Menulis Blog di London: Catatan Perjalanan 24Maroon5

London, Selasa 23 Maret 2011 jam setengah delapan malam waktu setempat.

Haha. Gaya sekali ya nulisnya. Tak pernah saya mengira suatu hari akan datang ke London dan menulis blog di sini. Detik ini, ketika saya menulis blog ini melalui Galaxy Tab (ini juga sesuatu yang tak pernah saya kira akan saya lakukan karena biasanya saya malas menulis agak panjang kalo tak lewat komputer), Maroon 5 sedang menulis lagu untuk Coca Cola.

Di Coca Cola Cafe (ini nama cafe yang ada di London Studio) saat ini, sedang berkumpul puluhan bloggers dari seluruh dunia. Dan sejak hari Senin kemarin, saya berbahasa Inggris terus sampai bibir saya panas. Hehe. Mungkin juga karena cuaca yang dingin kira-kira tujuh derajat celcius.

Ada bloggers dari Mexico, dua orang yang satu perempuan bernama Lucie yang lincah dan ekspresif, yang satu lelaki bernama Andres seorang freelancer berkumis. Kata mereka, Coca Cola sangat populer di Mexico. Dua hal yang harus ada di setiap rumah di sana adalah pesawat televisi dan Coca Cola. Oya lalu ada blogger dari Singapura bernama Sylvia Ratonel yang ternyata penyanyi ternama di sana dan datang dengan seorang manajer (mungkin da satu-satunya yang datang dengan manajer pribadi). Ada blogger dari Los Angeles, Amerika Serikat, seorang pria heboh bernama David Lehre yang berambut jikrak ala remaja masa kini dan kata salah seorang folower saya si David ini memproduseri Agnez Monica. Ada juga blogger dari Rusia bernama Evgeniy Kozlov yang parlente dan dari cerita dia sih sepertinya dia punya perusahaan. Saya pergi bersama Endah Widiastuti, vokalis/gitaris duo Endah N Rhesa.

Oya, soal Coca Cola dan Maroon 5. Dari keterangan mbak-mbak Coca Cola yang menyambut kami tadi sore, ternyata alasan utama Coca Cola memakai musik untuk alat kampanye adalah karena mereka sadar bahwa musik adalah gairah nomor satu bagi anak muda. Karena peka terhadap keinginan anak muda itulah, Coca Cola mengatakan bahwa mereka bisa disukai anak muda selama lebih dari 125 tahun!

Dan karena mengaku tahu apa yang anak muda mau itulah, Coca Cola mengadakan sesi workshop 24 jam Maroon 5 yang memungkinkan anak muda di seluruh dunia berpartisipasi via twitter dengab hashtag #WithMaroon5 atau untuk Indonesia #24Maroon5.

London, Saya Datang!

Ya, benar sekali kawan-kawan. Ini bukan hoax, bukan pula dalam rangka berhayal, seperti yang pernah saya lakukan ketika saya membuat tulisan tentang mendapat hadiah Harley Davidson di blog ini beberapa tahun lalu. Jadi begini, beberapa minggu lalu, seorang kawan yang kerja di Maverick—sebuah PR consultant ternama dari ibukota—menghubungi saya. Hanny Kusumawati namanya, dia punya blog beradadisini.wordpress.com. Blogger yang luas pergaulannya, dia juga memakai wordpress sebagai alamat blog-nya, berarti serius menulis blog. Hehe. Entah kenapa di benak saya, orang-orang yang menulis blog di wordpress atau blogspot itu pasti serius sekali dalam menjadi blogger. :p
Oke, kembali ke Hanny.
“Leh, elu tanggal 21 – 23 Maret kosong nggak?” kata dia.
“Emang kenapa gitu?” jawab saya.
Biasanya, yang terlintas kepala setiap ada orang yang menanyakan jadwal, biasanya mau menawarkan job ngemsi. Hehe. Lumayan nih, pikir saya. Tapi yang dikatakan Hanny, jauh dari lumayan ternyata.
“Coca Cola nyari blogger buat diajak ke London, ketemu sama Maroon 5. Nah, elu mau nggak?” kata dia.
Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan. Yes. Alhamdulillah! Allahu Akbar! Gusti Alloh Maha Adil! Dan di kepala langsung terngiang lagu-lagu yang menyebut nama London.
London calling to the far away towns. 
Now war is declared, and battle come down
London calling to the underworld
Come out of the cupboard, you boys and girls
London calling, now don’t look to us
Phoney Beatlemania has bitten the dust
London calling, see we ain’t got no swing
‘Cept for the ring of that truncheon thing
Itu “London Calling” dari The Clash. Lalu, ada lagi lagu yang lain terngiang juga,
Panic on the streets of London 
Panic on the streets of Birmingham 
I wonder to myself 
Could life ever be sane again ? 
The Leeds side-streets that you slip down 
I wonder to myself
Itu “Panic” dari The Smiths. Dan ada lagi lagu terngiang di kepala,
But what can a poor boy do 
Except to sing for a rock ‘n’ roll band 
‘Cause in sleepy London town 
There’s just no place for a street fighting man
Itu “Street Fighting Man” dari The Rolling Stones. Dan yang terakhir adalah,
London, London…
Ingin ku kesana
London, London…
Pergi menyusulnya
Yang terakhir itu, lagu “Hijrah ke London” dari The Changcuters. Hehe.
Meskipun di dalam hati kegirangan, tapi ketika bicara saya pura-pura biasa saja menerima tawaran itu. “Oke siap, kabarin lagi aja ya,” kata saya. Padahal, dalam hati antara percaya tidak percaya. Perasaan senangnya, nyaris seperti ketika jaman tak punya pacar dan tiba-tiba bisa punya momen berduaan dengan gebetan padahal tak direncanakan sebelumnya. Apalagi beberapa minggu sebelum tawaran itu datang, kepada Anji Drive yang mewawancarai saya untuk situs pribadinya: erdianaji.com, di salah satu perbincangan saya menjawab soal beberapa tempat yang ingin saya datangi. Selain ke Mekkah untuk naik haji, saya selalu ingin pergi ke New York karena banyak band punk bagus dari sana, ke London karena The Clash menulis lagu “London Calling”, dan ke Yunani karena pacar saya ingin sekali pergi ke sana. Eh ternyata, tak dinyana tawaran itu datang.
Intinya begini.
Saya diajak ke London, untuk mengikuti sesi workshop Maroon 5 yang akan membuat lagu untuk Coca Cola. Sesi itu akan melibatkan fans atau blogger dari seluruh dunia yang diundang langsung ke sana.
Soal kerjasama Maroon 5 dan Coca Cola, baca lebih lanjut di situs ini juga di situs Billboard.
Sempat menahan diri untuk tak terlalu senang juga sih. Maklum, ajakan udah oke, biaya siap ditanggung, segala macam bakal diurus oleh Coca Cola, tapi kalau visa belum di tangan, rasanya masih belum boleh berbahagia. Dan ternyata, Endah Widiastuti, vokalis Endah N Rhesa yang juga diajak ke London, merasakan hal yang sama. Dia tak mau terlalu senang sebelum visa di tangan. Kamu tahu apa kata mereka kan, no picture = hoax. Selama belum melihat visa di depan mata, tak boleh girang dulu.
Jumat [11/3] kemarin, akhirnya saya mengurus visa di Plaza ABDA di kawasan Sudirman. Datang ke sana, ternyata tak repot, masih lebih repot mengurus SIM. Agen perjalanan yang ditunjuk Coca Cola sudah mengurusnya sehingga saya datang ke sana tinggal diambil sidik jari dan difoto. Tak ada wawancara! Jadi bertanya-tanya juga sih, kalau terlalu lancar begitu. Ini benar sudah diproses atau belum ya? Kok tak seperti orang-orang yang katanya harus melewati wawancara dulu sebelum mendapat visa. Tapi akhirnya visa didapat, baru saja jam lima sore ini dikabari soal itu [oya, ketika menulis kalimat ini sebenarnya visa belum didapat, hanya saja saya menyiapkan tulisan ini supaya begitu didapat langsung dimuat. Hehe. :p] Dan ya, saya pergi ke London. Pesawat saya berangkat jam dua belas malam, Minggu [20/3] atau Senin [21/3] dini hari.
Ada dua hal yang saya khawatirkan soal perjalanan ini: soal kamar mandi yang katanya orang-orang di sana tak memakai air untuk mencuci pantat mereka setelah buang air besar, dan soal udara yang kata prakiraan cuaca kisarannya antara 2 derajat Celcius hingga 10 derajat celcius!
Oya, kamu juga bisa ikut berpartisipasi dalam program ini. Kunjungi saja www.coca-cola.co.id [akan aktif mulai tanggal 22 Maret], atau ikuti twitter saya @solehsolihun karena selama di sana saya akan melaporkan apa saja kegiatan saya. Selain dalam rangka memenuhi kewajiban dari Coca Cola, tentunya dalam rangka pamer bahwa saya bisa jalan-jalan gratis ke London!
Gusti Alloh Maha Adil. Alhamdulillah. Ayo kita nyanyikan sama-sama….
“London… London…”

Rajawali — The Flowers di Terusik Traxkustik [percobaan upload kedua].

Ini tentang lagu-lagu bertema alkohol.

Sejauh ini, ada tiga lagu bertema alkohol buatan band lokal yang saya sukai: “Di Sayidan” dari Shaggydog, “Alkohol” dari Seringai, dan “Rajawali” dari The Flowers. Meskipun saya bukan peminum alkohol, tapi saya sangat menikmati mendengarkan lagu itu.

“Di Sayidan”, karena bisa mewakili dengan baik karakter Shaggydog. Cerita tentang satu daerah di Jogja, yang juga markas mereka: sebuah daerah bernama Sayidan, dan minuman khas Jogja: lapen. Serta semangat kumpul-kumpul yang diceritakan di lagu itu.

Di Sayidan di jalanan
Angkat sekali lagi gelasmu kawan
Di Sayidan di jalanan
Tuangkan air perdamaian

“Alkohol”, juga karena apa yang digembar-gemborkan Seringai bisa didapatkan di lagu itu: senang alkohol dan pernyataan menolak tua yang disampaikan melalui musik rock. Yang paling baru, adalah Rajawali. Gitaris Boris, si penulis lagu ini, mendapat inspirasi karena melihat kelakuan vokalis Njet yang sering membawa minuman dalam kantong plastik berwarna hitam. Menurut Boris, adegan ini biasa dia lihat waktu mereka masih sering nongkrong di Potlot–bukan sebagai Slankers tentunya. Fakta bahwa Njet menginspirasi Boris untuk membuat lagu ini, dalam kadar tertentu adalah sebuah aww moment [momen di mana penonton terharu dan pelan-pelan berkata, aaawww]. Duet maut Boris Njet bagaikan hati dan jiwa The Flowers. Mereka adalah Mick and Keith versi The Flowers.

“Rajawali” [biasa diplesetkan di panggung menjadi RJWL, mengikuti cara penulisan clothing-clothing lokal yang jadinya terlihat pasaran itu], konon adalah sebuah merk minuman. Liriknya sangat bercerita. Boris dengan baik menangkap momen ketika Njet datang dan membagikan minuman itu kepada teman-temannya. Adegan orang-orang duduk melingkar dan menunggu distribusi minuman dari Njet, juga mengingatkan pada adegan anak-anak burung yang sedang menunggu makanan dari sang induk. Dan hey, judul lagu itu Rajawali! Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Sebagai sebuah lagu, Rajawali adalah lagu yang jadi jaminan akan menjadi magnet di panggung. Sejak intro, lagu itu sudah mengikat kuping untuk terus mendengarkan. Lantas, mau tak mau badan diajak bergoyang oleh groove lagu yang sangat mengundang. Belum lagi part di mana crowd bisa ikut berteriak dan menyanyikan lagu [ketika sebuah lagu memberi kesempatan untuk penonton bernyanyi dengan mudah, maka lagu itu biasanya akan langsung membuat konser semakin panas, atau dalam konteks konser The Flowers, akan menimbulkan klimaks yang menyenangkan].

Dan dalam konteks The Flowers, part ini sangat mudah. Crowd hanya tinggal menyanyikan atau meneriakkan satu kata: Rajawali.

Raja! Raja! Raja Rajawali!
Raja! Raja! Raja Rajawali!

Orang yang buta nada atau buruk dalam menghapal lirikpun akan dengan mudah mengikuti. Lalu, part di mana lirik “Oleng ke kiri dan oleng ke kanan” juga jadi sebuah gimmick yang menghibur. Penonton bisa ikut bergerak miring ke kiri dan ke kanan. Jika dilakukan dalam jumlah penonton yang sangat banyak, maka faktor menghiburnya akan lebih berlipat-lipat. Part ini biasanya sukses membuat penonton tersenyum.

Dalam konteks yang serupa, Naif punya part semacam ini dalam lagu “Curi-Curi Pandang” di mana ketika bagian “curi ke depan curi ke belakang curi ke kanan dan curi ke kiri” biasanya penonton akan dengan mudah mengikuti koreografi. Dan konteks lagu Rajawali, gerakannya lebih sederhana dan tak terlalu memakan tempat, karena hanya ke kiri dan ke kanan. Plus, tak serumit koreografi tari poco-poco atau pun senam prajurit yang terlalu banyak hitungannya itu.

Lalu, part di mana Njet bernyanyi “Kalau kau tak suka dengan isi gelasku, pergi sana menjauhlah dari diriku” adalah sebuah lirik yang berisi pernyataan keras tapi tak terdengar sombong dan mengesankan lebih jantan hanya karena meminum alkohol. Dan kalau mau dilihat dari konteks agama Islam, memang sebaiknya cukup menjauhlah dari kegiatan orang yang sedang minum-minum, seingat saya selama mengaji tak ada ajaran dari ustadz yang mengatakan kalau ada orang minum-minum alkohol, harus kita serang. Dan sebaliknya, kalimat itu juga bisa dipakai oleh mereka yang tak minum alkohol.

Bicara lagu soal minum-minum, saya selalu ingat lagu “Lisoi” milik orang Batak. Saya tak tahu isi tepatnya lagu itu bicara apa, yang saya tahu, lagu itu seperti soundtrack kegiatan minum-minum. Dan kebetulan, pemain gitar di lagu “Alkohol” dan “Rajawali” adalah orang Batak.

Jangan-jangan Ricky Siahaan dan Boris Simanjuntak, punya hubungan darah dengan si pencipta lagu “Lisoi”.

Oya, ini The Flowers membawakan lagu “Rajawali” di Terusik Traxkustik yang digelar Trax 101,4FM Jakarta, Minggu [23/5] malam di Hard Rock Cafe, Jakarta.

Rajawali — The Flowers di Terusik Traxkustik.

Ini tentang lagu-lagu bertema alkohol.

Sejauh ini, ada tiga lagu bertema alkohol buatan band lokal yang saya sukai: “Di Sayidan” dari Shaggydog, “Alkohol” dari Seringai, dan “Rajawali” dari The Flowers. Meskipun saya bukan peminum alkohol, tapi saya sangat menikmati mendengarkan lagu itu.

“Di Sayidan”, karena bisa mewakili dengan baik karakter Shaggydog. Cerita tentang satu daerah di Jogja, yang juga markas mereka: sebuah daerah bernama Sayidan, dan minuman khas Jogja: lapen. Serta semangat kumpul-kumpul yang diceritakan di lagu itu.

Di Sayidan di jalanan
Angkat sekali lagi gelasmu kawan
Di Sayidan di jalanan
Tuangkan air perdamaian

“Alkohol”, juga karena apa yang digembar-gemborkan Seringai bisa didapatkan di lagu itu: senang alkohol dan pernyataan menolak tua yang disampaikan melalui musik rock. Yang paling baru, adalah Rajawali. Gitaris Boris, si penulis lagu ini, mendapat inspirasi karena melihat kelakuan vokalis Njet yang sering membawa minuman dalam kantong plastik berwarna hitam. Menurut Boris, adegan ini biasa dia lihat waktu mereka masih sering nongkrong di Potlot–bukan sebagai Slankers tentunya. Fakta bahwa Njet menginspirasi Boris untuk membuat lagu ini, dalam kadar tertentu adalah sebuah aww moment [momen di mana penonton terharu dan pelan-pelan berkata, aaawww]. Duet maut Boris Njet bagaikan hati dan jiwa The Flowers. Mereka adalah Mick and Keith versi The Flowers.

“Rajawali” [biasa diplesetkan di panggung menjadi RJWL, mengikuti cara penulisan clothing-clothing lokal yang jadinya terlihat pasaran itu], konon adalah sebuah merk minuman. Liriknya sangat bercerita. Boris dengan baik menangkap momen ketika Njet datang dan membagikan minuman itu kepada teman-temannya. Adegan orang-orang duduk melingkar dan menunggu distribusi minuman dari Njet, juga mengingatkan pada adegan anak-anak burung yang sedang menunggu makanan dari sang induk. Dan hey, judul lagu itu Rajawali! Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Sebagai sebuah lagu, Rajawali adalah lagu yang jadi jaminan akan menjadi magnet di panggung. Sejak intro, lagu itu sudah mengikat kuping untuk terus mendengarkan. Lantas, mau tak mau badan diajak bergoyang oleh groove lagu yang sangat mengundang. Belum lagi part di mana crowd bisa ikut berteriak dan menyanyikan lagu [ketika sebuah lagu memberi kesempatan untuk penonton bernyanyi dengan mudah, maka lagu itu biasanya akan langsung membuat konser semakin panas, atau dalam konteks konser The Flowers, akan menimbulkan klimaks yang menyenangkan].

Dan dalam konteks The Flowers, part ini sangat mudah. Crowd hanya tinggal menyanyikan atau meneriakkan satu kata: Rajawali.

Raja! Raja! Raja Rajawali!
Raja! Raja! Raja Rajawali!

Orang yang buta nada atau buruk dalam menghapal lirikpun akan dengan mudah mengikuti. Lalu, part di mana lirik “Oleng ke kiri dan oleng ke kanan” juga jadi sebuah gimmick yang menghibur. Penonton bisa ikut bergerak miring ke kiri dan ke kanan. Jika dilakukan dalam jumlah penonton yang sangat banyak, maka faktor menghiburnya akan lebih berlipat-lipat. Part ini biasanya sukses membuat penonton tersenyum.

Dalam konteks yang serupa, Naif punya part semacam ini dalam lagu “Curi-Curi Pandang” di mana ketika bagian “curi ke depan curi ke belakang curi ke kanan dan curi ke kiri” biasanya penonton akan dengan mudah mengikuti koreografi. Dan konteks lagu Rajawali, gerakannya lebih sederhana dan tak terlalu memakan tempat, karena hanya ke kiri dan ke kanan. Plus, tak serumit koreografi tari poco-poco atau pun senam prajurit yang terlalu banyak hitungannya itu.

Lalu, part di mana Njet bernyanyi “Kalau kau tak suka dengan isi gelasku, pergi sana menjauhlah dari diriku” adalah sebuah lirik yang berisi pernyataan keras tapi tak terdengar sombong dan mengesankan lebih jantan hanya karena meminum alkohol. Dan kalau mau dilihat dari konteks agama Islam, memang sebaiknya cukup menjauhlah dari kegiatan orang yang sedang minum-minum, seingat saya selama mengaji tak ada ajaran dari ustadz yang mengatakan kalau ada orang minum-minum alkohol, harus kita serang. Dan sebaliknya, kalimat itu juga bisa dipakai oleh mereka yang tak minum alkohol.

Bicara lagu soal minum-minum, saya selalu ingat lagu “Lisoi” milik orang Batak. Saya tak tahu isi tepatnya lagu itu bicara apa, yang saya tahu, lagu itu seperti soundtrack kegiatan minum-minum. Dan kebetulan, pemain gitar di lagu “Alkohol” dan “Rajawali” adalah orang Batak.

Jangan-jangan Ricky Siahaan dan Boris Simanjuntak, punya hubungan darah dengan si pencipta lagu “Lisoi”.

Oya, ini The Flowers membawakan lagu “Rajawali” di Terusik Traxkustik yang digelar Trax 101,4FM Jakarta, Minggu [23/5] malam di Hard Rock Cafe, Jakarta.

Slank di I Like Monday Hard Rock Cafe Jakarta

“Harusnya telanjang masuknya,” kata Kaka berseloroh soal singkatan HTM. “Sebelum konser, banyak yang nanya sama aku, HTM-nya berapa. Aku tadinya bingung, HTM apa ya.”

Kaka humoris sekali malam itu. “Wah, gara-gara Jack D nih,” kata Bimbim sambil tersenyum melihat ke arah Kaka.

Senin, 17 Mei 2010, Slank mulai tampil pukul setengah sebelas malam. Sebelumnya ada band pembuka bernama Gary Plant, yang katanya dari Kanada.

Konsep I Like Monday kali ini, akustik. Dan Slank tampil nyaris tiga jam dengan memainkan lebih banyak lagu dari era album Tujuh [1997] hingga sekarang. Tapi penonton tak hanya sing along di lagu era itu, karena mereka juga sing along pada lagu-lagu lama.

“Kadang-kadang, kita suka melihat rumput tetangga lebih hijau,” kata Kaka sebelum membawakan setiap lagu.
“Kalau gitu, gua nggak mau jadi tetanggalu ah Ka,” sambar Bimbim sambil tertawa.

“Aku hanya mandi sekali, biar hemat air. Tapi bersihin selangkangan berkali-kali,” kata Kaka.

Dan penonton tertawa.

Dialog-dialog itu hanya sekilas dari betapa menyenangkannya suasana konser malam itu. Saya tak bisa menulis lebih banyak lagi, karena harus menulis laporan yang sama untuk di majalah. Hehe. Nanti kalau sudah ada di Rolling Stone Online, saya masukkan link-nya lah.

Untuk sementara, nikmati klip singkat ini, Slank membawakan lagu “Lembah Baliem.”

Kelly Clarkson di Tennis Indoor Senayan Jakarta

Sebelum juara American Idol yang pertama ini datang ke Jakarta untuk konser pada 29 April 2010, beberapa orang yang mengatakan peduli terhadap perkembangan anak dan anti rokok mengecam keras konser Kelly Clarkson yang disponsori oleh LA Lights. Salah satu tokoh lokal–si-penyayang-anak-bapak-bapak-menolak-tua-pemelihara-si-komo–yang melancarkan keberatannya adalah Kak Seto. Dia bilang, Kelly Clarkson adalah idola anak-anak [ternyata dia mengambil contoh anaknya yang penggemar Kelly] dan khawatir karena rokok yang mensponsori itu akan membuat anak-anak merokok.

Padahal, kalau menurut saya, yang paling berpotensi mempengaruhi seorang anak untuk mencoba merokok, adalah pergaulan. Bukan apa-apa, iklan rokok, berbeda dengan iklan produk lain yang menunjukkan secara langsung manfaat yang ditawarkan. Tak ada misalnya seperti iklan produk kecantikan yang menawarkan kulit mulus. Saya bukan perokok, tapi saya tak keberatan konser musik disponsori merek rokok.

Akhirnya, setelah sempat terancam batal, Kelly Clarkson tetap datang juga, karena katanya dia menghargai penggemarnya yang sudah menanti.

Beberapa jam sebelum konser, bos Java Musikindo, Adri Subono menunjukkan kepada saya, dan dua rekan kerja: Wenz Rawk dan Hasief Ardiasyah, surat dari Midas Production–kalau tak salah, itu booking agent Kelly Clarkson–yang mengatakan bahwa mereka tak ada keberatan dengan rokok menjadi sponsor.

“Gua udah lima belas taun bikin konser, nggak mungkin lah gua ceroboh,” kata Adri yang menanggapi pernyataan Kelly Clarkson di media massa yang mengatakan dia tak tahu menahu soal sponsor rokok.

Setelah berbicara dengan Adri, saya mendengar selentingan dari jurnalis lain yang bilang bahwa ini terjadi karena Kelly Clarkson berganti manajemen sehingga membuat dia tak tahu soal sponsor rokok untuk konsernya. Wenz Rawk berencana membuat feature panjang soal perusahaan rokok jadi sponsor untuk konser musik. Silakan tunggu di Rolling Stone Indonesia edisi Juni 2010.

Sekarang kita bicara konsernya. Kelly Clarkson mulai tampil pukul setengah sembilan malam, dengan pembukanya lagu dari AC DC. Dan imej rock itu sepertinya yang ingin ditampilkan dia. Hanya dengan jins dan kaos hitam bergambar Pink Floyd serta aksesoris kalung serta gelang, Kelly sudah cukup percaya diri.

Tapi, saya malah melihatnya Kelly Clarkson tidak niat berdandan. Seperti baru pulang jalan-jalan dari Senayan City dan langsung manggung. Tak ada aura bintang, apalagi bintang skala internasional. Dan maaf ya, bukannya saya ingin meledek para perempuan bertubuh gempal, tapi melihat Kelly Clarkson kemarin sangat-sangat mengecewakan.

Seorang American Idol ternyata tak mampu menjaga supaya tubuhnya tetap langsing dan menarik. Maaf, kita bicara soal industri musik pop yang mau tak mau memang tak hanya mengutamakan suara bagus, tapi juga penampilan yang menarik. Kostum panggung yang terlalu biasa dicampur dengan tubuh yang melar membuat Kelly Clarkson kurang berhasil memuaskan dari sisi visual, apalagi buat penonton seperti saya yang bukan penggemar lagu-lagunya dan berharap melihat penyanyi bule cantik kelas dunia. Tapi Kelly menunjukkan bahwa kualitas vokal dia prima.

Ini dia sedang menyanyikan hitsnya, “Since You Been Gone.” Saya merekamnya, lagi-lagi, dengan Nokia X6 dari jarak lebih dari dua ratus meter [bahkan dari kejauhan pun, saya bisa melihat betapa lebarnya dia. :p] sehingga timbul ide di kepala soal kepanjangan nama KELLY: Kelihatannya Emang Lumayan Lebar Ya.

Peaches di IndoChine

Rudolf Dethu bilang, Peaches itu “Electroclashed Wendy O Williams.” Dia ada benarnya. Penyanyi bernama asli Merrill Nisker itu di panggung memang ugal-ugalan dengan pakaian yang minim. Pakaiannya, ala gymnastic [yang membiarkan pahanya terekspos dan hanya ditutupi oleh fishnet], tipikal yang akan membuat seorang perempuan terlihat seksi–biasanya kan begitu, Beyonce memakai pakaian model begitu terlihat seksi. Lady Gaga juga. Rihanna juga. Tapi, tidak dengan Peaches.

Saya kira, saya akan mendapat sensasi yang mirip seperti sensasi melihat Beyonce, atau Lady Gaga atau Rihanna. Tapi Peaches malah sedikit agak menyeramkan. Seperti mbak2 bule yang galak dan kental dengan nuansa maskulin. Rambutnya mullet, ketika dia bernyanyi selalu menyeringai. Sepertinya Peaches tipikal perempuan yang kalau dicolek mamang-mamang di pinggir jalan, akan menghardik balik mamang-mamang itu.

Jumat, 16 April 2010, atau lebih tepatnya, Sabtu 17 April 2010 pukul satu pagi, saya melihat langsung Peaches dari dekat. Kira-kira lagu kedua saya baru datang ke IndoChine [mendengar IndoChine jadi ingat bahasa gaul Cyiiin, mungkin club itu cocok buat mereka yang update pergaulan dan dibacanya Indo Cyyiiiiiin], FX Entertainment Xenter, Jakarta. Para penonton yang rata-rata perempuan sedang berteriak-teriak mengikuti nyanyian Peaches yang memakai baju bergambar tangan besar dan jari tengahnya menunjuk ke arah vagina.”Gawat sekali ini perempuan,” pikir saya.

Dan begitu melihat ekspresi wajahnya yang galak serta bulu ketiaknya yang sedikit dibiarkan tak tercukur rapi walau belum selevel Eva Arnaz di ’80-an, harapan akan melihat perempuan seksi seperti Beyonce atau Lady Gaga atau Rihanna buyar sudah. Ini mah punk rock galak.

Tapi, penonton konser itu justru terlihat sangat menarik. Banyak perempuan asing berwajah cantik dengan postur tubuh ideal. Wajah-wajah yang belum pernah saya lihat di konser musik seperti biasanya, walaupun memang ada beberapa wajah yang familiar, tapi selebihnya, ini crowd yang berbeda. Mungkin crowd segmen club mainstream, club yang katanya birnya lebih mahal dari bir The Rock Cafe yang 45 ribu itu, karena bir IndoChine seingat saya 70 ribu. Meskipun saya bukan peminum bir, saya berempati terhadap mereka yang ingin beli bir tapi mendapati bahwa harganya mahal.

Peaches bermain selama kira-kira satu jam lebih. Sepanjang itu pula, para perempuan yang ada di depan, bernyanyi gila-gilaan. Malam itu adalah perayaan Girl Power dan Peaches sebagai Ratunya.

Ini ada video ketika dia membawakan lagu yang tempo lambat, karena kalau saya merekam video di tempo cepat, para penonton akan gila-gilaan dan mengkhawatirkan kamera Nokia X6 Comes With Music saya yang baru dan saya gunakan untuk merekam video ini, takut terjatuh tersenggol mereka yang histeris malam itu. 😀

Silakan lihat versi lain tulisan saya untuk Rolling Stone Online:

http://www.rollingstone.co.id/read/2010/04/17/682/5/1/Peaches-Tampil-di-Jakarta-dan-Menunjukkan-Bebas-Aktif-Versi-Dirinya

The Misfits di Jakarta direkam oleh X6

Sabtu, 10 April 2010, Dome Pantai Carnaval Ancol, Jakarta. Suasananya seperti pemandangan di konser–kalau boleh mengambil satu tempat–GOR Saparua. Ribuan orang, yang dominan laki-laki, sebagian besar memakai kaos hitam, tak sedikit yang memakai jaket kulit dan rambut mohawk [seorang kawan wajahnya beberapa kali seperti dikuas oleh si pemilik rambut mowahk yang menengok ke kiri dan ke kanan di dekatnya].

Sejak pukul tujuh malam, di panggung kecil dekat pintu masuk Dome, dua band punk rock memainkan musik punk rock [beberapa lagu di antaranya bahkan lagu Misfits, padahal yang asli akan tampil].

Baru pukul delapan lebih beberapa menit, penonton dipersilakan masuk ke Dome dan dibiarkan antrian panjang terlihat selama beberapa menit. Dari wajahnya, rata-rata berusia tiga puluhan. Hanya sedikit yang berusia di bawah dua puluhan. Tapi, lumayan terlihat banyak penampakan wajah-wajah perempuan manis di antara wajah-wajah para lelaki itu.

The Misfits mulai tampil kira-kira pukul sembilan malam. Sehari sebelumnya, bassis/vokalis Jerry Only dan drummer Eric Goat berkunjung ke Release Party Rolling Stone atas ajakan Wenz Rawk yang bangga sekali karena menjadi LO resmi The Misfits selama konser di Jakarta. Tadinya, di Release Party itu, pada Jerry Only, akan ditunjukkan Seringai yang membawakan lagu mereka “Hollywood Babylon.” Tapi karena telat datang dan tetangga keburu mengeluh, niatan itu tak terwujud. Walaupun akhirnya Arian 13 sempat melakukan wawancara dadakan dengan Jerry Only [tunggu rekamannya di www.rollingstone.co.id]

Jerry Only sering kali memulai lagu dengan 1 – 2 -3 ! mengingatkan saya pada gaya Dee Dee Ramone setiap kali memainkan lagu The Ramones–yang jadi salah satu influence mereka dan bahkan Marky Ramone sempat menjadi drummer The Misfits [ah, coba Marky Ramone masih menjadi drummernya, tentu saya akan sangat senang. :D].

Dome tak terisi penuh, hanya kira-kira tiga perempat di area festival dan sedikit di area tribun. Tak ada teriakan memanggil nama band sebelum tampil seperti layaknya perilaku penonton ABG. Tak ada pula teriakan ‘we want more’ ketika sesi [dua kali] pura-pura pamit diperagakan The Misftis.

Tak ada gerakan yang terlalu atraktif di panggung. Gitaris Dez Cadena hanya beberapa kali bergerak ke arah Eric, selebihnya dia hanya diam mematung dan bernyanyi. Jerry juga tak banyak bicara. Tak sedikit, lagu-lagu mereka mainkan tanpa jeda yang cukup lama.

Tata suara malam itu tak terlalu enak didengar. Entah karena akustik ruangan yang tak oke. Entah karena sound engineer. Entah karena memang tata suara yang disediakan Solucites kurang maksimal.

Tapi, buat mereka yang asik moshing dan berdansa di depan panggung, sepertinya itu tak masalah. Setidaknya, mereka bisa pulang dengan keringat di badan karena dihajar oleh musik The Misfits yang harus diakui daya tariknya memang ada pada Glenn Danzig.

Yah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sisa-sisa mungkin masih lebih baik daripada tak bisa menikmati sama sekali.

nb: video ini saya rekam menggunakan kamera Nokia X6 Comes With Music dari jarak lebih dari dua ratus meter, jadi maafkan kalau tak terlalu jelas. Mudah-mudahan ini bisa memberi gambaran tentang suasana konser.

Sentuh. Mainkan. Dapatkan Hiburan.

Ini cerita tentang saya yang dapat rejeki karena menulis blog.   
Seumur-umur, saya belum pernah mendapatkan materi karena menulis blog. Semuanya masih berupa kepuasan psikologis. Hingga akhirnya suatu sore pada 8 Maret 2010, saya mendapat email dari agensi iklan yang menawarkan untuk berpartisipasi dalam mengenalkan produk terbaru Nokia X6 edisi ‘Comes with Music’. Saya tak langsung mengiyakan tawarannya, maklum, kalau ternyata produknya biasa saja nanti malah mengotori Multiply saya. 😀  
Singkat kata, saya mengiyakan penawaran kerjasama itu. Dan sebagai kompensasinya, saya diminta menulis pengalaman saya memakai Nokia X6 canggih yang belum ada di pasaran itu ketika saya dan beberapa Bloggers diberi kesempatan merasakan Nokia X6 sebelum orang lain memakainya [pedagang aksesoris HP di ITC Fatmawati keheranan ketika saya mencari screen protector dan bingung dengan Nokia yang saya bawa. Haha.] 
Makanya, saya peringatkan kepada Anda bahwa tulisan di bawah ini sedikit berbau advertorial. Tapi semua pujian yang saya berikan bersifat jujur karena saya adalah orang yang kalau menghina tak pernah bersungguh-sungguh dari dalam hati, tapi ketika memuji saya tak pernah asal lip service.   
Bagusnya Nokia X6 yang diberi oleh pihak agensi yang mengurus promosi ini ternyata berwarna hitam. Alhamdulillah Gusti Alloh Maha Adil, karena hitam adalah warna kesukaan saya, jadi saya merasa dua kali merasakan kesenangannya. Sisi saya yang cheap bastard dan saya yang penyuka warna hitam terpuaskan semuanya! Ukurannya pun tak terlalu besar. Pas di genggam. Masih enak ditaruh di kantong celana jins yang agak ketat. Atau, masuk saku jaket. Ukurannya tak terlalu merepotkan.   
Yang paling membuat saya agak harus beradaptasi mungkin layar sentuhnya. Meskipun semua telepon genggam harus disentuh supaya bisa beroperasi, layar sentuh adalah benar-benar baru buat saya karena serasa jaman sudah canggih seperti di film-film fiksi ilmiah di mana layar bisa disentuh! Ah, layar sentuh pertamaku awalnya cukup mendebarkan. Takut sentuhan saya terlalu keras sehingga membuat layar jebol. Atau, takut jari berminyak sehingga mengotori layar sentuh yang baru itu. Tapi sekarang saya sudah terbiasa, sudah bisa mengeluarkan tenaga yang pas untuk menyentuh layar itu dengan jari saya, dan karena sudah diberi screen protector jari-jari saya yang berminyak pun no problemo.   
Lalu ada Wii Fii. Baru kali ini saya punya telepon genggam dengan fasilitas Wii Fii. Sekarang, kalau datang ke satu tempat ada tulisan fasilitas Wii Fii gratis, saya bisa merasa bahwa pesan itu untuk saya juga! Tak perlu lah itu bawa-bawa laptop untuk mencari internet gratisan di cafe, karena sekarang sudah ada telepon genggam yang pintar. Haha. Maafkan kalau saya seperti yang sombong, ini semata-mata euforia karena punya telepon yang pintar [entah lebih pintar mana dengan BJ Habibie, tapi buat saya sudah sangat pintar telepon ini].  
Kameranya: 5 Megapixel! Plus, ada flash light nya. Nokia saya yang terdahulu, Express With Music yang masih kecil itu, tak ada flash nya, sehingga kalau memotret di tempat gelap maka obyeknya pun ikut gelap. Tapi dengan ini tak ada masalah, karena ada flash light yang siap menerangi kegelapan hingga menghasilkan gambar seukuran sampai 5 M. Saya bahkan memakai gambar hasil jepretan Nokia X6 untuk liputan saya di website Rolling Stone.   
Tapi, tentu saja yang paling ultimate adalah layanan Comes With Music. Layanan ini menawarkan TIGA JUTA LAGU untuk diunduh lewat Music Ovi ke PC atau ke HP. Awalnya, jujur saja, saya tak terlalu berharap banyak pada layanan ini, karena saya pikir, ah pasti lagunya juga tak seberapa oke. Tapi, setelah beberapa kali mengunduh lagu dan mendapat album-album yang oke, saya merasa bahwa Nokia tak main-main ketika mengatakan mereka menyediakan TIGA JUTA LAGU gratis dan legal! [alamat situs bursa Music Ovi di mana kita bisa mendengar preview lagu: http://www.music.ovi.com/id]  
Dan awalnya, saya pikir hanya bisa mengunduh lewat HP—seperti sebuah layanan dari operator telepon—ternyata dengan Comes With Music, si pembeli Nokia X6 bisa mengunduh lagu lewat PC. Ini berarti, menghemat biaya internet dan lebih memudahkan dalam mengunduh. Maklum, tak semua operator telepon punya koneksi yang cepat. Dan mengunduh lewat HP pasti akan memakan enerji sehingga membuat batere HP lebih cepat habis. 
TIGA JUTA LAGU ini tersedia buat si pembeli Nokia X6 selama satu tahun! Gila, secara ekonomis, menguntungkan sekali. Katakanlah, membeli HP tak lebih dari lima juta perak, tapi punya kebebasan mengunduh lagu selama setahun dari koleksi TIGA JUTA LAGU yang tersedia, sudah jelas menguntungkan.   Memang, tak semua artis yang ditawarkan di sini, tersedia diskografi lengkapnya. Tapi, koleksinya tak main-main. Pugar Restu Julian alias Ugaring alias Ugalau alias Uga, mengatakan telah mengunduh semua musik alternatif 90-an. 
Saya, baru seminggu ini, sudah mengunduh lagu-lagu dari Johnny Thunders, Agnostic Front, Iggy Pop, Mink Deville, The B 52’s, Blondie, The Cramps, Destroy All Monsters, Bob Marley, Henry Rollins, hingga wawancara Keith Richards! [kalau bingung mau mengunduh apa, ada review tentang album atau artis yang sedang tren atau video musik dan konser live streaming eksklusif http://nowplaying.nokia.com/id/]  
Memang, orang boleh bilang bahwa soal fitur banyak juga yang menawarkan fitur serupa di telepon genggam pintar mereka, tapi saya yakin tak ada yang menawarkan TIGA JUTA LAGU untuk dimiliki si pembeli Nokia X6 [lagu-lagunya hanya bisa dicopy ke PC yang terdaftar, atau ke Nokia X6 yang bersangkutan di mana di setiap box-nya, sudah tersedia nomor PIN untuk daftar ke layanan Comes with Music]. Kalau penasaran mah, silakan klik saja www.nokia.co.id/play.
Dan ternyata, bukan saya dan beberapa orang Bloggers yang lucky bastard dan mendapat kehormatan merasakan Nokia X6 Comes with Music yang baru, karena Nokia akan membagi-bagikan Nokia X6 untuk 6 orang beruntung di konser yang bakal digelar Sabtu besok, 27 Maret 2010 di Plaza Barat Senayan, dari pukul lima sore sampai pukul sebelas malam. 
Di konser Nokia Hypersix Party Lucky Draw nanti bakal diundi 6 orang yang beruntung dan sudah mendaftar di http://origin.nowplaying.nokia.com/id/  Ah sudahlah, nanti saya bagi lagi pengalaman, atau bukti langsung seperti apa fasilitas Nokia X6. Mungkin, akan saya posting wawancara video hasil rekaman dengan menggunakan fitur Video dari Nokia X6.      
Ini sedikit contoh dari hasil memotret di dalam ruangan yang gelap. Silakan tebak, yang mana pacar saya. :p