Sodara-sodara, saya mau cerita soal perjalanan beberapa minggu kemarin ke Inggris [22- 29 September 2017]. Ada 3 kota yang saya kunjungi, dan ini adalah cerita dari kota pertama: Manchester.
Saya jalan-jalan bersama rombongan yang semuanya diundang oleh British Embassy di Jakarta. Ada Aditya, penyanyi yang punya hit “Be Mine”, dan sekarang lebih populer sebagai Youtuber yang tukang review sneakers. Ada Febrian, yang juga penyanyi. Silakan lihat di Youtube, lagunya yang berjudul “Cinta Diam-Diam.” Saya juga baru tahu lagu dia setelah pulang jalan-jalan. Haha. Febrian ketika masih menyanyi, berbeda dengan Febrian sekarang. Dulu dia tampangnya ke K Pop K Pop an. Nuansa oriental sungguh kental. Febrian yang kini, berambut gondrong, kumis dan jenggot menghiasi wajahnya, dan kulitnya terbakar matahari. Hampir tak terlihat keturunan Cina, kalau saja matanya tak sipit. Febrian kini jadi travel blogger, bukan singer. Selain Febrian, ada dua travel bloggers lainnya: Kadek Arini dan Anggey [namanya sih Anggi, tapi ditulis begitu karena katanya dia penggemar Mickey Mouse]. Febrian, Kadek dan Anggey, followers Instagramnya lebih banyak daripada saya. Untung saja Adit masih lebih sedikit dari saya, jadi saya tak jadi orang yang followers Instagramnya paling kecil. Haha. Terakhir, ada Vera Waloeyo, dari British Embassy. Vera menjamin kelangsungan hidup kami selama di Inggris. Rejeki dari Tuhan datang lewat Vera.

Dari depan ke belakang: Febrian (sebelah saya), Kadek, Anggey (kacamata), Vera, Adit.

Perjalanan dari Jakarta menuju Manchester memakan waktu hampir 20 jam, ini dengan transit kira-kira 5 jam di Abu Dhabi. Lumayan, ini bisa saya gunakan buat buang air besar dan cebok dengan semprotan air.
Buat penggemar bola yang membaca tulisan ini, maaf kami tak mengunjungi situs-situs yang berhubungan dengan sepak bola, karena perjalanan kali ini temanya adalah musik dan budaya. Lagipula, saya bukan penggemar bola, jadi tak peduli juga dengan itu. Hehe. Saya datang untuk musik. Sik sik musik saya suka musik.
Jumat, 22 September saya mendarat di Manchester. Bandara Manchester tak besar dan tak mewah, cenderung biasa saja. Memang, sepertinya sejauh ini, dari beberapa kota yang saya kunjungi, bandara yang paling mewah dan besar adalah Changi di Singapura. Terminal kedatangannya pun relatif kecil. Bagus lah, jadi sedikit menghilangkan perasaaan terintimidasi. Saya sering merasa terintimidasi kalau datang ke bandara luar negeri. Deg-degan. Was-was. Apalagi kalau sudah di Imigrasi. Petugas Imigrasi di mana-mana sepertinya galak. Meskipun surat-surat lengkap, tetap saja, perasaan was-was itu selalu ada. Mungkin kalau sudah sering jalan-jalan ke luar negeri, perasaan ini bakal hilang. Sama seperti perasaan takut ketinggian. Dulu, jaman masih jarang naik pesawat, saya selalu takut setiap naik pesawat. Perasaan bakal jatuh, selalu menghinggapi. Duduk dan melihat ke bawah pun selalu bikin jantung berdebar. Apalagi tahu bahwa kaki tak menapak tanah. Kini, setelah cukup sering naik pesawat, saya tak takut lagi. Dan sudah bisa tidur dengan tenang.

“Kamu datang sendirian atau bersama rombongan?” tanya petugas Imigrasi yang sebelumnya selalu galak pada semua yang ada di booth dia.

“Sama rombongan,” kata saya. Oh iya, ini dalam bahasa Inggris ya percakapannya. Saya terjemahkan biar tak dua kali mengetik.

“Panggil mereka,” kata dia. Saya memanggil rombongan.

“Apa pekerjaan kalian?” tanya si mas.

“Saya jurnalis, dan mereka travel bloggers,” jawab saya. Biar gampang, saya memang kadang menyebut diri saya sebagai jurnalis. Toh, di KTP dan paspor, pekerjaan saya tertulis sebagai wartawan, jadi tak salah dong. Hehe.

“Oh, travel bloggers. Jadi, kalian mau menulis tentang saya dong?” tiba-tiba si mas yang tadinya galak, jadi tersenyum dan becanda. Padahal, dia tak begitu pada penumpang lain. Saya pun jadi rileks.

“Oh, Anda mau kami tulis? Boleeh,” kata saya sok akrab. “Kami mau mempromosikan wisata di Manchester, supaya lebih banyak orang Indonesia datang ke sini. Saya selalu pengen dateng ke Manchester. Ini kota kelahiran Morrissey! Anda tahu Morrissey? Who Put the M in Manchester? Morrissey!” kata saya bersemangat.

Dia diam saja. Teman-teman rombongan saya tertawa.

“Anda tak peduli soal Morrissey ya?” tanya saya.

Dia menggelengkan kepalanya. Paspor kami diberi stempel dan kami pun dipersilakan masuk ke Manchester.

Kami menginap di The Radisson Blu Edwardian Hotel. Bangunan ini dulu bernama Free Trade Hall, sebuah gedung pertunjukan. Bukan sembarang hotel, karena di sini banyak terjadi konser musik yang penting dalam sejarah musik dunia. Dua di antaranya adalah: Bob Dylan dan Sex Pistols. 17 Mei 1966, ketika Dylan pertama kali manggung dalam format elektrik, dia menggegerkan publik. Dianggap penghianat. Momen yang terkenal di konser ini adalah ketika ada penonton yang berteriak, “Judas!” kepada Dylan. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya 4 Juni 1976 di tempat yang sama, Sex Pistols manggung. Ada kira-kira 42 orang di hari pertama, dan konon, dari pertunjukan itu, banyak yang kemudian dapat inspirasi untuk membuat band. Beberapa orang yang konon ada di sana adalah, Ian Curtis, Bernard Sumner, Peter Hook [Joy Division], Howard Devoto, Pete Shelley [The Buzzcocks], Tony Wilson [mendirikan klub Hacienda yang terkenal itu], Mick Hucknall [Simply Red], dan Morrissey [The Smiths]. Yah, kamu bisa nonton film 24 Hour Party People untuk dapat gambaran seperti apa konser Sex Pistols yang mengubah industri musik dunia itu.

Pemandangan dari dalam kamar hotel.

Di depan The Radisson Blu Edwardian

 

Manchester adalah kota industri—ikon kota ini adalah lebah, karena lebah adalah binatang pekerja keras dan bahu membahu dalam menghasilkan madu, itu sebabnya mereka mengambil filosofis lebah sebagai ikon kota. Selama dua ratusan tahun, kota itu hidup oleh pabrik kapas. Ketika akhirnya industri konveksi bangkrut, Manchester seperti kehilangan jati diri. Setidaknya, begitu penuturan tour guide kami. Makanya, ketika akhirnya skena musik di Manchester tumbuh subur, dan banyak band bermunculan lalu mendunia, kota itu punya lagi sesuatu yang dibanggakan. Musik menyelamatkan Manchester.

Jalan-jalan [maksudnya berkeliling ya, bukan jalanan] sungguh menyenangkan. Kotanya tak terlalu besar, transportasi umumnya ada tiga: taksi, trem, dan bus. Ada juga sepeda yang bisa dipakai. Sistemnya kita mengunduh aplikasi lalu dikenai bayaran di sana. Dan sepeda yang tersebar di penjuru kota—ada parkiran khususnya—bisa kita buka kuncinya dengan aplikasi, dan kita bisa pakai ke mana saja di kota itu lalu tinggalkan di mana saja selama ada parkirannya. Mungkin karena kotanya kecil, jadi sistemnya seperti itu, bisa ditinggalkan di mana saja.

Ketika saya tulis judulnya jalan-jalan, kenyataannya memang seperti itu. Saya lebih banyak jalan kaki selama di Manchester. Tur keliling kota pada 23 September 2017, benar-benar berjalan kaki. Udaranya sejuk. 20 an derajat celcius. Artinya, saya bisa pakai jaket kulit terus. Haha. Di Jakarta, agak susah memakai jaket kulit tengah hari sambil jalan kaki di jalanan. Emma, tour guide kami menunjukkan gedung-gedung yang dianggap penting. Pertama, Midland Hotel, yang katanya tempat kencan pertamanya David Beckham dan Victoria. Yah, kalau orang kaya memang seperti itu. Kencan pertama, langsung di hotel mewah. Kedua, Balai Kota Manchester. Bangunannya berumur ratusan tahun. Masuk ke dalam, kita bisa melihat foto-foto anggota dewan. Tak ada wartawan mangkal di sana, seperti yang biasa terlihat di kantor pemerintahan di Indonesia. Haha. Januari 2018, bangunan itu akan dipugar selama tujuh tahun. Sepertinya, kalau sudah dipugar, sewa gedung buat kawinan di sana akan lebih mahal [ya, orang bisa menggelar resepsi di Balai Kota]. Ketiga, Manchester Central Library. Di lobby, ada café sebelum kita masuk ke ruang buku-buku. Dan ada satu area di tengah, di mana ruangan itu akustiknya sangat bagus sehingga orang buka buku saja bisa terdengar. Keempat, menyusuri kanal yang jadi tempat pertemuan antara Manchester lama dan baru.

“Manchester sedang membangun,” kata Emma sambil menunjukan gedung tinggi dengan desain modern yang menjulang di antara gedung-gedung tua yang terlihat dari kanal. Emma membawa kami menyusuri kanal dan menceritakan soal kenapa banyak batu bata merah yang dipakai di gedung. Dulu, ketika bangsa Roma datang ke sana, Manchester adalah daerah dengan tanah merah yang luas, sehingga dijadikan bahan untuk membangun gedung. Di ujung kanal, Emma menunjukan bangunan yang dulunya berdiri Hacienda, klub malam yang terkenal di Manchester, karena berpengaruh untuk skena musik dan seni di sana. Sekali lagi, silakan tonton 24 Hour Party People buat tahu gambaran soal Hacienda.  

Menjelang makan siang, kami berjalan menuju daerah the Northen Quarter di mana banyak bar, café, butik, dan record stores. Ah, saya harus merogoh kocek cukup banyak ketika iseng mampir ke Picadilly Records yang menjual banyak piringan hitam yang kebetulan banyak sekali album kesukaan saya yang belum saya punya dan ternyata di sana relatif lebih murah harganya. Sungguh sebuah godaan duniawi yang fana.

The Northern Quarter adalah pusatnya industri kreatif di Manchester. Makanya, salah satu yang kami kunjungi adalah Manchester Craft and Design Centre. Di bangunan ini, ada beberapa toko yang menjual segala macam kerajinan. Area dalam gedungnya sungguh sangat cocok untuk post di Instagram, tipikal foto yang menjual keindahan mata dan menawarkan kenyamanan bagi siapapun yang membayangkannya.

Tapi itu bukan tipikal Instagram post saya, karena yang jadi kunjungan berikutnya, adalah tipikal Instagram post saya: berhubungan dengan musik. Saya, bersama Vera, Kadek, dan Anggey [setelah saya bilang bahwa ini tempat yang wajib didatangi kalau ke Manchester hingga akhirnya mereka mau ikut] pergi ke Salford Lads Club, di mana The Smiths pernah berpose di depan bangunannya untuk album Queen is Dead. Banyak penggemar The Smiths yang berkunjung ke Manchester pasti mengunjungi klub itu dan berpose di depannya. Kalau kamu Googling Salford Lads Club, maka kamu akan menemukan banyak foto orang berpose mengikuti pose The Smiths.

Salford Lads Club awalnya adalah klub untuk pria, tapi sekarang menerima pria dan wanita. Ini adalah salah satu dari sekian banyak klub yang masih aktif di Manchester. Kata Emma, klub-klub itu awalnya didirikan demi mengurangi tingkat kenakalan remaja yang sudah memprihatinkan di Manchester; anak-anak muda berkelahi, membuat onar, dan meresahkan warga. Ketika didirikan banyak klub, anak-anak muda itu bisa menyalurkan agresifnya melalui olahraga maupun musik yang ada di klub-klub itu. Perlahan, kenakalan remaja bisa dihilangkan dari Manchester.

Ketika saya sampai di Salford Lads Club, sekelompok bocah perempuan sedang bermain di sana. “Kalian penggemar The Smiths?” kata mereka. Bocah-bocah itu memegang permen seakan sedang memegang rokok.

“Kalian tinggal di mana?” tanya Vera.

“Di sana,” jawab mereka sambil menunjuk ke arah perumahan di ujung jalan.

“Orang tua kalian di mana?” tanya Kadek.

“Nggak tahu,” jawab mereka, sambil terus berlarian mengelilingi kami.

Mereka menawarkan untuk memotret kami, tapi karena melihat bocah-bocah itu begitu agresif kami jadi buruk sangka. Jangan-jangan, kalau hape diberikan pada mereka, tahu-tahu mereka lari membawa kabur. Hahaha. Akhirnya kami bergantian saling memotret. Pulang dari sana, kami berdiskusi soal akan jadi apa bocah-bocah perempuan itu kalau sudah besar. Kecil saja sudah nakal. Ah, sungguh kami sangat berburuk sangka.

Maunya sih, saya pergi ke rumah masa kecil Morrissey, tapi tak ada waktunya lagi. Tak apa lah. Jadi ada satu alasan lagi buat jalan-jalan ke Manchester.

Minggu, 24 September, kami menuju Liverpool naik minibus, tapi sebelumnya mampir dulu ke Castleton. Jalanan menuju Castleton sungguh panjang dan berliku dan berpotensi membuat perut mual. Castleton adalah daerah perbukitan dengan padang rumput yang luas dan pokoknya membuat tiga travel bloggers kami kegirangan. Maklum, mereka tipe yang pecinta kegiatan luar ruang dan pemandangan alam yang indah. Castleton adalah daerah yang dikunjungi orang untuk hiking dan jalan-jalan. Tapi kami di sana bukan buat hiking, melainkan ke AND [Abandon Normal Devices] Festival, sebuah festival musik di dalam gua. Ada tiga karya yang ditampilkan di sana, di antaranya karya dua musisi dari Jogja: Iqbal dan Toni.

Biar kayak travel blogger. Foto sambil jalan dengan latar pemandangan indah.


Jadi, AND Festival mencari seniman yang bisa membuat musik dengan merespon gua. Iqbal dan Toni membuat sebuah alat musik yang inspirasinya dari sarang tawon yang terbuka dan tertutup. Yah pokoknya, mereka membuat alat gamelan dari bahan besi, dan menghasilkan bunyi-bunyian yang merespon akustik gua. Begitulah prinsipnya. Selain Iqbal dan Toni, ada dua seniman lain. Kami masuk ke area gua lebih dalam lagi, beberapa daerah bahkan harus dimasuki dengan menunduk. Di area kedua, di bagian tengah gua, kami mendengarkan musik elektronik yang mendengung dengan pantulan dinding gua dan lampu yang kerlap kerlip. Area terakhir, di sudut gua yang buntu, kami mendengarkan musik dalam gelap. Benar-benar tak ada cahaya. Kalaupun ada, hanya sesekali mengikuti musik yang lebih menyerupai ilustrasi musik film horror.

Untung saja di luar negeri tak ada kuntilanak, jadi saya tak terlalu takut.