soleh_revisi_lengkap3

Mungkin di antara Anda sudah tahu, bahwa saya akan membuat pertunjukkan tunggal stand-up comedy yang saya beri judul Majelis Tidak Alim, Sabtu, 31 Januari 2015 di Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, pukul 7 malam. Lokasinya ada di sebelah Pasar Festival.

Buat yang belum tahu apa itu pertunjukkan tunggal stand-up comedy, atau biasanya sih lebih populer di kalangan stand-up comedian dengan istilah stand-up special [Saya sengaja tak mau menyebut special show, karena seperti kata teman saya, Sammy Not A Slimboy dalam salah satu lawakannya soal martabak, kalau semua mengaku spesial, lantas di mana letak spesialnya? Haha] ini adalah konser tunggal kalau kita bicara konteks musik, atau kalau nanti jadinya dibuat dalam bentuk DVD, maka ini adalah album.

“Gua kira lo nggak tertarik bikin yang seperti itu, Leh,” kata Pandji Pragiwaksono ketika saya bercerita soal rencana show saya.

Memang sih, waktu banyak teman saya seperti Ernest, Sammy, Luqmann, dan Pandji bikin special, ada yang bertanya kapan saya membuat special juga, yang saya jawab dengan pernyataan bahwa saya tak akan mau membuat special, karena saya tak yakin bisa membuat materi lawakan baru untuk pertunjukkan selama minimal satu jam. Kalau membawakan materi-materi lama doang sih, bisa saja, tapi kan kasihan yang datang membeli tiket, masa’ dikasih materi lama. Yah ibaratnya album musik, kalau saya membuat album perdana hanya berisi kumpulan lagu-lagu saya yang pernah tersebar di berbagai album kompilasi, kan kurang oke.

Tapi kemudian, keinginan untuk membuat pertunjukkan tunggal semakin besar. Selain karena motivasi ingin membuat karya, juga karena selama ini setiap kali saya stand-up selalu tak mendapat panggung yang sesuai dengan keinginan saya. Di televisi, dibatasi oleh durasi dan terutama topik. Di acara perusahaan, ya tentu saja lebih terbatas lagi materi lawakannya. Intinya, saya ingin merasakan manggung di tempat yang nyaman buat saya, di mana saya bisa tampil sesuka hati saya.

Ada empat comic yang bakal turut memeriahkan pertunjukkan saya: Abdel Achrian orang Padang, Adjis Doaibu orang Batak dari Bekasi, David Nurbianto orang Betawi, dan Ricky Wattimena orang Ambon beragama Kristen. Hehe. Cukup beragam kan? Sunda diwakili oleh saya.

Abdel, sejak pertama kali berniat membuat pertunjukkan, saya terpikir mengajak dia, karena kan dia identik dengan sosok religius, pas lah dengan tema pertunjukkan saya. Dan kebetulan, ketika saya mengundang dia untuk datang ke pertunjukkan saya, dia malah berkata ingin berpartisipasi. Yah berjodohlah kita. Adjis, karena saya melihat kesamaan antara saya dan Adjis, sama-sama MC dan sama-sama mengandalkan penonton untuk dijadikan bahan lawakan. Plus, dia pernah berkata bahwa dia penggemar saya. Dia adalah orang pertama yang mengatakan bahwa dia penggemar saya. Haha. Ya makanya harus saya ajak. Sebagai bentuk terimakasih saya bahwa dia telah menyebut saya idola. Hahahaha. David, sebelum dia jadi juara Stand Up Comedy Indonesia dari Kompas TV, dia adalah opener saya kalau saya dapat job stand-up [saya sengaja pakai konsep opener dalam pertunjukkan 30 menit saya di job korporat alias acara perusahaan, supaya ada yang menghangatkan suasana sebelum saya tampil dan supaya saya ada teman grogi. Dan kalau saya garing, semoga opener saya tak garing jadi penonton terobati. Atau, kalau opener saya garing, ya saya jadi terlihat lucu sekali. Atau kalau kami berdua sama-sama garing, jadi pas pulang ada teman yang juga merasakan sengsaranya hati setelah gagal. Haha]. Makanya, dia harus saya ajak. Ricky, adalah opener saya setelah David jadi juara dan harganya tak bisa harga pemula lagi. Ricky masih berstatus mahasiswa, dan punya potensi untuk berkembang. Dia punya kemampuan yang tak dimilik stand-up comedian lain: beat box. Katanya sih berencana ikut SUCI Kompas TV season terbaru nanti.

Ada dua kelas dalam pertunjukan saya. Kelas Unta seharga Rp 150 ribu, dan Kelas Kambing seharga Rp 100 ribu. Saya ingat pelajaran agama Islam yang mengatakan bahwa kalau kita datang di barisan paling depan ketika Jumatan, maka pahalanya dapat Unta atau sekelas Unta lah saya lupa. Yang jelas, makin belakang barisan ketika Jumatan, maka hewannya makin murah. Ya Kelas Unta paling dekat dengan panggung. Maaf, saya belum bisa memberi denah panggung, karena memang belum ada. Haha. Soal pembelian tiket, baru akan dimulai nanti, tanggal 5 Januari 2015. Infonya rajin pantau twitter saya aja ya.

Lantas kenapa judulnya Majelis Tidak Alim?

Majelis, berarti tempat berkumpul. Alim itu berarti pintar. Bisa juga kalau bahasa percapakan sehari-hari, alim diartikan baik. Makanya ada kalimat, ‘Dia mah alim banget anaknya.’ Nah, sadar bahwa selama ini materi lawakan saya bukan lawakan pintar macam teman-teman yang saya sebutkan di atas tadi, saya mengambil judul itu. Dan satu lagi, ya ini memang parodi dari Majelis Ta’lim.

Selalu ada dua sisi dalam diri saya: sisi yang religius dan sisi yang kurang suka sama orang-orang yang reiligius karena banyak dari mereka yang sepertinya tak toleran terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan. Nama saya sih cukup religius, tapi kelakuan saya tidak. Makanya, nama Majelis Tidak Alim sekalian menyampaikan pesan bahwa jangan kaget kalau di pertunjukkan saya nanti, apa yang saya sampaikan tak sesuai dengan nama saya. Hehe. Maklum, banyak materi saya yang membahas seputar selangkangan.

Bukan bermaksud melecehkan agama Islam kok. Kalaupun ada materi saya yang mempertanyakan atau menganggap kocak kisah dari pelajaran agama yang pernah saya dapat, ya itu bukan bermaksud melecehkan, tapi ingin jadi gambaran bahwa selama ini memang banyak sekali pertentangan batin dalam diri saya kalau sudah bicara agama.

Kemarin ada yang mention saya di Twitter, berkata bahwa kalau bisa, materi lawakan saya jangan melecehkan agama Islam, seperti yang sudah-sudah. Ketika saya tanya, bagian mana atau tepatnya kalimat mana dari saya yang dianggap melecehkan, dia tak menjawabnya. Dulu juga pernah ada yang bilang kalau saya melecehkan ayat-ayat al Qur’an, tapi mereka tak pernah spesifik mengatakan lawakan yang mana. Apakah karena saya sering mengucap Istighfar di panggung? Masa sih, bilang astaghfirullohaladziim termasuk melecehkan? Kan kata guru agama, kita harus sering-sering istighfar. Lagipula, itu keluar secara refleks dari mulut saya, tanpa bermaksud melecehkan. Kan konteksnya tepat, setelah saya ngomong ngaco, saya mengucap istighfar demi meminta ampun. Hehe.

Yah pokoknya, jangan protes dulu lah, soal judul pertunjukkan saya. Lagipula, kata Majelis kan bukan khusus milik Islam. Majelis Permusyawaratan Rakyat yang isinya ada koruptor harus diprotes dong, kalau memang menganggap kata Majelis milik agama Islam.

Makanya, datang aja dulu ke pertunjukkan saya, baru protes. Hehe.

Yah sodara-sodara, ayo datang ke pertunjukkan saya. Ajak sanak sodara, handai taulan, rekan-rekan, tetangga, dan semuanya. Tak peduli apa agama dan kepercayaannya, semua boleh datang ke Majelis Tidak Alim Soleh Solihun.

Asal beli tiket.