Kemarin, hari terakhir saya siaran di Indika 91,6 FM.

Kalau dihitung sejak masih siaran seminggu sekali di sana, maka sudah empat tahun saya bekerja di Indika FM. Semua berawal ketika saya masih bekerja di majalah Rolling Stone Indonesia. Tahun 2010, Divisi Promosi mengadakan kerjasama dengan Indika FM, dalam bentuk program radio bernama Soundcheck. Kerjasamanya adalah: Rolling Stone mengirimkan satu wartawannya untuk siaran di Indika FM, menjadi partner penyiar Indika FM, dan bercerita soal isi majalah di edisi terbaru, serta memberikan ulasannya soal album atau berita terbaru di industri musik. Lalu, Rolling Stone memuat berita soal kegiatan off air program Soundcheck.

Karena tahun 2010, saya satu-satunya editor Rolling Stone yang tak punya pekerjaan sampingan [yang lain antara menjadi pemain band atau manajer band], maka saya yang ditunjuk untuk menjadi wakil Rolling Stone dan menjadi penyiar tandem bersama Hans Lango. Saya lupa, berapa lama saya siaran dengan Hans, tapi setelah dia, saya lalu siaran bareng Depritha Zoraya selama kira-kira tiga bulan, lalu terakhir, dengan Kallula, selama tiga bulan juga.

Dua petinggi Indika FM, Verno Nitiprodjo sang Program Director dan Praditya Sutrisno sang Station Manager, ternyata suka pada gaya siaran saya. Mereka kemudian meminta saya siaran di program pagi. Saya membayangkan bakal berat untuk bangun subuh dan berangkat pagi demi siaran jam 6. Tiga bulan saya melakukan itu ketika siaran di Pagi-Pagi I Radio Jakarta.

Saya tolak tawaran siaran pagi.

Tapi mereka bersikeras, karena program pagi Indika waktu itu berupa single DJ. Program sore lah yang jadi andalan mereka, dengan 2I nya: Iwan Sastro dan Irwan Ardian. Akhirnya setelah bernegosiasi, maka saya menyanggupi dua kali dalam seminggu, dengan jam siaran: 7 – 9 pagi [karena saya tak ingin bangun pagi, dan karena jam 10 pagi saya sudah harus di Rolling Stone] di program Bajak yang merupakan akronim dari Bandung – Jakarta. Intinya, saya sekalian membajak siaran pagi mereka, juga membahas hal yang berkaitan dengan Jakarta dengan saya sebagai pendatang dari Bandung.

Siaran pagi Indika FM waktu itu, masih dibagi untuk dua penyiar. Saya lupa pembagiannya, yang jelas Senin – Jumat, Nissa Muluk dan Lely Djojodihardjo yang bertugas. Senin Selasa Nissa, Rabu hingga Jumat, Lely. Atau sebaliknya. Nah, saya siaran di Selasa dan Jumat, dengan dua penyiar yang berbeda. Format ini kemudian berubah, menjadi saya dan Lely, setelah Nissa mengundurkan diri.

Setelah hampir dua tahun saya siaran di Indika, tiba-tiba Rolling Stone memecat saya. Haha. Dengan alasan, mereka mengetahui saya siaran. Padahal, itu sudah berjalan dua tahun lebih. Kata manajemen, karena saya siarannya rutin, dan nama saya tercatat di situs Indika, maka saya dianggap bekerja di dua perusahaan yang berbeda dalam waktu yang sama. Tak peduli apakah perusahaannya itu bukan media cetak, tak peduli apakah jam kerja saya di luar jam kerja Rolling Stone [padahal, secara absensi, saya termasuk paling rajin datang pagi dan tak pernah terlewat deadline]. Mungkin pemicunya karena saya mulai sering terlihat aktif stand up di televisi. Mungkin juga karena saya sering mengkritik Pak PresDir yang juga bekerja di dua perusahaan.

Paska pemecatan di Rolling Stone, saya siaran dari jam 7 hingga jam 10.

Dan ada masanya, kami siaran bertiga: saya, Lely, dan Vicky Ardian [yang sekarang memakai nama Vicky Harahap di Hard Rock FM Jakarta].

Lalu, datanglah para konsultan dari Malaysia. Mereka yang katanya sukses membuat Jak FM dan Gen FM menjadi radio nomor satu di Jakarta. Semuanya berubah ketika para konsultan datang. Indika FM ingin meluaskan pasarnya. Selama bertahun-tahun Indika FM dikenal sebagai radio dugem, radio ajep ajep, radio yang memuja musik dance, karena pemiliknya memang seorang DJ.

Indika FM kemudian menjadi Indika FM Sounds of Jakarta. Memutarkan Lagu-lagu Hits Terbaik dari Tahun 2000 Hingga Kini. Formasi dirombak. Para penyiar dikurangi. Manajemen menawarkan para penyiar jadi karyawan tetap, dengan jam kerja minimal 6 jam dan gaji flat alias tak dihitung per jam, tapi mendapat fasilitas asuransi kesehatan. Semua penyiar punya program sendiri. Maka, dari kira-kira 13 penyiar yang ada, tinggal 6 penyiar. Saya, Lely, Hans, Vicky, Satria Sutrisno alias Ukke, dan Martha Tandiyono.

Manajemen menjanjikan bahwa para penyiarnya masih boleh punya kegiatan di luar, pekerjaan sampingan. Manajemen katanya senang kalau para penyiarnya dikenal orang. Dan kalau ada pekerjaan sampingan atau hari libur nasional, siarannya boleh direkam, tak usah live.

Yang membuat para penyiar lama kaget adalah, ketika konsultan menyarankan membuat kompetisi mencari penyiar baru Indika yang kemudian diberi nama Indika FM Superstar. Yang lama banyak yang tak diminta bergabung, ada yang bersedia bergabung tapi hanya untuk siaran di akhir pekan, tapi malah mencari penyiar baru. Lalu, konsultan dan manajemen membajak Arie Dagienkz sebagai penyiar program prime time pagi. Yang kemudian mengagetkan para penyiar lama adalah, Dagienkz dipasangkan dengan Sinyorita yang belum pernah siaran dan diajak bergabung karena dia pemain sketsa Trans TV dan ternyata diajak siaran pagi karena Wisnutama mantan bos Trans TV yang sekarang di Net yang juga pemilik Indika FM, merekomendasikan namanya.

Saya kemudian dipindah ke program sore. Bersama Widma Meissner, juara satu Indika FM Superstar. Sepertinya para penyiar lama cukup cemburu dengan keputusan ini. Tak ada satu pun dari mereka yang dapat program prime time. Semua untuk orang baru. Hanya saya yang relatif sudah lama di sana.

photo 1

Yang kemudian membuat satu per satu penyiar lama mengundurkan diri adalah soal kebijakan taping alias siaran direkam. Kesepakatan soal pekerjaan sampingan, ternyata dibatalkan. Manajemen ingin para penyiarnya mengutamakan siaran.

Saya adalah yang tersisa dari rombongan itu.

Formasi Dagienkz – Sinyo kemudian dirombak, karena hasilnya kurang memuaskan. Akhirnya saya diminta pindah ke pagi. Kami menamakan diri dengan Duo Legienkz. Belum setahun kami siaran bareng, Dagienkz diminta pergi. Di luar, dia disebut punya masalah attitude. Tapi yang sebenarnya terjadi, sejak awal Dagienkz punya saran untuk program pagi supaya menarik menurut dia, tapi manajemen menganggap itu sebagai bentuk tak mau kerjasama dengan para konsultan. Saya bisa mengerti dua posisi itu. Dari sisi manajemen, tentu saja mereka kesal karena sudah membayar mahal konsultan, buat apa kalau tak mengikuti saran mereka? Tapi dari sisi Dagienkz juga saya mengerti. Dia sudah siaran belasan tahun, lebih lama dibandingkan para konsultan itu bekerja di radio. Dagienkz pernah punya program yang sangat hits, dan dia tahu apa yang cocok buat gaya siaran dia. Yah harusnya sih manajemen juga memberi Dagienkz kebebasan berkreasi. Toh, dia sudah dibajak dan dibayar mahal. Harusnya kreativitas Dagienkz diperas juga. Jangan mengatur dia. Toh, dia menjadi penyiar terkenal juga karena dia menjadi dirinya sendiri.

photo.PNG

Duo Legienkz mulai kehilangan semangat ketika produser kami mengundurkan diri. Manajemen menggantinya dengan copy writer yang memang tak punya pengalaman menjadi produser, dan awalnya juga tak mau jadi produser. Merepotkan memang, punya produser yang tak mengerti jadi produser. Dagienkz yang cukup keras kepadanya, dianggap membully dia dan dianggap attitude nya tak menyenangkan. Bahkan, manajemen mengira, si produser diminta membuatkan kopi. Padahal, setahu saya, Dagienkz meminta si produser untuk memanggil OB dan minta tolong dibuatkan kopi.

Keluhan produser yang merasa ditindas oleh sikap Dagienkz yang semena-mena, membuat manajemen semakin tak suka.

Puncaknya, ketika konsultan mengetahui bahwa selama sebulan hampir setiap hari, saya dan Dagienkz merekam siaran kami, alias tak siaran live. Dagienkz diminta pergi, dengan alasan, dia tak akan mau siaran pagi. Saya dihukum pindah ke Indika Sore lagi, dan tak akan pernah kembali siaran pagi. Untuk contoh kepada karyawan yang lain, bahwa hukuman harus diberikan kepada siapapun yang melanggar. No one bigger than the station, begitu kata manajemen.  Saya tak diminta pergi, karena dianggap masih mau bekerjasama dengan konsultan, dan masih mau siaran sore. Ya tentu saja masih mau, karena toh saya mau punya penghasilan tetap dari mana kalau tak siaran? Haha.

Tapi, keinginan untuk pergi lama-lama semakin kuat. Setiap kali ada tawaran pekerjaan di luar, belum apa-apa saya sudah membayangkan malas untuk meminta ijin. Repot. Tak semudah itu untuk mengajukan cuti, meskipun jatah cuti saya masih ada. Dulu, pernah dijanjikan dua kali maksimal dalam sebulan boleh ijin. Tapi pada prakteknya tak terwujud.

Sebagai stand up comedian, saya makin menghilang. Di tahun 2014 saja, saya hanya muncul dua kali, karena jadwal taping di Metro TV selalu bentrok dengan jadwal siaran. Ironis. Indika FM ingin punya penyiar yang dikenal orang, tapi saya yang punya akses ke situ, dibatasi ruang geraknya. Intinya, saya merasa tak berkembang.

Itu sebabnya saya mengundurkan diri.

Mumpung hubungan dengan manajemen sedang baik. Hehe. Mengundurkan diri dari perusahaan tanpa memakai emosi, itu lebih baik. Setidaknya, saya pergi bukan karena marah atau kesal pada manajemen, tapi ya karena demi kebaikan bersama. Saya bebas menerima tawaran pekerjaan sampingan, dan Indika tak akan direpotkan dengan permintaan cuti saya.

Di tiga perusahaan sebelumnya, saya selalu mengakhiri masa kerja dengan dipecat. Haha. Di Trax Magazine, Playboy Indonesia, dan Rolling Stone Indonesia. Makanya, untuk kali ini, saya ingin pergi bukan karena dipecat, tapi karena mengundurkan diri. Dengan begitu, saya tak akan bicara jelek dan memaki-maki Indika FM di luar, dan Indika FM juga tak akan mengatakan hal jelek tentang saya, ya karena saya mundur baik-baik.

photo 2

Terima kasih Indika FM, dan khususnya untuk kawan-kawan Divisi  Program:

Jujuk Margono, Station Manager yang kalau sedang banyak urusan, rambutnya jadi seperti Justin Timberlake era N’ Sync. Tempat yang dituju kalau mau konsultasi otomotif. Maklum, anak gaul otomotif.

Yuma Maharani, Program Manager yang selalu rajin mendengarkan siaran para penyiarnya dan melakukan aircheck. No more aircheck. No more paycheck juga. Haha.

Rully Austin, Music Director. Teman sesama Fikom Unpad.

Widma Meissner si penggila K-Pop yang belum pernah ke Korea Selatan. Yah setelah saya sudah terbiasa dengan suara kencangnya di kuping saya, dan chemistry siaran sudah makin oke, saya harus pergi. Sayang sekali, tapi mau bagaimana lagi.

Angga Nggok [sesama Fikom Unpad juga] dan Sahil Mulachela. Duo Gokil dari Indika Pagi. Semoga kalian selalu sabar menjalankan permintaan manajemen akan feature-feature lucu, eh salah, sangat lucu. Hahaha.

Elisabeth Pauli dari Indika Jahits, yang pernah diajak bercinta oleh Snoop Dogg.

Dixon Jaya Saragi dari Indika Oskar, sesama alumni SMA 3 Bogor, yang selalu saya pinjam charger iPhone nya.

Daud Tobing dari Indika Malam, dengan dadanya yang bidang dan bahasa tubuhnya yang belagu tapi sebenarnya menggemaskan.

Lalu dari Indika Wiken ada Astry Ovie si Putri BKT yang kocak [saya rasa kalau dia masuk TV, pasti bakal banyak yang suka dengan celotehnya], Chaca Raisa dan Bayu Adisapoetra yang saya baru kenal. Haha. Dan oya, Ishak Tongtong, produser pagi yang pekerja keras dan celetukannya menjadi pelengkap kegilaan Nggok Sahil.

Kawan-kawan Hello Traffic: Gege Bahari si badan besar tapi lentur [tak mau bilang ngondek sih, karena katanya dia mah ya gitu aja, bukan ngondek], Sultan Farah dengan suaranya yang bikin cowok-cowok gemes.

Nama-nama lain ada: Andry Joe sesama Fikom Unpad, Helmy Surachman mantannya Wina, kawan-kawan teknisi, Pak Martono, Eddy Jun, Ndozt, Puding, Mas Pandu sang desainer bijak, Abung, Ikhsan, Ditter, Tim Girang, Dre, Madu, Mike, Ayas, Gathy, Debbie, dan kawan-kawan sales yang punya target ratusan juta rupiah.

photo 4

photo 3

Nah, sekarang pertanyaannya, mau apa saya setelah mundur dari Indika FM? Haha. Ini pertama kalinya saya tak punya pekerjaan tetap dengan penghasilan tetap. Yah, memang sih masih ada dari TV One dengan program Karikatur Negeri, tapi penghasilannya tergantung pada berapa banyak tayang. Bukan apa-apa, di Kamis jam 9 pagi, kadang ada tayangan khusus kalau ada kejadian khusus sehingga program saya tak tayang.

Tapi kemudian saya teringat ucapan bijak Arie Dagienkz soal rejeki.

“Gusti Alloh mah nggak tidur.”