Ironis

Ada Yin ada Yang, katanya.

Ada hitam ada putih. Ada manis ada pahit. Dan ada suka ada duka. Ribuan orang sedang berduka di Aceh dan Sumatera Utara. Tragedi ini sudah bukan jadi bencana nasional lagi. Perhatian dunia rupanya sudah ke sana juga.

Bantuan pun diberikan. Relawan pun berdatangan. Dan, ini yang menarik. Pesta-pesta pun diselenggarakan. Atas nama kepedulian. Atas nama pengumpulan dana. Konser peduli Aceh, charity show, dan entah apalagi sebutannya.

Ironis. Itu pandangan saya terhadap situasi seperti ini. Untuk menolong orang yang kesusahan, ternyata harus lewat acara senang-senang. Tidak. Saya tidak mengatakan kalau konser-konser yang mengatasnamakan kemanusiaan itu salah. Saya yakin tujuannya mulia, kok. Hanya saja. Itu yang sedikit mengganggu saya.

Kenapa tidak ada cara lain yang dianggap lebih ampuh selain mengadakan konser musik? Saya tau, musik adalah salah satu media yang paling ampuh untuk komunikasi. Tapi, agak ironis juga. Kalau orang-orang harus tertawa, berdansa, minum-minum, berpesta untuk menggalang dana.

Ironis.

Tapi, sudahlah. Apapun niat dan misi yang mereka kejar, mudah-mudahan acaranya setimpal. Mudah-mudahan semua pesta pora itu berguna untuk meringankan beban mereka. Mudah-mudahan.

Salam,

Pertanyaan-pertanyaan

Apa? Siapa? Kenapa? Bagaimana? Di mana? Kapan?

Saya rasa kata-kata itu selalu menghantui kamu juga. Sebanyak mereka menghantui saya. Saya tidak tau bagaimana dengan kamu, tapi kepala saya sepertinya selalu dihinggapi pertanyaan. Melihat orang tidur di kolong jembatan, saya bertanya, “Apakah dia punya keluarga?” “Di mana dia tinggal?” “Dari mana dia dapat uang makan?”. Datang ke pesta, saya bertanya, “Apa yang mereka cari?” “Kenapa mereka berdandan?” “Apakah mereka benar-benar bahagia?” Dan sekian banyak pertanyaan lain di kepala saya.

Entah kenapa. Rasanya semakin tua, pertanyaan justru semakin banyak. Dan, pertanyaan itu malah semakin membingungkan saja. Hahaha. Betul kan? Tulisan saya saja berisi pertanyaan melulu. Coba perhatikan. Sejak tulisan pertama, hingga sekarang. Saya pasti bertanya. Bertanya, bertanya selalu bertanya.

Mungkin itu juga yang membuat manusia tetap hidup. Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang memang ada di kepala. Termasuk saya dan kamu. Bukan begitu? Entahlah, kamu punya jawabannya. Bingung? Sama. Sudahlah.

Salam,

Mengejar mimpi

Waktu adalah mimpi buruk bagi pemimpi.

Saya lupa siapa yang mengatakan itu. Yang jelas, itu yang saya rasakan sekarang. Waktu saya untuk menulis di blog, dua hari ini nyaris tidak ada. Maklum, saya masih harus menyelesaikan tulisan yang lain. Masih menumpuk. Akhirnya, saya belum posting kemarin. Padahal, saya punya niat untuk meluangkan waktu menulis minimal satu tulisan per hari di sini.

Atas nama kepentingan mengasah kemampuan menulis tentunya. Tapi, sudahlah. Kadang-kadang sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak baik juga. Biarlah waktu saya untuk bermimpi sedikit dikurangi. Bukan apa-apa, blog ini bagian dari mimpi-mimpi saya juga. Dan tidak menulis satu hari di sini, berarti waktu saya mengejar mimpi sedikit berkurang.

Mulai melantur lagi, nih. Sudah ya. Lain kali saya habiskan lebih banyak waktu saya untuk mengejar mimpi lewat blog ini. Sekarang saya harus mengejar mimpi saya yang lain. Lewat media yang lain.

Salam,

Semua Ingin Makan

“Bos, makan bos!” kata seorang pengemis kepada saya.

Tangannya membentuk suapan kecil ketika dia mengucapkan itu. Badannya tegap, tambun. Tidak terlihat memprihatinkan. Laki-laki itu selalu telanjang dada. Bersimpuh di jembatan penyeberangan depan Plaza BII, Thamrin, sambil membawa sapu lidi. Hampir setiap hari saya bertemu dengannya. Setiap bertemu, dia selalu mengucapkan kalimat yang sama.

Dan, setiap kali dia melakukan itu, saya jadi berpikir. [Haha. Lagi-lagi berpikir. Maaf ya.] Apakah saya harus memberinya recehan setiap kali bertemu dengannya? Saya tau, seribu rupiah sehari rasanya tidak akan memberatkan saya. Tapi, mungkin akan membuat dia senang.

Saya tidak melakukan itu. Setiap kali dia minta uang, saya hanya tersenyum. Terkadang, pura-pura melihat ke arah lain. Tapi, saya juga pernah memberinya uang. Hanya saja, saya berpikir, kalau saya melakukan itu, bukankah itu hanya akan membuat dia semakin malas? Masalahnya, badannya cukup besar, dan kuat untuk bekerja. Minimal jadi kuli, lah. Kalau dia tidak punya kemampuan apa pun.

Saya juga sering berpikir, mungkin dia sudah berusaha. Tapi belum juga berhasil, bukan karena malas. Makanya, dia mengemis di sana. Setiap hari. Mengharap belas kasihan. Entahlah.

Dia tidak sendirian. Masih ada tiga pengemis di sana. Dua perempuan setengah baya [yang satu masih sehat, satu lagi kondisi fisiknya memprihatinkan], serta seorang laki-laki belasan tahun. Dan mereka melakukan itu setiap hari. Hanya hari-hari tertentu saja mereka tidak terlihat di sana.

Itu yang merisaukan saya. Kadang saya merasa iba. Kadang juga merasa tidak peduli. Lagipula, bukan hanya mereka yang butuh makan. Kalau saya memberi mereka sedekah setiap hari, saya khawatir mereka jadi tergantung. Dan akan meminta terus setiap hari.

Dan, pikiran bahwa saya telah menyisihkan sebagian rejeki saya untuk yang membutuhkan itu, menghentikan langkah saya. Saya telah menunaikan kewajiban. Makanya, saya tidak perlu memperhatikan mereka lagi. Lagipula, orang-orang yang lebih dekat saya juga membutuhkan sedekah. Si mbok pencuci pakaian di kost-an, atau para pengurus kost-an.

Ah. Itu selalu mengganggu saya. Atau, mungkin kehadiran mereka setiap hari sudah diatur Tuhan? Supaya saya selalu ingat. Bahwa tidak semuanya selalu bahagia di sini. Agar saya tidak lantas terbuai dalam indahnya hura-hura Ibu Kota! Hahaha.

Anjir! Semakin serius. Saya harus segera sudahi perenungan ini [Kalaupun ini termasuk ke dalam perenungan]. Sudahlah. Toh, rejeki setiap orang sudah diatur Tuhan.

Salam,

Woman is a Devil

Ada orang mati ditembak.

Beritanya ada di koran dan di TV. Menyaingi berita bencana gempa dan tsunami. Tersangkanya, seorang pengusaha. Salah seorang bos kelompok MRA. Kamu mungkin sudah baca atau dengar beritanya.

Ada yang menarik. Ketika penembakan di Hilton itu terjadi. Katanya, si bos sedang bersama seorang perempuan–entah siapa. Kartu BCA yang digunakan perempuan itu ditolak. Singkat kata, si perempuan lapor kepada si bos. Entah bagaimana kejadian sebenarnya. Yang jelas, pegawai malang yang baru satu bulan kerja di sana itu, akhirnya mati ditembak si bos.

Saya tidak tau pasti, bagaimana attitude si bos. Hanya, mungkin kalau saja si perempuan tidak melaporkan soal ditolaknya kartu dia, si bos tidak akan menarik pelatuk. Ini yang menarik saya. Bagaimana peristiwa itu dipicu seorang perempuan.

Saya jadi ingat kisah Hawa yang meminta Adam memetik buah khuldi di surga. Sejak dimulainya kehidupan ini, rasanya laki-laki selalu berusaha memenuhi keinginan perempuan. Semua selalu untuk perempuan. Contoh lain; Superman dan Lois Lane. Coba perhatikan. Ceritanya pasti seputar bagaimana Superman menyelamatkan seorang Lois Lane. Mungkin, kalau tidak ada Lois Lane, Superman tidak harus repot menyelamatkan dunia. Lalu, kisah bagaimana Spiderman mati-matian menyelamatkan Mary Jane dari segala marabahaya.

Maaf. Bukan maksud saya menjelekkan perempuan. Saya masih normal, kok. Hahaha. Orientasi seks saya juga masih terhadap perempuan. Mereka mahluk cantik. Tanpa ada perempuan, tidak akan ada mahluk yang disebut laki-laki. Intinya, saya tidak membenci mereka.

Bahkan, setelah sekian banyak fakta bahwa banyak laki-laki melakukan kebodohan karena perempuan pun. Bukan hanya Adam, Superman dan Spiderman tentunya. Tapi, jutaan laki-laki lain di dunia. Sepanjang jaman.

Woman is a devil, kata Jim Morrison. Kata Jim dalam lagu itu, “…woman is a devil. That’s what I’ve been told. She’ll take all your money. Then she’ll spend all your gold. The devil is a woman. She’s a woman. Well I play my acts, honey. She take the whole damn role…”

Devil or not. Agaknya, saya masih belum bisa hidup tanpa mereka. Dan, kadang kala, justru bukankah itu yang membuat hidup sedikit menarik dan berwarna? Entahlah.

Salam,

Sementara Kita di Sini, Sedangkan Mereka di Sana

Malam kemarin, langit Jakarta cerah.
Secerah wajah orang-orang yang merayakan datangnya tahun baru di jalan raya, klub, cafe, dan di kaki lima. Bisa jadi, pesta tahun baru memang milik semua kalangan. Untuk satu malam, semua orang agaknya bisa bergembira. Baru tadi malam, saya bisa lihat senyum cerah dari bapak penjual capcay di depan kantor yang ikut merayakan datangnya tahun baru di kawasan Thamrin. Dia bukan hanya satu-satunya yang bergembira malam tadi. Masih ada ribuan, mungkin jutaan orang di Indonesia–Jakarta khususnya, yang berbahagia tadi malam. Meluapkan kesenangannya di jalan raya, di klub, di cafe, di kaki lima.
Ironis memang. Katanya Indonesia menangis. Tapi, malam tadi, Jakarta malah mabuk dan tertawa. Sementara ribuan orang di Sumatera masih gundah di tengah musibah. Walaupun tidak semuanya berhura-hura, tetap saja saya jadi bertanya. Apakah mereka bersalah? Orang-orang yang tadi malam bergembira dalam pestanya masing-masing. Ah, entahlah. Saya tidak ingin menghakimi. Lagipula, bukankah dosa itu urusan Tuhan?
Mungkin tidak adil juga kalau menuduh mereka yang berpesta tadi malam, dengan cap tidak peduli. Tapi, kalau dipikir lagi, bukankah semua orang juga punya masalah dan musibahnya masing-masing? Para pedagang kaki lima, buruh pabrik, dan jutaan pengadu nasib lainnya di Ibu Kota. Dan, mungkin juga mereka berhak untuk sejenak merasakan bahagia. Lepas dari masalah. Entahlah. Hanya saja, saya sempat mengira kalau himbauan untuk tidak berpesta di tahun baru akan dipatuhi semua orang. Well, I guess I was wrong.
Tapi, tetap saja, saya masih merasa kalau tahun baru mesti dirayakan. Dan pertanyaan kenapa tahun baru mesti dirayakan itu masih muncul di kepala. Dan saya belum mendapatkan jawaban yang bisa memuaskan. Bingung? Maaf kalau begitu. Karena saya juga jadi bingung. Hahaha.
Salam,

Tahun Baru

Katanya, besok tahun baru.

Saya selalu bertanya-tanya. Kenapa juga orang-orang di seluruh dunia menyambut gembira datangnya tahun baru? Apakah mereka–termasuk mungkin kamu–benar-benar senang dengan bergantinya tahun? Atau, hanya ikut-ikutan meramaikan saja? Seperti banyak orang. Agaknya pertanyaan seperti, “Tahun baruan di mana?” selalu datang setiap tanggal 31 Desember. Atau, ucapan “Selamat tahun baru!”, “Happy new year!” selalu keluar dari mulut orang-orang.

Tidak. Bukan berarti saya tidak suka orang-orang mengucapkan itu kepada saya. Hanya saja, dari dulu saya selalu bertanya. Kenapa juga tahun baru mesti dirayakan? Apa istimewanya sih, tahun baru? Lembaran baru? Kehidupan baru? Harapan baru? Saatnya introspeksi diri?

Kalau itu alasannya, saya punya argumen. Kenapa juga kita tidak anggap setiap hari adalah lembaran baru? Setiap hari, bagi saya adalah lembaran baru. Setiap hari, harapan baru selalu muncul. Dan saya tidak perlu menunggu satu tahun untuk introspeksi diri!

Tahun baru berarti saya harus mengganti kalender dengan yang baru. Itu saja. Selebihnya, tidak ada yang istimewa dengan saat ini. Mungkin, buat orang-orang keuangan, tahun baru berhubungan langsung dengan anggaran baru dan semacamnya yang tidak saya mengerti. Tapi, sekali lagi. Tahun baru hanyalah sebuah hari lain dalam kehidupan saya.

Lagipula, saya percaya dengan teori relativitas waktu. Jadi, buat apa merayakan tahun baru? Kalau tidak ada kesepakatan yang sama dari manusia di seluruh dunia soal waktu. Tahun baru sekarang, mungkin versi yang paling populer. Tapi, masih ada kalender lain. Kalender Islam, kalender Jawa, kalender Cina, dan entah kalender mana lagi.

Tunggu dulu. Bukan berarti saya menentang semua pesta pora itu. Bukan berarti saya tidak suka bersenang-senang. Silakan saja. Adalah hak setiap orang untuk merayakan tahun baru. Saya juga termasuk orang yang pernah merayakan tahun baru. Bersama teman-teman dekat, pernah juga bersama ribuan orang tidak dikenal di jalan raya.

Saya termasuk orang yang tidak ingin merayakan sesuatu tanpa alasan yang jelas. Selama pertanyaan itu muncul, saya tidak akan pernah bisa menyambut dengan gembira datangnya tahun baru. Seperti banyak orang yang bersenang-senang di pesta tahun baru.

Dan, sekarang saya bertanya lagi. Maaf kalau malah membuatmu bingung. Artinya, tahun baru sekarang, masih sama seperti tahun baru-tahun baru lain yang pernah saya jalani. Hanya bedanya, sekarang pertanyaan itu muncul di antara riuhnya pesta tahun baru di Ibu Kota.

Salam,

First Time for Everything

There’s always first time for everything, begitu kata orang.

Dan, inilah tulisan pertama saya di sini. Bicara soal pertama kali. Bukankah saat pertama itu, selalu punya sensasi tersendiri? Kamu masih ingat rasanya pertama kali punya pacar? Sialan. Kenapa juga mesti topik pacar yang saya ungkap pertama kali? Maaf, mohon maklum. Bukan apa-apa, sekarang ini saya sedang tidak punya pacar. Lonely, loser and low life! Hahaha.

Oke, balik lagi ke perasaan pertama kali itu. Kalau saya, perasaan saya bahagia sekali! Saya yakin bukan hanya saya yang merasa bahagia. Seperti melayang, dibawa ke langit! Berlebihan, mungkin. Tapi, itu yang saya rasakan. Lalu, masih ingat juga, bagaimana rasanya diputusin pacar? Hahaha. Serasa jatuh dari langit, bukan? Dan, masih ingat rasanya hari pertama sekolah? Saat pertama kali berada di panggung, di depan banyak orang? Atau, saat pertama kali naik pesawat terbang? Pertama kali berkunjung ke Bali? Atau ke pulau lain yang mungkin sebelumnya belum pernah kamu kunjungi.

Saya yakin, perasaan senang campur tegang itu selalu muncul di saat-saat kita merasakan hal pertama kita. Maaf kalau kamu belum merasakan apa yang saya sebut di atas tadi. Tapi, mudah-mudahan kalau akhirnya kamu bisa merasakannya pertama kali, kamu ingat apa yang saya tulis di sini.

Satu yang pasti, ketika saya sampai pada titik first time tadi, seakan penantian yang kadang cukup panjang itu, jadi tidak terasa panjang lagi. Rasa penasaran saya, akhirnya bisa terpuaskan juga. Dan, mungkin itu yang menarik dari first time. Pertanyaan dan impian kita akhirnya bisa terjawab juga! Kalimat seperti, “Oh, jadi begini ya rasanya.” meluncur di dalam benak. Wajar saja, sebelumnya saya punya pikiran, “Kapaan ya saya bisa merasakan ini, atau itu?” Dan yang namanya manusia, ketika keinginannya bisa terpenuhi tentu saja akan senang.

Tapi, manusia juga tidak pernah puas. Ketika akhirnya saya bisa merasakan first time untuk sesuatu, pasti keinginan merasakan first time yang lain muncul. Dan, karena itulah saya yakin, selama kita hidup, perasaan seperti ini akan selalu ada. Setelah ini, akan ada first time yang lain.

Ah, sudahlah. Terlalu panjang untuk membicarakan itu. Saya yakin kamu mengerti maksud saya. Saya hanya ingin berbagi cerita dengan kamu soal first time. Mudah-mudahan kamu bisa merasakan apa yang juga saya rasakan waktu menulis ini. Agaknya saya harus segera akhiri tulisan ini. Sebelum melantur terlalu jauh.



Salam,