tak dihitung per jam, tapi mendapat fasilitas asuransi kesehatan. Semua penyiar punya program sendiri. Maka, dari kira-kira 13 penyiar yang ada, tinggal 6 penyiar. Saya, Lely, Hans, Vicky, Satria Sutrisno alias Ukke, dan Martha Tandiyono.

Manajemen menjanjikan bahwa para penyiarnya masih boleh punya kegiatan di luar, pekerjaan sampingan. Manajemen katanya senang kalau para penyiarnya dikenal orang. Dan kalau ada pekerjaan sampingan atau hari libur nasional, siarannya boleh direkam, tak usah live.

Yang membuat para penyiar lama kaget adalah, ketika konsultan menyarankan membuat kompetisi mencari penyiar baru Indika yang kemudian diberi nama Indika FM Superstar. Yang lama banyak yang tak diminta bergabung, ada yang bersedia bergabung tapi hanya untuk siaran di akhir pekan, tapi malah mencari penyiar baru. Lalu, konsultan dan manajemen membajak Arie Dagienkz sebagai penyiar program prime time pagi. Yang kemudian mengagetkan para penyiar lama adalah, Dagienkz dipasangkan dengan Sinyorita yang belum pernah siaran dan diajak bergabung karena dia pemain sketsa Trans TV dan ternyata diajak siaran pagi karena Wisnutama mantan bos Trans TV yang sekarang di Net yang juga pemilik Indika FM, merekomendasikan namanya.

Saya kemudian dipindah ke program sore. Bersama Widma Meissner, juara satu Indika FM Superstar. Sepertinya para penyiar lama cukup cemburu dengan keputusan ini. Tak ada satu pun dari mereka yang dapat program prime time. Semua untuk orang baru. Hanya saya yang relatif sudah lama di sana.

photo 1

Yang kemudian membuat satu per satu penyiar lama mengundurkan diri adalah soal kebijakan taping alias siaran direkam. Kesepakatan soal pekerjaan sampingan, ternyata dibatalkan. Manajemen ingin para penyiarnya mengutamakan siaran.

Saya adalah yang tersisa dari rombongan itu.

Formasi Dagienkz – Sinyo kemudian dirombak, karena hasilnya kurang memuaskan. Akhirnya saya diminta pindah ke pagi. Kami menamakan diri dengan Duo Legienkz. Belum setahun kami siaran bareng, Dagienkz diminta pergi. Di luar, dia disebut punya masalah attitude. Tapi yang sebenarnya terjadi, sejak awal Dagienkz punya saran untuk program pagi supaya menarik menurut dia, tapi manajemen menganggap itu sebagai bentuk tak mau kerjasama dengan para konsultan. Saya bisa mengerti dua posisi itu. Dari sisi manajemen, tentu saja mereka kesal karena sudah membayar mahal konsultan, buat apa kalau tak mengikuti saran mereka? Tapi dari sisi Dagienkz juga saya mengerti. Dia sudah siaran belasan tahun, lebih lama dibandingkan para konsultan itu bekerja di radio. Dagienkz pernah punya program yang sangat hits, dan dia tahu apa yang cocok buat gaya siaran dia. Yah harusnya sih manajemen juga memberi Dagienkz kebebasan berkreasi. Toh, dia sudah dibajak dan dibayar mahal. Harusnya kreativitas Dagienkz diperas juga. Jangan mengatur dia. Toh, dia menjadi penyiar terkenal juga karena dia menjadi dirinya sendiri.

photo.PNG

Duo Legienkz mulai kehilangan semangat ketika produser kami mengundurkan diri. Manajemen menggantinya dengan copy writer yang memang tak punya pengalaman menjadi produser, dan awalnya juga tak mau jadi produser. Merepotkan memang, punya produser yang tak mengerti jadi produser. Dagienkz yang cukup keras kepadanya, dianggap membully dia dan dianggap attitude nya tak menyenangkan. Bahkan, manajemen mengira, si produser diminta membuatkan kopi. Padahal, setahu saya, Dagienkz meminta si produser untuk memanggil OB dan minta tolong dibuatkan kopi.

Keluhan produser yang merasa ditindas oleh sikap Dagienkz yang semena-mena, membuat manajemen semakin tak suka.

Puncaknya, ketika konsultan mengetahui bahwa selama sebulan hampir setiap hari, saya dan Dagienkz merekam siaran kami, alias tak siaran live. Dagienkz diminta pergi, dengan alasan, dia tak akan mau siaran pagi. Saya dihukum pindah ke Indika Sore lagi, dan tak akan pernah kembali siaran pagi. Untuk contoh kepada karyawan yang lain, bahwa hukuman harus diberikan kepada siapapun yang melanggar. No one bigger than the station, begitu kata manajemen.  Saya tak diminta pergi, karena dianggap masih mau bekerjasama dengan konsultan, dan masih mau siaran sore. Ya tentu saja masih mau, karena toh saya mau punya penghasilan tetap dari mana kalau tak siaran? Haha.

Tapi, keinginan untuk pergi lama-lama semakin kuat. Setiap kali ada tawaran pekerjaan di luar, belum apa-apa saya sudah membayangkan malas untuk meminta ijin. Repot. Tak semudah itu untuk mengajukan cuti, meskipun jatah cuti saya masih ada. Dulu, pernah dijanjikan dua kali maksimal dalam sebulan boleh ijin. Tapi pada prakteknya tak terwujud.

Sebagai stand up comedian, saya makin menghilang. Di tahun 2014 saja, saya hanya muncul dua kali, karena jadwal taping di Metro TV selalu bentrok dengan jadwal siaran. Ironis. Indika FM ingin punya penyiar yang dikenal orang, tapi saya yang punya akses ke situ, dibatasi ruang geraknya. Intinya, saya merasa tak berkembang.

Itu sebabnya saya mengundurkan diri.

Mumpung hubungan dengan manajemen sedang baik. Hehe. Mengundurkan diri dari perusahaan tanpa memakai emosi, itu lebih baik. Setidaknya, saya pergi bukan karena marah atau kesal pada manajemen, tapi ya karena demi kebaikan bersama. Saya bebas menerima tawaran pekerjaan sampingan, dan Indika tak akan direpotkan dengan permintaan cuti saya.

Di tiga perusahaan sebelumnya, saya selalu mengakhiri masa kerja dengan dipecat. Haha. Di Trax Magazine, Playboy Indonesia, dan Rolling Stone Indonesia. Makanya, untuk kali ini, saya ingin pergi bukan karena dipecat, tapi karena mengundurkan diri. Dengan begitu, saya tak akan bicara jelek dan memaki-maki Indika FM di luar, dan Indika FM juga tak akan mengatakan hal jelek tentang saya, ya karena saya mundur baik-baik.

photo 2

Terima kasih Indika FM, dan khususnya untuk kawan-kawan Divisi  Program:

Jujuk Margono, Station Manager yang kalau sedang banyak urusan, rambutnya jadi seperti Justin Timberlake era N’ Sync. Tempat yang dituju kalau mau konsultasi otomotif. Maklum, anak gaul otomotif.

Yuma Maharani, Program Manager yang selalu rajin mendengarkan siaran para penyiarnya dan melakukan aircheck. No more aircheck. No more paycheck juga. Haha.

Rully Austin, Music Director. Teman sesama Fikom Unpad.

Widma Meissner si penggila K-Pop yang belum pernah ke Korea Selatan. Yah setelah saya sudah terbiasa dengan suara kencangnya di kuping saya, dan chemistry siaran sudah makin oke, saya harus pergi. Sayang sekali, tapi mau bagaimana lagi.

Angga Nggok [sesama Fikom Unpad juga] dan Sahil Mulachela. Duo Gokil dari Indika Pagi. Semoga kalian selalu sabar menjalankan permintaan manajemen akan feature-feature lucu, eh salah, sangat lucu. Hahaha.

Elisabeth Pauli dari Indika Jahits, yang pernah diajak bercinta oleh Snoop Dogg.

Dixon Jaya Saragi dari Indika Oskar, sesama alumni SMA 3 Bogor, yang selalu saya pinjam charger iPhone nya.

Daud Tobing dari Indika Malam, dengan dadanya yang bidang dan bahasa tubuhnya yang belagu tapi sebenarnya menggemaskan.

Lalu dari Indika Wiken ada Astry Ovie si Putri BKT yang kocak [saya rasa kalau dia masuk TV, pasti bakal banyak yang suka dengan celotehnya], Chaca Raisa dan Bayu Adisapoetra yang saya baru kenal. Haha. Dan oya, Ishak Tongtong, produser pagi yang pekerja keras dan celetukannya menjadi pelengkap kegilaan Nggok Sahil.

Kawan-kawan Hello Traffic: Gege Bahari si badan besar tapi lentur [tak mau bilang ngondek sih, karena katanya dia mah ya gitu aja, bukan ngondek], Sultan Farah dengan suaranya yang bikin cowok-cowok gemes.

Nama-nama lain ada: Andry Joe sesama Fikom Unpad, Helmy Surachman mantannya Wina, kawan-kawan teknisi, Pak Martono, Eddy Jun, Ndozt, Puding, Mas Pandu sang desainer bijak, Abung, Ikhsan, Ditter, Tim Girang, Dre, Madu, Mike, Ayas, Gathy, Debbie, dan kawan-kawan sales yang punya target ratusan juta rupiah.

photo 4

photo 3

Nah, sekarang pertanyaannya, mau apa saya setelah mundur dari Indika FM? Haha. Ini pertama kalinya saya tak punya pekerjaan tetap dengan penghasilan tetap. Yah, memang sih masih ada dari TV One dengan program Karikatur Negeri, tapi penghasilannya tergantung pada berapa banyak tayang. Bukan apa-apa, di Kamis jam 9 pagi, kadang ada tayangan khusus kalau ada kejadian khusus sehingga program saya tak tayang.

Tapi kemudian saya teringat ucapan bijak Arie Dagienkz soal rejeki.

“Gusti Alloh mah nggak tidur.”

Tentang Saya dan Album Matraman dari The Upstairs

Ada antrian panjang di depan pintu masuk Ecobar Kemang, Selasa [16/12] jam sembilan malam ketika saya baru tiba di sana.

Bukan antrian sembako atau antrian dalam rangka masuk ke klub trendi seperti di adegan film, tapi antrian orang yang mau membeli piringan hitam album Matraman dari The Upstairs. Sebagian besar laki-laki [saya sih tak melihat perempuan di antrian] berusia dua puluhan hingga tiga puluhan.

Setelah berusia sepuluh tahun, album Matraman kini dikeluarkan dalam bentuk piringan hitam.

photo 2

Saya pertama kali tahu nama The Upstairs, tahun 2001, ketika magang di tabloid Bintang Millenia. Ada seorang fotografer bernama Vitri Yuliani, yang sering memakai kaos The Upstairs. Desainnya cerah warna-warni di atas kaos putih. Dan Vitri juga menulis The Upstairs sebagai band indie terbaik di Bintang Millenia edisi ulang tahun di mana mereka memuat profil para jurnalisnya. Kalimat Vitri waktu itu: mosque of indie band in Jakarta. Entah apa maksudnya. Apakah maksudnya kiblat band indie atau tempat solat band indie. Hehe.

Vitri bilang, The Upstairs adalah band pacarnya. Dan beberapa kali, ketika dia membuka email di komputer kantor, saya sering melihat dia membuka email yang sebagian besar isinya dari seseorang bernama Jimi Danger.

Tak lama setelah saya magang, saya membaca profil Jimi Danger dalam sebuah wawancara dengan majalah Trolley yang waktu itu masih berukuran kecil. Si pewawancara menggambarkan sosok Jimi sebagai paduan antara Mick Jagger dan Iggy Pop yang ketika Jimi bernyanyi, menggeliat seperti cacing. Dan dengan memakai nama Jimi Danger, saya mendapat kesan bahwa Jimi adalah sosok urakan nan rock n’ roll yang merupakan gabungan dua idola saya: Mick dan Iggy.

Lalu, pada 2002, suatu siang ketika MTV Indonesia masih berjaya dan masih memutar lagu-lagu bagus, saya melihat video klip “Antahberantah” dari The Upstairs. Saya langsung jatuh cinta dibuatnya.Video klipnya meskipun low budget tapi bisa menangkap energi lagu dengan baik.

Baru pada 2005, ketika menjadi reporter di MTV Trax Magazine, saya bisa menyaksikan langsung untuk pertama kalinya The Upstairs di sebuah bar atau cafe bernama De Basic dalam konser mereka yang diberi judul Konser Matraman. Saya membeli CD album Matraman dengan harga Rp 25 ribu. Kini, sepuluh tahun kemudian, piringan hitam mereka dijual dengan harga sepuluh kali lipatnya. Angka yang cantik ya. Hehe.

Jimi adalah abang-abang mirip preman pasar tapi dengan rambut jambul, kaos lengan buntung, dan skinny jean berwarna cerah [sebelum celana model begitu jadi trendi seperti sekarang!]. Venue nya kecil, tapi penuh sesak oleh orang-orang yang berjoged dengan menggila. Jimi masih berbicara kotor di panggung, dan lirik “Aku di Matraman kau di kota Kembang” dia plesetkan menjadi “Aku di Matraman kau dientot orang.”

Ini adalah periode liar Jimi Multhazam yang waktu itu masih tak keberatan dipanggil Jimi Danger. Tentu saja itu diambil dari lagu Gimme Danger punya The Stooges. Kalau tak salah, salah satu teman Jimi yang memanggil itu untuk pertama kalinya. Nama panggung yang keren, kalau menurut saya. Ada aura urakan, berwibawa, liar, dan rock n’ roll.

Proses merekam album Matraman, kalau saya tak salah dengar, hanya memakan biaya produksi Rp 5 juta. Menurut mantan manajer Wenz Rawk, album itu banyak berhutang jasa kepada Ario Hendarwan, gitaris/vokalis The Adams, karena sesi rekaman dan mixing dilakukan di rumahnya. Album yang merupakan paduan baik antara manisnya musik pop, semangat cerianya new wave/disco, dengan agresifnya punk rock. Energi The Upstairs masih meledak-ledak, mendengar vokal Jimi di album ini, saya mendapat kesan bahwa Jimi hanya ingin bernyanyi, bisa merekam saja sudah syukur, jadi tak perlu memikirkan apakah suaranya bakal bagus atau tidak.

Dan “Matraman” adalah salah satu lagu cinta terbaik sepanjang masa. Intro kibordnya yang pop sekali, lalu disambut lirik pembuka: “Demi trotoar dan debu yang beterbangan ku bersumpah. Demi celurit mistar dan batu terbang pelajar ku ungkapkan.” Gila. Lirik yang keren untuk menggambarkan orang yang jatuh cinta dan mengungkapkan perasaan. Jatuh cinta tak selamanya harus diungkapkan dengan menye-menye atau lemah mendayu-dayu. Dan kalimat sumpah tadi, dengan baik menggambarkan suasana jalanan di ibukota yang kotor dan pada masanya sempat ramai oleh tawuran pelajar sekolah.

Lagu ini manis sekali. Manis tapi dengan lirik yang jantan.

Album ini membuat saya memasukkan Jimi Multhazam ke dalam daftar penulis lirik terbaik dari Indonesia.

Satu lagu lagi yang begitu mendengar membuat saya langsung terpana adalah “Apakah Aku Berada di Mars atau Mereka Mengundang Orang Mars”. Lagu tentang Jimi datang ke sebuah klub, dan orang-orang yang di sana berdansa dengan seragam. Menurut Jimi, saat itu, dia sendiri yang gerakan dansanya berbeda dengan orang lain.

Beberapa tahun kemudian, ketika The Upstairs menjadi raja pensi dan bermunculan banyak sekali Modern Darlings [sebutan untuk penggemar mereka], The Upstairs telah menciptakan planet mars di setiap konser mereka. Modern Darlings berdansa dengan seragam, pakaiannya senada, dan semuanya adalah interpretasi mereka terhadap visual The Upstairs. Mereka yang bukan Modern Darlings pasti akan bertanya seperti itu juga akhirnya: apakah aku berada di Mars atau mereka mengundang orang Mars.

Maunya sih saya membahas satu per satu lagu di album Matraman, tapi apa daya, mata sudah mengantuk. Jadi, daripada uring-uringan atau lemas tak berdaya karena kurang tidur, mendingan saya segera akhiri tulisan ini.

Singkat cerita, setelah album Matraman, The Upstairs sempat jadi raja pensi, lalu mereka mengalami proses ditinggalkan manajer terbaiknya: Wenz Rawk, dan satu per satu personel aslinya. Dua personel asli mereka, drummer Beni Adhiantoro dan bassist Alfi Chaniago mundur dari musik karena sudah menemukan Tuhan dan merasa harus menjauh dari sik sik musik.

Selasa malam tadi, di Eobar Kemang, ada Jimi dan Kubil Idris sang gitaris dalam sesi tanda tangan. Dua yang tersisa dari personel di album Matraman. Bagai Mick and Keith di The Rolling Stones atau Iggy dan James Williamson di The Stooges, selama ada gitaris dan vokalis, maka band biasanya masih bisa bertahan.

photo 1

 

Saya masih menanti munculnya album terbaru dari The Upstairs dan tentu saja lirik-lirik ciamik dari Jimi Multhazam. Selama ini belum ada lirik dia yang bercerita soal hubungan dia dengan anaknya, Pijar Cakrawala. Saya penasaran, seperti apa dia menuangkan kisah atau harapan dia tentang anaknya ke dalam lagu. Yah, seperti kata Jimi dalam hesteg nya di Instagram: Punk is Dad.

Anyway, terima kasih The Upstairs atas musik kalian. Semoga esok kita berdansa.

 

Hadirilah Majelis Tidak Alim Soleh Solihun!

soleh_revisi_lengkap3

Mungkin di antara Anda sudah tahu, bahwa saya akan membuat pertunjukkan tunggal stand-up comedy yang saya beri judul Majelis Tidak Alim, Sabtu, 31 Januari 2015 di Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, pukul 7 malam. Lokasinya ada di sebelah Pasar Festival.

Buat yang belum tahu apa itu pertunjukkan tunggal stand-up comedy, atau biasanya sih lebih populer di kalangan stand-up comedian dengan istilah stand-up special [Saya sengaja tak mau menyebut special show, karena seperti kata teman saya, Sammy Not A Slimboy dalam salah satu lawakannya soal martabak, kalau semua mengaku spesial, lantas di mana letak spesialnya? Haha] ini adalah konser tunggal kalau kita bicara konteks musik, atau kalau nanti jadinya dibuat dalam bentuk DVD, maka ini adalah album.

“Gua kira lo nggak tertarik bikin yang seperti itu, Leh,” kata Pandji Pragiwaksono ketika saya bercerita soal rencana show saya.

Memang sih, waktu banyak teman saya seperti Ernest, Sammy, Luqmann, dan Pandji bikin special, ada yang bertanya kapan saya membuat special juga, yang saya jawab dengan pernyataan bahwa saya tak akan mau membuat special, karena saya tak yakin bisa membuat materi lawakan baru untuk pertunjukkan selama minimal satu jam. Kalau membawakan materi-materi lama doang sih, bisa saja, tapi kan kasihan yang datang membeli tiket, masa’ dikasih materi lama. Yah ibaratnya album musik, kalau saya membuat album perdana hanya berisi kumpulan lagu-lagu saya yang pernah tersebar di berbagai album kompilasi, kan kurang oke.

Tapi kemudian, keinginan untuk membuat pertunjukkan tunggal semakin besar. Selain karena motivasi ingin membuat karya, juga karena selama ini setiap kali saya stand-up selalu tak mendapat panggung yang sesuai dengan keinginan saya. Di televisi, dibatasi oleh durasi dan terutama topik. Di acara perusahaan, ya tentu saja lebih terbatas lagi materi lawakannya. Intinya, saya ingin merasakan manggung di tempat yang nyaman buat saya, di mana saya bisa tampil sesuka hati saya.

Ada empat comic yang bakal turut memeriahkan pertunjukkan saya: Abdel Achrian orang Padang, Adjis Doaibu orang Batak dari Bekasi, David Nurbianto orang Betawi, dan Ricky Wattimena orang Ambon beragama Kristen. Hehe. Cukup beragam kan? Sunda diwakili oleh saya.

Abdel, sejak pertama kali berniat membuat pertunjukkan, saya terpikir mengajak dia, karena kan dia identik dengan sosok religius, pas lah dengan tema pertunjukkan saya. Dan kebetulan, ketika saya mengundang dia untuk datang ke pertunjukkan saya, dia malah berkata ingin berpartisipasi. Yah berjodohlah kita. Adjis, karena saya melihat kesamaan antara saya dan Adjis, sama-sama MC dan sama-sama mengandalkan penonton untuk dijadikan bahan lawakan. Plus, dia pernah berkata bahwa dia penggemar saya. Dia adalah orang pertama yang mengatakan bahwa dia penggemar saya. Haha. Ya makanya harus saya ajak. Sebagai bentuk terimakasih saya bahwa dia telah menyebut saya idola. Hahahaha. David, sebelum dia jadi juara Stand Up Comedy Indonesia dari Kompas TV, dia adalah opener saya kalau saya dapat job stand-up [saya sengaja pakai konsep opener dalam pertunjukkan 30 menit saya di job korporat alias acara perusahaan, supaya ada yang menghangatkan suasana sebelum saya tampil dan supaya saya ada teman grogi. Dan kalau saya garing, semoga opener saya tak garing jadi penonton terobati. Atau, kalau opener saya garing, ya saya jadi terlihat lucu sekali. Atau kalau kami berdua sama-sama garing, jadi pas pulang ada teman yang juga merasakan sengsaranya hati setelah gagal. Haha]. Makanya, dia harus saya ajak. Ricky, adalah opener saya setelah David jadi juara dan harganya tak bisa harga pemula lagi. Ricky masih berstatus mahasiswa, dan punya potensi untuk berkembang. Dia punya kemampuan yang tak dimilik stand-up comedian lain: beat box. Katanya sih berencana ikut SUCI Kompas TV season terbaru nanti.

Ada dua kelas dalam pertunjukan saya. Kelas Unta seharga Rp 150 ribu, dan Kelas Kambing seharga Rp 100 ribu. Saya ingat pelajaran agama Islam yang mengatakan bahwa kalau kita datang di barisan paling depan ketika Jumatan, maka pahalanya dapat Unta atau sekelas Unta lah saya lupa. Yang jelas, makin belakang barisan ketika Jumatan, maka hewannya makin murah. Ya Kelas Unta paling dekat dengan panggung. Maaf, saya belum bisa memberi denah panggung, karena memang belum ada. Haha. Soal pembelian tiket, baru akan dimulai nanti, tanggal 5 Januari 2015. Infonya rajin pantau twitter saya aja ya.

Lantas kenapa judulnya Majelis Tidak Alim?

Majelis, berarti tempat berkumpul. Alim itu berarti pintar. Bisa juga kalau bahasa percapakan sehari-hari, alim diartikan baik. Makanya ada kalimat, ‘Dia mah alim banget anaknya.’ Nah, sadar bahwa selama ini materi lawakan saya bukan lawakan pintar macam teman-teman yang saya sebutkan di atas tadi, saya mengambil judul itu. Dan satu lagi, ya ini memang parodi dari Majelis Ta’lim.

Selalu ada dua sisi dalam diri saya: sisi yang religius dan sisi yang kurang suka sama orang-orang yang reiligius karena banyak dari mereka yang sepertinya tak toleran terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan. Nama saya sih cukup religius, tapi kelakuan saya tidak. Makanya, nama Majelis Tidak Alim sekalian menyampaikan pesan bahwa jangan kaget kalau di pertunjukkan saya nanti, apa yang saya sampaikan tak sesuai dengan nama saya. Hehe. Maklum, banyak materi saya yang membahas seputar selangkangan.

Bukan bermaksud melecehkan agama Islam kok. Kalaupun ada materi saya yang mempertanyakan atau menganggap kocak kisah dari pelajaran agama yang pernah saya dapat, ya itu bukan bermaksud melecehkan, tapi ingin jadi gambaran bahwa selama ini memang banyak sekali pertentangan batin dalam diri saya kalau sudah bicara agama.

Kemarin ada yang mention saya di Twitter, berkata bahwa kalau bisa, materi lawakan saya jangan melecehkan agama Islam, seperti yang sudah-sudah. Ketika saya tanya, bagian mana atau tepatnya kalimat mana dari saya yang dianggap melecehkan, dia tak menjawabnya. Dulu juga pernah ada yang bilang kalau saya melecehkan ayat-ayat al Qur’an, tapi mereka tak pernah spesifik mengatakan lawakan yang mana. Apakah karena saya sering mengucap Istighfar di panggung? Masa sih, bilang astaghfirullohaladziim termasuk melecehkan? Kan kata guru agama, kita harus sering-sering istighfar. Lagipula, itu keluar secara refleks dari mulut saya, tanpa bermaksud melecehkan. Kan konteksnya tepat, setelah saya ngomong ngaco, saya mengucap istighfar demi meminta ampun. Hehe.

Yah pokoknya, jangan protes dulu lah, soal judul pertunjukkan saya. Lagipula, kata Majelis kan bukan khusus milik Islam. Majelis Permusyawaratan Rakyat yang isinya ada koruptor harus diprotes dong, kalau memang menganggap kata Majelis milik agama Islam.

Makanya, datang aja dulu ke pertunjukkan saya, baru protes. Hehe.

Yah sodara-sodara, ayo datang ke pertunjukkan saya. Ajak sanak sodara, handai taulan, rekan-rekan, tetangga, dan semuanya. Tak peduli apa agama dan kepercayaannya, semua boleh datang ke Majelis Tidak Alim Soleh Solihun.

Asal beli tiket.

Selamat Ulang Tahun Pernikahan, Istriku!

Hari ini, tiga tahun lalu, saya dan Tetta Riyani Valentia menikah.

FOTO PELAMINAN

Kami berpacaran selama enam tahun sebelum akhirnya jadi suami istri. Ada banyak hal yang membuat kami baru menikah setelah enam tahun pacaran. Pertama, sejak pertama kali pacaran, saya bertekad, kalau menikah, minimal gaji saya sudah lima juta per bulan. Keinginan ini muncul ketika gaji saya masih di bawah dua juta per bulan. Jadi, membayangkan gaji lima juta per bulan, rasanya besar sekali. Hehe. Kedua, bapaknya Tetta menginginkan salah satu dari kami jadi pegawai negeri, karena dia swasta dan tahu benar bahwa karyawan swasta tak punya kepastian pensiun seperti halnya pegawai negeri. Yah karena saya tak mau jadi pegawai negeri, akhirnya Tetta yang beberapa kali mencoba daftar sebagai pegawai negeri, hingga akhirnya tembus. Ketiga, saya ingin ketika saya menikah, tak meminta uang kepada orangtua saya. Keempat, saya ingin sebelum saya menikah, sudah punya rumah. Tak masalah ukurannya berapa, atau berapa tahun mencicilnya, yang penting punya rumah.

Dan itu semua alhamdulillah sudah tercapai pada 3 Desember 2011.

Gusti Alloh Maha Adil. Hehe.

Kalau bicara pernikahan, tentu bicara lamaran. Tak ada proses lamaran yang romantis bagai adegan film, macam bersimpuh dengan kalimat “Maukah Kau menikah denganku?” atau adegan ketika sedang makan malam romantis tiba-tiba di kue atau di gelas, ada cincin. Yah itulah salah satu kekurangan saya, tak romantis. Seperti lirik lagu Iwan Fals: Aku tak mampu beri sayang yang cantik, seperti kisah cinta di dalam komik. Hehe. Pembenaran.

Tapi saya masih ingat, betapa menegangkannya bicara soal rencana menikahi Tetta kepada bapaknya. Level menegangkannya jauh lebih seram dibandingkan ketika waktu mau menyatakan cinta alias meminta jadi pacar.

Satu malam yang dingin dan sepi… Eh itu mah lirik lagu Sandhy Sondoro ya. Satu malam, dalam salah satu malam kunjungan saya ke rumah Tetta, sebelum pulang, saya memberanikan diri bicara kepada bapaknya Tetta.

“Pah, mau ngomong sebentar,” kata saya.

Bapaknya Tetta sepertinya tahu tipe pembicaraan apa yang akan kami lakukan. Kami sedang dekat meja makan saat itu. Dia mengajak duduk di meja makan. Dia duduk dengan seksama, menatap mata saya hingga membuat jantung berdebar kencang.

Saya tak memakai basa-basi atau intro bertele-tele. Sebelumnya pernah dengar cerita teman saya yang mau meminta ijin menikah kepada bapak pacarnya, dia bercerita panjang lebar ngalor ngidul memakai bahasa Indonesia yang kaku baik dan benar, pokoknya akan membuat JS Badudu bangga lah.

Sedangkan saya, antara saking groginya atau tak pintar berbasa-basi, begitu duduk, saya langsung berkata, “Pah, saya mau nikah sama Tetta. Kalau diijinin, nanti saya ajak keluarga saya ke sini buat ngelamar.”

Begitu kalimat itu keluar, leganya bukan main. Kalau ada yang bilang bicara di depan orang banyak itu menegangkan, saya rasa tak ada apa-apanya dibandingkan bicara kepada calon mertua dalam rangka meminta ijin menikah.

Langsung ke cerita soal resepsi pernikahannya saja ya.

Saya memilih memakai jas, karena meskipun saya cinta Indonesia, saya tak ingin terlihat memakai pakaian adat, karena menurut saya kalau saya memakai pakaian adat, terlihat kocak. Saya tak ingin terlihat kocak di pelaminan, biarlah kocak kalau sedang ada job saja. Satu lagi, karena bapak saya ketika menikah juga memakai jas, jadi ketika saya kecil saya pernah berniat kalau menikah, ingin memakai jas juga. Kasihan teman saya, yang datang memakai jas berwarna serupa, jadi harus melepas jasnya ketika ke pelaminan karena demi menghargai pengantin atau karena tengsin warnanya sama. Haha.

Kami menikah di Gedung Departemen Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Lokasinya strategis, tempat parkir luas, dan yang penting: harga ekonomis tapi tampilan tak terlalu bikin hati meringis.

Tanpa dinyana, saya mendapat sumbangan yang berharga dari teman-teman: Ada Speaker First yang mau tampil membawakan lagu Let It Bleed dari The Rolling Stones selain lagu mereka sendiri, dan ada Pure Saturday yang bahkan khusus menyanyikan “Here Comes Your Man” dari Pixies untuk pernikahan kami. Home band kami hari itu: LCD Trip yang sekarang mulai dikenal di skena musik independen Jakarta, bahkan berbaik hati, hanya dalam beberapa kali latihan, mau menyanyikan lagu-lagu pilihan saya dalam format akustik. Dengan begitu, semua lagu yang diputar di hari pernikahan saya, tak ada selera mertua atau orangtua, tapi selera kami berdua. Setidaknya, kalau saya mengingat hari pernikahan saya, adegan ditutup dengan pertunjukkan musik di mana di depan panggungnya berisi teman-teman dekat. Tak ada organ tunggal, dan tak ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang merasa suara bagus padahal tidak, mendominasi organ tunggal.

SUASANA RESEPSI PERNIKAHAN

Sebelumnya, ada keluarga bapak mertua yang punya usaha organ tunggal dan menawarkan jasa menghibur. Tapi dengan dalih sudah ada sumbangan dari teman-teman, akhirnya kami bisa menolak dengan halus dan mulus.

Buat yang belum menikah, dan ingin tahu seperti apa rasanya berdiri di pelaminan dan menyalami banyak orang: melelahkan. Terutama di otot mulut, karena harus tersenyum selalu.

Lalu, seperti apa rasanya menikah selama tiga tahun?

Konfilk mah pasti ada, namanya juga hidup. Tak mungkin tak ada masalah. Tapi selama suami dan istri punya niat untuk menjalankan hubungan dengan baik, saya rasa konflik bisa diatasi. Ah, saya jadi sok bijak begini. Tak usah bicara masalah lah, bicara yang enak-enak saja.  Kami dikaruniai anak lelaki yang alhamdulillah sehat berkat rejeki dari Alloh dan berkat ASI. Hehe.

Kalau melihat Tetta sekarang, saya hampir tak percaya, pertama kali bertemu dengannya ketika dia masih umur 20 tahun. Dulu dia masih mahasiswi, sekarang sudah jadi istri. Pintar memasak, padahal hanya bermodal menu hasil Googling. Dan yang paling penting: dia adalah ibu yang baik, dan mau sabar menerima saya dengan segala macam perilaku saya yang menyebalkan. Hehe.

Ada dua karunia terbesar sepanjang tiga tahun terakhir ini: Tetta dan Iggy.  *kemudian bernyanyi soundtrack sinetron “Keluarga Cemara”: Harta yang paling berhargaaa…. adalah keluarga.

Yah demikianlah, sodara-sodara, curhat saya. Semoga ada manfaatnya.

Untuk mengarungi bahtera rumah tangga [gawat ya, kalimatnya], saya selalu teringat lagu Iwan Fals yang berjudul CIK.

Riak gelombang satu rintangan

Ingat itu pasti kan datang

Karang tajam sepintas seram

Usah gentar bersatu terjang

 

Ulurkan tanganmu pasti kugenggam jarimu

Kecup mesra hatiku

Rintangan kuyakin pasti berlalu

 

 

Selamat ulang tahun pernikahan, istriku. Aku sayang kamu.

Bersenang-senang Bersama Sheila On 7

Barusan saya nonton konser musik lagi.

Setelah entah berapa lama saya tak datang ke konser musik.

Minggu [30/11] tadi, di Rolling Stone Cafe, shoppingmagz.com mengadakan pesta ulang tahun mereka yang ke-2. Saya diminta jadi MC, bersama Carol ah saya lupa nama belakangnya yang jelas nama suaminya dan si Carol itu ternyata salah seorang finalis VJ Hunt angkatan berapanya saya lupa.

Acara hari itu diberi nama Soundpark, entah permintaan sponsor entah konsep dari redaksi shoppingmagz, yang jelas, sejak jam 12 siang, acara sudah dimulai. Ada beberapa booth memeriahkan suasana, dengan berbagai macam dagangannya. Sebelum break adzan magrib, DJ Dipha Barus dan The Overtunes tampil duluan.

Beberapa perempuan berteriak kegirangan entah histeris entah tulus entah berlebihan supaya terdengar seru saja, ketika The Overtunes tampil. Mereka punya lagu andalan “Sayap Pelindungmu” yang tak ada hubungannya dengan pembalut yang memakai sayap supaya anti bocor.

Selepas break magrib, saya diminta stand-up sepuluh menit. Carol memberi perkenalan dengan kalimat ‘He is very funny’ yang sebenarnya salah satu pantangan dalam mengenalkan stand-up comedian. Haha. Bukan apa-apa, kalau dikenalkan dengan cara begitu, ekspektasi orang sudah dibangun dulu, dan beban psikologis jadi bertambah. Haha.

Yah so so lah, hasil saya. Dari sepuluh menit, selang seling terdengar tawa orang. Hahahaha. Saya tak suka stand-up dengan kondisi jauh dari penonton dan tak bisa melihat wajah dan mata mereka dengan jelas. Maklum, saya bukan tipe stand-up comedian yang jago dan membawa bekal materi. Saya selalu sebagian besar mengandalkan reaksi orang yang saya lihat.

Langsung skip saja ya ke inti dari kenapa saya ingin membuat tulisan ini. SORE dan Shandy Sondoro tampil setelah break magrib.

Yang tampil terakhir adalah yang dinanti sebagian besar mereka yang datang. Yah tak perlu terkejut lagi lah ya, kan dari judulnya Anda sudah tahu siapa yang saya maksud.

sheilaon7

Sheila On 7.

Belakangan ini, nama mereka naik kembali. Maaf untuk Sheila Gank yang mungkin merasa kalimat tadi tak tepat. Maklum, saya merasa beberapa tahun belakangan, nama Sheila On 7 tak terlalu berkibar. Entah salah perusahaan rekaman yang tak bagus mempromosikan albumnya, entah industri musik Indonesia sedang dihajar oleh terpaan promosi band-band baru.

Saya merasa terhibur dengan penampilan Sheila On 7 beberapa jam tadi. Makanya, jam segini saya masih punya semangat untuk menulis.

Terakhir saya melihat Sheila On 7 manggung adalah hampir dua tahun lalu, di Yogyakarta, dalam rangka konser ulang tahun mereka yang ke-17. Waktu itu Tetta masih hamil 4 bulan. Konser yang menyenangkan.

Saya mau buat pengakuan. Waktu Sheila On 7 pertama kali muncul, dengan lagu “Dan”, saya tak tertarik. Ada beberapa faktor: lagu “Dan” tak terdengar bersemangat buat saya, malah terdengar lemas, waktu itu mereka sedang naik daun dan saya gengsi untuk menyatakan suka karena takut merasa ikut-ikutan selera pasar, dan mereka tak terlihat keren secara visual. Haha.

Sebenarnya, waktu masih periode tak mau mengakui kalau Sheila On 7 itu lagunya bagus dan enak, saya diam-diam selalu merasa terhibur. Momen yang membuat saya mulai luluh ego dan mulai tak malu mengakui bahwa mereka bagus, adalah ketika lagu “Sahabat Sejati” muncul. Lirik dan musiknya memikat hati saya. Salah satu lagu bertema persahabatan yang bagus, adalah “Sahabat Sejati”, selain tentu saja “Belum Ada Judul” punya Iwan Fals.

Selain lagu itu, lagu yang menempati urutan paling atas di daftar kesukaan saya pada Sheila On 7 adalah lagu “Sebuah Kisah Klasik.” Dalam menjalani hari, lirik lagu itu selalu mengena hingga sekarang, terutama bagian “Bersenang-senanglah, karena hari ini akan kita rindukan.”

Sebuah pesan penting tentang menikmati hari. Tak usah terlalu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di hari depan, syukuri dan nikmati hari yang sedang kita nikmati. Saya satu visi dalam hal ini. Memang, lagu itu bercerita tentang perpisahan dengan teman, tapi bagian lirik yang tadi saya tulis, itu adalah kalimat yang buat saya menjadikan lagu itu penting.

Eross Chandra adalah salah satu penulis lagu yang bagus. Waktu saya masih dalam tahap denial menyukai Sheila On 7, saya menganggap mereka hanyalah band pop dari Yogya yang tak akan bertahan lama. Apalagi ada yang bilang, namanya On 7 berakibat mereka hanya akan on selama 7 tahun atau 7 album saja. Kalau nama Sheila sih nama perempuan. Saya pernah bertemu dengannya, dia salah seorang jurnalis Cosmo Girl! Waktu masih kerja di Trax Magazine, ruangan redaksi kami berdampingan, makanya saya bisa kenal. Wajahnya manis, pantas lah dijadikan nama band. Saya tak akan mengeluh soal itu.

Kembali ke Eross. Sebagai penggemar The Rolling Stones, saya menemukan pengaruh Keith Richards dalam gaya bermain gitar Eross. Dan itu membahagiakan. Eross bisa membawa pengaruh Keith ke dalam lagu pop yang komersil.

Saya sudah makin mengantuk, sodara-sodara.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya cuma mau cerita, tadi mereka bermain lebih dari satu jam. Beberapa kali Duta–entah karena merendah entah karena minder entah bercanda–menyebut mereka sebagai band baru. Tapi malam itu mereka membuktikan bahwa, mereka tak hanya on selama tujuh tahun atau tujuh album. Mereka masih menarik dan menunjukkan bahwa kualitas mereka bukan band baru, atau band yang sudah habis daya tariknya.

Cuma satu kekurangannya: official merchandise mereka tak menarik buat saya. Tadinya mau beli kaos mereka, eh dari sisi desain dan bahan, hasilnya kurang oke. Sayang sekali ya.

Tapi tadi, mereka membuat saya dan banyak orang yang hadir, bahagia dan bersenang-senang.

Terima kasih ya Sheila On 7.